Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berbicara mengenai Trend Populer generasi muda terjebak “gali lubang tutup lubang” utang. Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Pelatihan, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono mengatakan banyak anak muda terjebak utang Lantaran melakukan berbagai pinjaman atau multi borrowing guna menyokong Life Style.
Menyikapi Trend Populer ini, Dicky Mengungkapkan OJK senantiasa melakukan strategi secara komprehensif yang mencakup Pelatihan dan literasi Untuk sisi Upaya Mencegah hingga sinergi kolaborasi Bersama industri. Strategi itu terdiri Untuk tiga langkah.
Pertama, OJK terus menggunakan berbagai kanal, terutama Ilmu Pengetahuan. Dicky mengatakan Untuk Situasi Ini, OJK punya Learning Management System Pelatihan keuangan yang kemudahan Sebagai aksesnya tinggi dan tersedia 24×7.
“Ini bisa terus digunakan Sebagai bagaimana melihat berbagai prinsip-prinsip kehati-hatian, bagaimana pengelolaan keuangan, terutama kita Mengadakan rasio Yang Berhubungan Bersama Bersama misalnya penggunaan disposable income yang aman Sebagai pembayaran hutang, Sebagai repayment capacity-nya,” ujar Dicky Untuk Konferensi Pers RDKB April 2026, Jumat (5/6/2026).
OJK juga Berpeluang Mengadakan berbagai pendekatan-pendekatan mulai Untuk porsi keuangan yang bisa digunakan Sebagai membayar kembali utang. Di lain, Prototipe Debt to Income Ratio-nya atau Debt to Burden Ratio.
“Biasanya kita berikan rumusan bahwa disposable income itu yang paling aman ya paling 30-50% yang penting Sebagai repayment capacity Pada pinjaman. Karena Itu tentunya kita gunakan semua kata, mengikuti semua upaya yang sepertinya terluka, upaya kita melakukan Pelatihan,” tutur Dicky.
Menurutnya, OJK sudah melaksanakan Langkah Pelatihan Hingga berbagai komunitas secara masif. Samping Itu, para pelaku usaha jasa keuangan yang Memiliki eksposur Pada pinjaman agar tidak terlalu banyak melakukan pinjaman dan tidak menerapkan prinsip kehati-hatian.
“Sinergi kolaborasi Bersama pelaku industri dan tentunya mereka juga harus melihat bahwa repayment capacity ini tentunya menjadi satu pegangan Sebagai bagaimana menjaga stabilitas,” papar Dicky.
Strategi kedua, OJK memanfaatkan Ilmu Pengetahuan Bersama berkoordinasi Bersama lintas lembaga Sebagai Menyimak keseluruhan eksposur multi-borrowing agar tidak terus terakumulasi.
Dicky mengatakan pihaknya juga terus Memperbaiki Mutu skor kredit Hingga Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Tetapi hal ini tidak serta merta dapat dilakukan, perlu waktu dan persiapan Sebagai memperkuat Ilmu Pengetahuan dan pengawasan.
Ketiga, OJK Berencana terus meminta industri Sebagai menerapkan prinsip-prinsip kehati-hatian, serta berkoordinasi bagaimana penerapan Syarat transparansi Yang Berhubungan Bersama Bersama bunga, biaya, dan juga eksposur risiko yang harus dipahami Dari Komunitas.
“Terutama masa seperti sekarang ini, Hingga mana Kepuasan ekonomi tidak Untuk Kepuasan yang kira-kira bisa berlebihan Sebagai Memberi pinjaman, ini tentunya harus diikuti Bersama manajemen risiko yang kuat,” terang Dicky.
(ayh/ayh)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Anak Muda RI Kesenangan ‘Gali Lubang Tutup Lubang’, Bos OJK Lakukan Ini











