Jakarta, CNBC Indonesia – Memperoleh Tempattinggal super besar tentu saja tak bisa diurus seorang diri. Pemilik Tempattinggal mau tidak mau memanggil orang lain Untuk membantu pekerjaan domestik. Hal ini pula yang dilakukan orang kaya asal Eropa yang tinggal Ke Jakarta Di tahun 1770-an, yakni Reinier de Klerk.
Dia tercatat Memperoleh 200 pekerja Tempattinggal tangga (PRT) atau pembantu yang Di masa itu disebut budak atau babu. Sebagai informasi, de Klerk merupakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda periode 1778-1780. Selain menjadi penguasa, dia juga Memperoleh Usaha dan kerap memamerkan kekayaan lewat Tempattinggal-Tempattinggal besar nan mewah.
Salah satu rumahnya berada Ke kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Bangunan tersebut sekarang dialihfungsikan menjadi Gedung Arsip Nasional.
Tempattinggal besar itu tentu tak diurus seorang diri. Seperti lazimnya orang Eropa lain Di masa tersebut, de Klerk mempekerjakan ratusan pembantu. Seluruh pekerja itu tinggal Ke Tempattinggal-Tempattinggal sederhana yang disediakan Ke Di kediamannya.
“Ke Tempattinggal-Tempattinggal sederhana Di perkarangan de Klerk, misalnya, ratusan budak tinggal Ke sana,” ungkap Adolf Heuken Untuk Tempat-Tempat Bersejarah Ke Jakarta (2016).
Ratusan pekerja tersebut dibagi Ke Untuk tugas yang rinci. Ada yang mengurus pekerjaan Tempattinggal tangga seperti menyapu, mencuci, dan memasak. Ada pula yang bekerja Ke luar Tempattinggal Untuk mengelola kebun dan lahan. Malahan, belasan pembantu ditugaskan khusus memainkan alat Bunyi guna menghibur tamu.
Sayangnya, de Klerk juga dikenal kerap bertindak kasar Di para pembantunya. Salah satu kisah paling populer Yang Terkait Didalam hal ini datang Untuk seorang pembantu bernama Leendert Miero.
Miero merupakan pemuda Yahudi asal Rusia yang datang Ke Batavia Di 1775. Dia Setelahnya Itu bekerja sebagai pembantu Ke Tempattinggal mewah milik de Klerk.
Akan Tetapi, Setelahnya tiga tahun bekerja, Miero melakukan Kesalahan Individu yang membuat bosnya murka. Dia ketahuan tertidur Di bekerja. De Klerk yang marah besar Setelahnya Itu menghukumnya Didalam pukulan dan cambukan sebanyak 50 kali.
Peristiwa itu membuat Miero bersumpah Akansegera membalas perlakuan sang bos. Akan Tetapi, balas dendam yang dimaksud bukan lewat Kekejaman, melainkan lewat kesuksesan dan kekayaan.
“Untuk nenek moyang Abraham, Ishak dan Yakub, suatu hari saya bakal beli seluruh Tempattinggal dan tanah ini!”
Miero lalu memutuskan berhenti menjadi pembantu dan beralih menjadi pengusaha emas. Tekadnya perlahan membuahkan hasil. Beberapa tahun Setelahnya Itu, dia berhasil menjadi pengusaha sukses.
Sejarawan Herald van de Linde Untuk Jakarta: History of Misunderstood City (2020) menceritakan, Di 1818, Miero berhasil membeli properti milik Reinier de Klerk. Dia Malahan rutin Melakukan pesta besar setiap tahun Ke Tempattinggal tersebut sebagai bentuk peringatan atas peristiwa yang pernah dialaminya.
“Setiap tahun, Miero rutin Melakukan pesta besar Ke Tempattinggal itu, tepat Ke hari ia pernah dihukum cambuk, sebagai bentuk peringatan,” tulis Herald van de Linde.
Kesuksesan lain yang membuat bekas pembantu de Klerk itu tercatat Untuk sejarah adalah kepemilikan lahan luas Ke selatan Batavia. Ke sana, dia membangun Tempattinggal megah yang Setelahnya Itu dikenal Komunitas Didalam nama ‘Pondok Gede’.
Kini, nama tersebut menjadi toponim kawasan Pondok Gede Ke Jakarta Timur.
(mfa/mfa)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Orang Kaya Ke Jakarta Punya 200 PRT Tapi Kasar-1 Akhirnya Balas Dendam











