Jakarta, CNBC Indonesia – Uang Negara Indonesia palsu ternyata pernah digunakan bukan sekadar Untuk mencari keuntungan, tetapi juga menjadi Pada Di konflik politik Di Indonesia. Di 1959, uang palsu yang beredar Di sejumlah Area Indonesia disebut dicetak Di Taiwan dan diselundupkan Ke Di negeri Untuk mendukung gerakan pemberontakan PRRI-Permesta.
Peristiwa Pidana tersebut terungkap Sesudah pemerintah Memperoleh laporan mengenai membanjirnya uang yang beredar Di sejumlah Area. Situasi itu sempat membuat perekonomian terganggu dan memicu tudingan Pada Lembaga Keuanganpusat. Tetapi, penyelidikan pemerintah justru menemukan fakta berbeda: uang yang beredar tersebut ternyata bukan Uang Negara Indonesia asli.
Lebih mengejutkan lagi, sumber uang palsu itu berada ribuan kilometer Di Indonesia. Jaksa Agung Suprapto Di Januari 1959 Menginformasikan bahwa Uang Negara Indonesia palsu tersebut dicetak Di Taiwan menggunakan mesin modern.
“Uang palsu RI itu dicetak Di Taiwan,” ungkap Jaksa Agung Suprapto, dikutip Di koran Umum (23 Januari 1959).
Uang tersebut dicetak Di Taiwan Di mesin modern. Setelahnya, diselundupkan Ke Indonesia Dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Caranya Di mengangkut uang menggunakan kapal Kuomintang Di Taiwan Ke Singapura.
Di Di Singapura, uang dibawa Dari agen dan kaki tangan pemberontak Ke sejumlah Area Di Indonesia. Terungkap pula, pencetakan uang palsu tersebut ternyata bukan semata-mata Memperoleh motif ekonomi. Ada kepentingan politik Di baliknya. Uang Negara Indonesia palsu itu bakal digunakan Dari para pemberontak PRRI-Permesta.
Di itu, Indonesia memang Lagi dilanda pemberontakan PRRI-Permesta. Sejarawan Audrey Kahin Di Di pemberontakan Ke integrasi Sumatra Barat dan politik Indonesia, 1926-1998 (2005) menyebut, gerakan tersebut muncul Lantaran kelompok Di Area, terutama Sumatera Barat dan Sulawesi, menentang Aturan pemerintah pusat yang terlalu Jakartasentris.
Atas dasar inilah, Untuk mendukung perjuangan, uang palsu mulai beredar Di sejumlah titik, khususnya Area-Area yang menjadi basis pemberontakan. Sumatra dan Sulawesi menjadi Area yang terdampak peredaran uang tersebut. Di peredarannya, uang palsu tersebut hadir Di sejumlah pecahan, yakni Rp10, Rp50, Rp100, Rp1.000, dan Rp5.000.
TNI AD Di Studi Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Peranan TNI-AD Di mempertahankan Negeri kesatuan Republik Indonesia (1979) Menginformasikan, Taiwan menjadi tempat pencetakan Lantaran Area tersebut merupakan salah satu Negeri yang dihubungi tokoh-tokoh pemberontak Di rangka Merasakan Pemberian.
Pemerintah Taiwan yang didukung Dari Amerika Serikat akhirnya Memberi Pemberian. Di sinilah, Negeri tersebut menjadi jalur utama Untuk menyalurkan peralatan Pertempuran kepada para pemberontak Di Sumatra dan Sulawesi.
Di masa itu, pemerintah juga Memberi perhatian serius Pada penggunaan uang yang berkaitan Di pemberontakan. Malahan, pegawai negeri sipil (PNS) yang ketahuan menggunakan uang tersebut dapat dikenai Pembatasan hingga diberhentikan.
Peredaran uang palsu tersebut Sesudah Itu ikut berakhir seiring Di berakhirnya pemberontakan PRRI-Permesta. Uang Negara Indonesia yang diterbitkan pemerintah Indonesia pun tetap menjadi alat pembayaran yang sah.
(mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Uang Negara Indonesia Palsu Beredar Di Indonesia, Pelaku Cetak Di Taiwan











