AS Batal Invasi Darat, Pilih Jatuhkan Bom Nuklir Untuk Akhiri Pertempuran




Naskah ini merupakan Dibagian Untuk CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah Untuk menjelaskan Situasi masa kini lewat relevansinya Di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Keinginan Amerika Serikat (AS) mengakhiri Pertempuran Iran lebih cepat bukan sekadar omong kosong. Untuk sejarah, Washington pernah Membahas langkah paling ekstrem Untuk memaksa konflik selesai Sesudah rentetan ultimatum gagal, yakni Mengintroduksi bom nuklir alih-alih invasi darat.

Catatan kelam itu terjadi Ke Juli-Agustus 1945, ketika Pertempuran Dunia II (1939-1945) Di front Pasifik melawan Jepang belum juga berakhir. Seperti ancaman militer Donald Trump Di Iran hari ini, Ri AS Harry S. Truman (1945-1953) bersama Sekutu Menerbitkan ultimatum Melewati Deklarasi Potsdam.

Jepang diminta menyerah tanpa syarat atau Berencana Berjuang Didalam “kehancuran cepat dan total.” Akan Tetapi, tak ada tanda-tanda Jepang bersedia menyerah, meski Pertempuran telah memakan korban besar. Berjuang Didalam ini, awalnya Pentagon telah menyiapkan invasi darat besar-besaran Di daratan utama Jepang, Didalam serangkaian operasi yang direncanakan sepanjang 1945.

Akan Tetapi, skenario invasi darat itu dinilai terlalu mahal. Tentara Jepang dikenal siap mati Untuk kaisar dan negaranya. Para perencana militer AS Meramalkan pendaratan pasukan Berencana memicu Pertempuran panjang yang menguras waktu, biaya, dan menimbulkan korban jiwa Untuk jumlah luar biasa.

Mengutip situs Truman Library, ketika ancaman menyerah tetap diabaikan Jepang, 11 hari Lalu, tepat Ke 6 Agustus 1945, Truman Membahas langkah paling kontroversial Untuk sejarah agar Pertempuran berakhir lebih cepat, yakni Menyediakan bom nuklir.

Alhasil, Di hari yang sama, bom pertama, Little Boy, dijatuhkan Di Hiroshima. Lalu, tiga hari Lalu, AS kembali Menyediakan bom kedua bernama Fat Man Di Nagasaki. Untuk hitungan menit, kedua kota itu hancur tak bersisa.

Mengutip situs Britannica, tercatat ada 70.000-140.000 orang tewas Di Hiroshima. Sambil Di Nagasaki, ada 40.000-80.000 korban tewas. Ini belum memperhitungkan ratusan ribu warga lain yang Merasakan efek radiasi jangka panjang.

Beberapa hari Lalu, serangan nuklir menjadi titik balik Pertempuran. Kaisar Jepang, Hirohito, akhirnya menyerah Ke 15 Agustus 1945 dan menandai berakhirnya Pertempuran Dunia II Di Pasifik. Penyerahan resmi diteken Ke 2 September 1945 Di atas kapal Pertempuran USS Missouri Di Teluk Tokyo.

Meski demikian, keputusan AS Menyediakan bom nuklir Untuk mengakhiri Pertempuran tetap menjadi perdebatan hingga hari ini.

Salah satunya diungkap sejarawan Sergery Rachenko  Untuk tulisan berjudul “Did Hiroshima Save Japan From Soviet Occupation?”. Menurutnya tindakan itu tidak hanya soal memaksa Jepang menyerah, tetapi juga sebagai ajang unjuk kekuatan Di hadapan Uni Soviet, yang Di itu diperkirakan Berencana ikut melakukan invasi darat dan Dikatakan Rival Paman Sam. 

Dampak jangka panjangnya pun terasa sampai kini. Peluncuran bom nuklir memicu perlombaan senjata Internasional dan meninggalkan bayangan ancaman nuklir Di setiap ketegangan internasional.

Sampai sekarang, pemerintah AS tidak pernah meminta maaf atas peluncuran senjata nuklir yang pertama dan satu-satunya Di dunia tersebut. 

(mfa/sef)



Add



as a preferred

source on Google



Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: AS Batal Invasi Darat, Pilih Jatuhkan Bom Nuklir Untuk Akhiri Pertempuran

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/