Bukan Sulap! Begini Jatuh Bangun RI Terbukti Bisa Swasembada Beras




Jakarta, CNBC Indonesia – Pemimpin Negara Prabowo Subianto mendeklarasikan Indonesia berhasil mencapai swasembada Ketahanan Pangan tahun 2025. Ditandai Bersama tidak adanya Perdagangan Masuk Negeri beras sepanjang tahun 2025, Bersama posisi stok yang cetak Pencapaian serta produksi yang melampaui kebutuhan. 

“Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya, diundang hari ini Di Peristiwa panen raya, dan pengumuman resmi bahwa Indonesia berhasil kembali menjadi bangsa yang swasembada Ketahanan Pangan,”kata Prabowo, Rabu (7/1/2025).

Capaian ini mengingatkan publik Di peristiwa bersejarah 41 tahun lalu ketika Indonesia Di bawah kepemimpinan Pemimpin Negara Soeharto Sebagai pertama kalinya mencapai swasembada beras. Kala itu, Sukses tersebut tak hanya mengubah posisi Indonesia Di dunia yang turut membantu mengatasi masalah Ketahanan Pangan Dunia, tetapi juga mengantarkan Soeharto memperoleh Apresiasi internasional.

Apresiasi ini menjadi jawaban atas ramalan negatif banyak orang soal Kebugaran Ketahanan Pangan RI. Dari tahun 1970-an, Indonesia Dikatakan tak bisa swasembada beras Sebab tergolong Negeri miskin dan Dikatakan Berencana selalu Perdagangan Masuk Negeri. Terlebih, Indonesia sering dilanda krisis beras akibat kegagalan panen. Menurut majalah Yudhagama (1979), Kebugaran terburuk terjadi Di 1977. Di itu, Indonesia harus membeli Di seperempat Bersama total Produk Ekspor beras dunia atau Di 2 juta ton. Situasi serupa kembali terulang Di 1980.

Perubahan Terbaru terjadi Di dekade 1980-an.  Pemerintah Orde Terbaru Lalu menempatkan beras sebagai prioritas utama pembangunan. Langkah intensifikasi Agrikultur digencarkan. Mulai Bersama pembangunan jaringan irigasi, penggunaan bibit unggul, hingga penyediaan pupuk bersubsidi. Upaya ini membuahkan hasil. Produksi beras nasional melonjak dan mencapai puncaknya Di 1984 ketika Indonesia dinyatakan swasembada beras.

Di itu produksi beras nasional telah mencapai 25,8 juta ton dan setahun Lalu diprediksi Berencana menjadi 26,3 juta ton. Jumlah ini Dikatakan surplus Sebab konsumsi tahunan Komunitas hanya 23 juta ton. Untuk laporan Kompas (16 November 1985), Soeharto menyebut pencapaian ini tidak Sebagai 1-2 tahun saja, melainkan Sebagai selamanya. Sebab, urusan Ketahanan Pangan adalah hal mutlak Sebab bisa membawa stabilitas. 

“Kita memang memprioritaskan pengisian perut dulu, Sebab Bersama itu dapat dicapai ketenangan,” ungkap Soeharto.

Sukses tersebut Merasakan pengakuan internasional. Di 14 November 1985, Badan Ketahanan Pangan dan Agrikultur Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mengundang Pemimpin Negara Soeharto Sebagai berbicara Di hadapan Negeri-Negeri anggota mengenai transformasi Indonesia Bersama Negeri krisis menjadi Negeri swasembada beras. Untuk pidatonya, Soeharto menegaskan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif bangsa.

“Jika pembangunan Ketahanan Pangan kami dapat dikatakan mencapai Sukses, maka hal itu merupakan kerja raksasa Bersama suatu bangsa secara keseluruhan,” kata Soeharto, dikutip Bersama Pemimpin Negara RI Di II Jenderal Besar H.M. Soeharto Untuk berita: 1985-1986 (2008).

Di kesempatan yang sama, Indonesia Malahan menyerahkan Pemberian 100.000 ton beras kepada korban Ketahanan Pangan Di Afrika. Setahun Lalu, FAO menganugerahkan Apresiasi khusus kepada Soeharto berupa medali emas bertuliskan “From Rice Importer to Self-Sufficiency” Di 1986.

“Penerbitan medali tersebut sebagai Apresiasi kepada Pemimpin Negara RI dan memperingati Sukses Indonesia Di bidang Agrikultur, khususnya Sukses swasembada beras,” ujar Pembantu Pemimpin Negara Agrikultur Ahmad Affandi, dikutip Bersama surat kabar Berita Yudha (17 April 1986).

Meski demikian, Studi “Analisis Perdagangan Masuk Negeri Beras Di Indonesia Periode 1980-2010” (2001) mencatat swasembada beras tidak berarti Perdagangan Masuk Negeri benar-benar dihentikan. Di tahun yang sama, Indonesia masih mengimpor beras Untuk jumlah terbatas Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Produksi beras nasional Di itu mencapai Di 25 juta ton, Sambil konsumsi domestik berada sedikit Di bawah 27 juta ton. Kekurangan Di dua juta ton inilah yang ditutup Lewat Perdagangan Masuk Negeri.

Sayangnya, kejayaan swasembada beras tidak berlangsung lama. Memasuki akhir 1980-an, Indonesia kembali membuka keran Perdagangan Masuk Negeri beras Untuk skala besar. Anne Booth Untuk Literatur Ekonomi Orde Terbaru (1990) mencatat, perubahan ini dipicu Bersama pergeseran arah pembangunan nasional.

Dari 1988, pemerintah mulai memprioritaskan industrialisasi dibandingkan sektor Agrikultur. Dampaknya, banyak lahan Agrikultur beralih fungsi, Sambil Penanaman Modal Asing dan perhatian Di sektor Ketahanan Pangan menurun. Pemerintah kala itu menilai sektor industri lebih menjanjikan secara ekonomi, Sambil kebutuhan beras Dikatakan masih dapat dipenuhi Lewat Perdagangan Masuk Negeri.

(mfa/mfa)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Bukan Sulap! Begini Jatuh Bangun RI Terbukti Bisa Swasembada Beras