Jakarta –
Kementerian Koperasi (kemenkop) Membeberkan kerugian koperasi Di Sumatera Utara (Sumatera Utara) ditaksir senilai Rp 37,72 miliar akibat bencana Bencana Alam dan tanah longsor. Kerugian itu belum termasuk Di provinsi lain seperti Di Aceh dan Sumatera Barat (Sumbar).
Hal itu diungkapkan Pembantu Presiden Tim Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono Untuk Pertemuan Koordinasi (Rakor) Percepatan Intervensi Transisi Terapi Pasca Bencana Sumatera yang digelar Di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Jumat (2/1).
“Lalu ada 9 koperasi yang menjadi mitra LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) yang terdampak bencana Di total kerugian Rp 20,66 miliar, terdiri Untuk 5 koperasi Di Aceh dan 4 koperasi Di Sumatera Utara,” kata Ferry Untuk keterangan resmi, Minggu (4/1/2026).
Ferry memastikan koperasi-koperasi Di seluruh Indonesia Berencana berperan aktif Untuk Terapi ekonomi dan sosial pasca bencana Di Daerah Sumatera Melewati Gerakan Koperasi Peduli Bencana Sumatera.
Kemenkop Melewati LPDB juga telah memutuskan Sebagai menetapkan Keputusan restrukturisasi pembiayaan Di koperasi-koperasi yang terdampak bencana. Keputusan ini Berencana terus dipantau secara menyeluruh agar beban koperasi yang terdampak bencana dapat diringankan.
“LPDB telah melakukan upaya restrukturisasi pembiayaan Melewati grace periode dan perpanjangan tenor hingga 60 bulan. Hingga Didepan Berencana dilakukan monitoring guna menjaga Sustainability kegiatan usahanya,” tuturnya.
Adapun donasi yang terkumpul Untuk Gerakan Koperasi Peduli Bencana Sumatera mencapai Rp 1,86 miliar. Dukungan telah disalurkan beberapa waktu lalu mencakup kebutuhan dasar seperti pembalut wanita, hygiene kit, toilet portabel, penyulingan air, mainan anak, paket Hidangan bayi, mushaf Al-Qur’an, hingga kain kafan.
“Kami Berencana terus menambah Dana (Dukungan) Sebagai kegiatan Gerakan Koperasi Peduli ini,” tutur Ferry.
Sebagai tindak lanjut Inisiatif Terapi, Kemenkop dan Gerakan Koperasi Berencana membantu pendirian posko-posko Di Aceh Tamiang, Tapanuli Ditengah dan Agam sebagai pusat distribusi Dukungan kepada para korban bencana. Posko tersebut juga Berencana berperan sebagai tempat Sebagai melakukan konsolidasi Untuk berbagai pihak yang siap membantu mengaktifkan kembali kegiatan usaha Untuk koperasi-koperasi eksisting.
“Posko ini Berencana membantu memulai kegiatan produksi ataupun usaha Untuk koperasi yang terdampak, termasuk Memberi layanan suplai kebutuhan Produk-Produk Untuk Hunian Tetap Sambil,” jelas Ferry.
Sebagai upaya memaksimalkan rekonsiliasi berjalan efektif, Ferry menekankan pentingnya pendataan pasca bencana. Ia menyoroti pentingnya basis data presisi agar seluruh Dukungan dan upaya Terapi dapat lebih cepat dan tepat sasaran.
“Sesudah masa darurat, kami memandang perlu Sebagai pendataan menjadi concern. Kalau tidak diselesaikan, Berencana bolak-balik mengulang kegiatan pendataan rekonsiliasi data,” imbuhnya.
Lanjutnya, sebagai Dibagian Untuk strategi Terapi, Kemenkop Berencana memprioritaskan pembangunan gerai, gudang dan Suku Agama Ras Dan Antar Golongan pendukung lainnya Untuk Kopdes/Kel Merah Putih yang terdampak. Di Samping Itu, koperasi Berencana diberikan pendampingan Terapi usaha dan penguatan kelembagaan agar kembali beroperasi sebagai penggerak ekonomi Komunitas.
“Lalu kami bersama Di Kementerian lainnya Berencana mengumpulkan semua koperasi-koperasi Di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh Sebagai bisa memulai kegiatan usahanya termasuk Untuk Komunitas yang terdampak,” imbuh Ferry.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita: Koperasi Rugi Rp 37,72 M Akibat Bencana Alam-Longsor Di Sumatera Utara











