Market  

Bos Bank Asing Blak-Blakan Soal Dampak Gelembung AI




Jakarta, CNBC Indonesia – Demam akal imitasi atau Ai (AI) dikhawatirkan Akansegera mengulangi pecahnya gelembung Keahlian, media, dan Telecom (TMT) Di tahun 2000 lalu. Tetapi, bankir Asing memandang bahwa demam AI berbeda Bersama gelembung TMT.

Chief Investment Officer (CIO) DBS Bank, Hou Wey Fook mengatakan bahwa kekhawatiran Akansegera munculnya pembiayaan sirkular AI banyak disamakan Bersama gelembung TMT. Pada itu perusahaan Telecom gencar memnjiam dan menghabiskan banyak uang Untuk membangun jaringan serat optik yang luas yang Di akhirnya menyebabkan kelebihan kapasitas besar-besaran yang mengakibatkan pecahnya gelembung tersebut. Ia menyoroti bahwa Pada ini uang Di berputar Antara perusahaan-perusahaan AI.

“Apa itu pembiayaan sirkular Di AI? Ini adalah ketika modal berputar Hingga Antara perusahaan AI, penyedia cloud, dan investor. Misalnya, NVIDIA berinvestasi Hingga perusahaan rintisan AI, yang menggunakan platform GPU CUDA-nya Untuk tujuan pelatihan dan inferensi AI. Mula AI ini Sesudah Itu Akansegera mengumpulkan dana Di investor Untuk membeli lebih banyak chip NVIDIA, dan siklus positif ini Akansegera terus berlanjut,” terang Wey Fook Pada media briefing DBS CIO Insights “The Long Game” secara virtual, Senin (12/1/2026).

Ia mengatakan pembiayaan sirkular AI ini tentunya Memperoleh risiko penumpukan AI berlebih. Tetapi, Wey Fook mneybut para CEO perusahaan Keahlian besar setuju, Di tahap awal adopsi AI ini, yang disebut revolusi industri keempat, pembiayaan sirkular diperlukan Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan siklus produk.

“Sekarang, Hingga Antara perusahaan Keahlian besar yang perlu mendanai pembangunan pusat data besar-besaran adalah perusahaan hyperscaler, seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon” ucapnya.

Tidak seperti era dot-com, perbedaan besar kali ini adalah bahwa belanja modal atau capital expenditure (capex) sebagian besar dibiayai Bersama arus kas operasional perusahaan-perusahaan tersebut, dan bukan Di utang besar yang mereka tanggung. Wey Fook mencontohkan Apple dan NVIDIA unggul Hingga sini, Sebab mereka Memperoleh kebutuhan capex yang jauh lebih sedikit Sebab sifat model Usaha mereka.

“Keduanya melakukan outsourcing Produksi chip mereka. Keduanya tidak membutuhkan pusat data yang besar. Model NVIDIA terletak Di IP-nya, kekayaan intelektual Di desain chip, yang menghasilkan pangsa margin kotor yang sangat besar sebesar 78% Untuk setiap chip GPU yang mereka jual,” jelas Wey Fook.

Sambil Itu, model Apple terletak Di ekosistemnya yang terdiri Di Disekitar 2,5 miliar Gadget aktif yang terikat Bersama pendapatan margin tinggi yang berulang Di layanannya, seperti App Store, iCloud, AppleCare, ApplePay, TV, Music, dan banyak lagi. Bersama Sebab Itu, Untuk setiap iPhone yang dijual Apple, pangsa margin kotornya sangat besar, yaitu 59%.

Wey Fook melanjutkan, pecahnya gelembung dot-com sepenuhnya disebabkan Bersama ekspektasi Perkembangan pendapatan yang berlebihan, yang tidak terwujud.

Tetapi, berbeda Bersama sekarang, Pada itu ada banyak sekali perusahaan rintisan, seperti Pets.com yang terkenal, yang sahamnya sebenarnya melonjak Sesudah IPO, tetapi segera Sesudah itu jatuh Hingga nol Sebab tidak Memperoleh pendapatan.

“Jika kita melihat perusahaan-perusahaan Keahlian besar, mereka telah dan diperkirakan Akansegera menghasilkan Perkembangan pendapatan dua digit yang mengesankan Di beberapa tahun mendatang Bersama visibilitas yang cukup tinggi. Bersama Sebab Itu, kami berpendapat bahwa AI tidak berada Di gelembung,” tuturnya.

Hingga AS, Wey Fook menyebut Perkembangan tambahan terbesar Akansegera berasal Di pengeluaran paket Kunci Yang Terkait Bersama AI. Tanpa itu, Perkembangan Perkembangan ekonomi total AS Akansegera lesu Sebab mesin konsumsi dan perumahan diperkirakan Akansegera lemah Di tahun 2026.

Meski demikian, Wey Fook menggarisbawahi pengeluaran capex yang besar dan berkelanjutan Akansegera menjadi hambatan besar Untuk margin keuntungan, dan itu dapat menyebabkan koreksi harga saham-saham Keahlian.

“Tetapi kami melihat lintasan jangka panjang Untuk Perkembangan pendapatan dua digit tetap utuh. Bersama Sebab Itu, tetaplah berinvestasi Hingga perusahaan-perusahaan AI terbaik hingga tahun 2026,” kata dia.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Bos Bank Asing Blak-Blakan Soal Dampak Gelembung AI