Berkat Ikuti Ajaran Al-Quran, Jaksa Ini Ditakuti Para Koruptor




Jakarta, CNBC Indonesia – Keteguhan mengikuti ajaran Al-Qur’an membuat Baharuddin Lopa bukan sekadar dikenal sebagai jaksa, tetapi simbol ketakutan Untuk para koruptor. Berbekal iman, keberanian, dan integritas, Lopa tampil sebagai penegak hukum tanpa kompromi, tak pandang bulu, tak gentar ancaman, dan tak pernah mundur Pada berhadapan Bersama kejahatan kelas kakap.

Lopa memulai kariernya sebagai jaksa Ke 1958 Ke Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar. Sebelum awal pengabdian, ia sudah dikenal keras Di pelaku kejahatan, terutama Kejahatan Keuangan dan penyelundupan. Di pandangannya, hukum bukan sekadar aturan administratif, melainkan instrumen keadilan yang harus ditegakkan Untuk melindungi rakyat dan menyelamatkan uang Bangsa.

Kariernya diwarnai berbagai penugasan lintas Area. Bersama Sulawesi Selatan, ia sempat dipindahkan jauh Ke Aceh. Laporan Kompas (17 April 1983) menyebut pemindahan itu diduga terjadi Sebab Lopa Berusaha Menyita salah satu kepala kantor Area. Permasalahan tersebut tak pernah ia gubris. Baginya, tugas jaksa adalah bekerja, bukan mengurus Rumor kekuasaan.

Ke Tanah Rencong, justru reputasinya Lebih menguat. Pada Di 3,5 tahun bertugas, Lopa berhasil Membeberkan berbagai Tindak Kejahatan penyelundupan kayu dan beras yang merugikan Bangsa hingga miliaran Uang Negara Indonesia. Penindakan itu membuatnya disegani aparat, sekaligus ditakuti para pelaku kejahatan ekonomi.

Ke balik ketegasannya, Lopa selalu menegaskan bahwa keberaniannya bersumber Bersama ajaran agama. Ia secara terbuka menyebut Surah An-Nisa ayat 135 sebagai pegangan hidup. Ayat tersebut memerintahkan umat Islam Untuk berlaku adil dan menjadi penegak keadilan, Malahan Di diri sendiri dan keluarga.

“Bila saya Akansegera bertindak sesuatu, selalu saya berpegang bahwa nasib saya Ke tangan Tuhan. Yang penting kebenaran harus ditegakkan. Bahwa ada risiko yang Mungkin Saja menimpa saya, termasuk Kejahatan Keji, itu sudah saya serahkan kepada Tuhan,” ujar Lopa kepada Kompas (17 April 1983).

Prinsip itu membuatnya tak pernah pandang bulu Di menumpas kejahatan. Ia tak membedakan pelaku kecil atau besar, rakyat biasa atau pejabat. Semua setara Ke hadapan hukum. Sikap inilah yang membuatnya sering Merasakan ancaman, termasuk ancaman Kejahatan Keji. Akan Tetapi, Untuk Lopa, takut hanya Akansegera melemahkan keadilan.

Selain nilai keagamaan, Lopa juga menegaskan bahwa Indonesia adalah Bangsa hukum. Menurutnya, hukum harus ditegakkan kapan pun dan Di Situasi apa pun. Jika benteng terakhir penegakan hukum runtuh, rakyatlah yang Akansegera menjadi korban Sebab harus menanggung ketidakadilan dan kesewenang-wenangan kekuasaan.

Keberanian dan integritas itu terus mengangkat kariernya hingga akhirnya ia dipercaya menjadi Jaksa Agung Ke Juni 2001. Ia diangkat Bersama Kepala Negara Abdurrahman Wahid Ke Ditengah Permintaan reformasi besar-besaran Untuk membersihkan Indonesia Bersama praktik Kejahatan Keuangan yang mengakar Sebelum era Orde Terbaru.

Menurut Suara Pembaruan (4 Juli 2001), Sebelum hari pertama menjabat, Tatakan kerja Lopa langsung dipenuhi berkas penyelidikan Tindak Kejahatan Kejahatan Keuangan besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tinggi Bangsa. Ia bekerja tanpa mengenal waktu, Bersama pagi hingga larut malam, tanpa memedulikan siapa yang merasa terancam.

Di Bacaan Kejahatan Kejahatan Keuangan dan Penegakan Hukum (2001), Lopa Malahan mengakui bahwa banyak pihak ketakutan Bersama pengangkatannya sebagai Jaksa Agung.

“Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, Agar logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” ungkapnya.

Akan Tetapi, masa tugasnya Ke puncak karier sangat singkat. Ke 2 Juli 2001, Lopa jatuh sakit Pada Berpartisipasi Di serah terima jabatan Duta Besar RI sekaligus menunaikan ibadah umrah. Ia Merasakan mual, muntah, lalu tak sadarkan diri. Keesokan harinya, 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa meninggal dunia. Meski sempat muncul spekulasi, Ahli Kebugaran menyebut ia wafat akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan kerja.

Meski hanya sebulan menjabat sebagai Jaksa Agung, warisan Lopa jauh melampaui masa tugasnya. Ia dikenang bukan Sebab jabatan, melainkan Sebab keberanian moral dan keteguhan iman. Sosok jaksa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas keadilan, hukum sebagai senjata, dan integritas sebagai tameng.

(mfa/mfa)



Add



as a preferred

source on Google



Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Berkat Ikuti Ajaran Al-Quran, Jaksa Ini Ditakuti Para Koruptor

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/