Jakarta –
Untuk beberapa tahun terakhir, Kecerdasan Buatan (AI) atau kecerdasan buatan berkembang sangat cepat dan kini Lebih mudah diakses Komunitas luas. Ke dunia fotografi, kehadiran AI memunculkan dua reaksi yang berlawanan. Ke satu sisi menjanjikan efisiensi dan kemudahan kerja, Ke sisi lain menimbulkan kekhawatiran Akansegera tergesernya peran fotografer profesional.
AI bukan lagi sekadar alat bantu teknis, tetapi telah menjadi Keahlian yang Berpeluang mengubah cara foto dibuat, diproses, hingga dimaknai. Sebagian fotografer sedikit banyak Mengetahui perkembangan Keahlian AI Akansegera mempercepat pekerjaan mereka, tapi juga ada perasaan khawatir bahwa Keahlian ini Ke akhirnya menggantikan pekerjaan mereka.
Untuk pengamatan saya, AI Untuk fotografi Pada ini bisa berfungsi sebagai pembantu (assistant) atau juga Untuk membuat gambar (generator). AI sebagai pembantu sangat berguna Untuk mempercepat kerja dan efisiensi, terutama Untuk proses editing dan post processing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalnya Untuk foto portrait, software AI dapat mendeteksi dan menghilangkan ketidaksempurnaan Ke wajah, misalnya jerawat. AI juga bisa menghapus noda Ke background, Memangkas kerutan Ke Busana, Memangkas noise, merapikan rambut, dan sebagainya.
|
Kiri: Sebelumnya, Kanan: Setelahnya diproses kulit wajah lebih bersih tapi tekstur kulit tetap terjaga. Foto: Enche Tjin
|
Kiri: original Di Lensa, Kanan: Kerutan Ke Busana lebih halus, wajah lebih bersih dan rambut lebih rapi. Foto: Enche Tjin |
Untuk Informasi Mutakhir, AI juga mampu memilihkan foto-foto yang ‘keeper’ atau layak diproses Di Detail. Misalnya, AI bisa memilihkan gambar yang tajam, atau yang latar belakangnya blur, atau Pada foto manusia, memilihkan wajah Di mata yang terbuka, yang Mungkin Saja sangat berguna Untuk memilih foto keluarga.
Selain kemampuan asistensi, AI juga banyak digunakan Untuk membuat gambar Di nol Lewat instruksi perintah yang disebut ‘prompt.’ Kemampuan ini saya sebut saja sebagai AI generator.
AI generator belakangan ini cukup kontroversial Sebab kemampuannya membuat gambar yang ‘photo-realistic’ mengaburkan realitas Di dunia maya, dan potensi menimbulkan disinformasi (Propaganda).
Di Itu, AI generator Berpeluang menggantikan peran fotografer terutama profesional Ke bidang foto portrait. Contohnya, bermodal foto selfie, seseorang bisa meminta AI mengganti Busana Di Busana formal dan mengganti latar Dibelakang sesuai kebutuhan, baik yang sederhana seperti warna putih, atau yang lebih rumit seperti Ke atap pencakar langit.
Lambat laun, kebutuhan Untuk ‘pas foto’ atau corporate headshot menjadi berkurang atau hampir tidak ada. Demikian juga Untuk foto produk seperti Konsumsi. AI Akansegera mudah men-generate foto-foto Konsumsi yang umum Di mudah dan sempurna.
AI generator tidak semuanya jelek Untuk fotografer atau pekerja Karyaseni, Sebab generator bisa digunakan Untuk mencari inspirasi dan mood board supaya komunikasi Hingga klien dan Skuat produksi bisa lebih baik.
Seperti Keahlian disruptif lainnya, Keahlian AI seperti pedang bermata dua. Jika digunakan Di baik, Akansegera Memperbaiki efisiensi dan produktivitas. Pekerjaan yang membutuhkan waktu berjam-jam, Pada ini hanya membutuhkan waktu beberapa menit.
Fotografer yang mengabaikan Keahlian AI bisa tertinggal Untuk hal produktivitas dan efisiensi. Ke sisi lain, jika digunakan Untuk membuat hal-hal yang tidak baik seperti manipulasi dan disinformasi, dapat menimbulkan kesalahpahaman dan gejolak Untuk Komunitas yang tidak perlu.
(rns/rns)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita: AI Mulai Gantikan Peran Fotografer, Haruskah Kita Khawatir?












