loading…
Para pekerja berjalan kaki Di shelter transportasi umum Pada jam pulang kantor Di Jakarta, Rabu (28/5/2025). FOTO/dok.SindoNews
IMF menilai perubahan cepat akibat AI berisiko memperlebar kesenjangan jika tidak diimbangi Aturan yang tepat. Kekhawatiran mencakup hilangnya pekerjaan, penggusuran pekerjaan, penurunan Kemungkinan Untuk kelompok rentan dan tekanan Pada pekerja Bersama Kemahiran yang tidak lagi relevan.
“Hampir 40 persen pekerjaan Internasional Berusaha Mengatasi gangguan Di kecerdasan buatan,” tulis Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva Di sebuah postingan blog yang diterbitkan Ke 14 Januari dikutip Di Chosun, Minggu (18/1/2026).
Baca Juga: Belum Ada Regulasi, Penggunaan AI Berpeluang Ancam Ham
Di tulisannya, Georgieva menyerukan “Aturan proaktif dan komprehensif” Untuk memastikan manfaat AI dapat dibagikan secara luas. Ia menilai kekhawatiran Yang Berhubungan Bersama hilangnya pekerjaan dan menyempitnya Kemungkinan ekonomi Untuk kelompok tertentu kini “Lebih akut”.
Eksperimen terbaru IMF yang Meneliti jutaan lowongan pekerjaan daring Menunjukkan satu Di 10 lowongan Di Negeri maju dan satu Di 20 Di Negeri berkembang kini mensyaratkan setidaknya satu Kemahiran yang hampir tidak ada satu dekade lalu. Permintaan tersebut terutama didorong Dari peran profesional, teknis, dan manajerial, Bersama kompetensi Ilmu Pengetahuan informasi menyumbang lebih Di separuh Kemahiran Terbaru.
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Ledakan AI Guncang Pasar Kerja Internasional, 40% Pekerjaan Manusia Terancam











