Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Negara China Xi Jinping kembali mengguncang tubuh militer negaranya. Sejumlah elite Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) disingkirkan Di tuduhan Kartu Kuning berat disiplin dan hukum.
Paling mengejutkan, tentara kepercayaan Xi, Jenderal Zhang Youxia, ikut terseret Di pusaran pembersihan tersebut. Di tersingkirnya sejumlah petinggi, struktur pucuk militer China kini menyisakan sangat sedikit jenderal aktif.
Situasi ini pun memicu spekulasi luas. Termasuk dugaan adanya kudeta sunyi Di tubuh militer China.
Akan Tetapi jika menengok sejarah Republik Rakyat China, dugaan tersebut tidak sepenuhnya sejalan Di pola masa lalu. China nyaris tak pernah Merasakan kudeta militer terbuka.
Di sejarahnya, hanya satu sosok yang kerap disebut-sebut- setidaknya menurut versi resmi pemerintah- pernah berniat menggulingkan pemimpin tertinggi. Sosok itu adalah Lin Biao.
Menurut Kajian “The Lin Biao Incident: More Than Twenty Years Later” (1993), Lin Biao bukan jenderal biasa. Sebagai Pembantu Presiden Pembantu Presiden Lini Pertahanan, dia menjadi tokoh sentral Di menyusun pengkultusan Mao Zedong Melewati pendistribusian “Bacaan Merah Kecil” Hingga seluruh prajurit militer dan Komunitas luas.
Dampaknya sangat besar. Jutaan warga China mengagungkan Mao sebagai simbol revolusi yang secara tidak langsung memperpanjang dan mengokohkan kekuasaannya.
Sebagai imbalan atas peran tersebut, Lin diangkat menjadi Wakil Ketua Pertama Partai Komunis China. Posisi ini menjadikannya orang nomor dua Sesudah Mao sekaligus penerus resmi kekuasaan.
Di bertahun-tahun, Lin hampir tak pernah jauh Di Mao dan memimpin berbagai inisiatif utama Revolusi Kebudayaan. Puncaknya terjadi Di 1969, ketika Mao secara resmi Mengintroduksi Lin sebagai penerus suksesi kepemimpinan.
Jika Mao mangkat, Lin-lah yang Berencana menjadi orang nomor satu Di China. Akan Tetapi dua tahun berselang, hubungan keduanya justru memburuk.
Menurut situs The China Project, Lin Lebihterus khawatir Revolusi Kebudayaan merusak stabilitas dan profesionalisme militer. Penilaian ini ditanggapi dingin Dari Mao yang mulai mencurigai Lin menyimpan ambisi politik.
Mao Justru secara terbuka menuding Lin telah melakukan “Kegagalan politik” lewat rancangan kudeta Di sandi “Project 571”. Ide tersebut mencakup berbagai skenario ekstrem.
Mulai Di meledakkan kereta pribadi Mao, melakukan penyergapan, hingga Membunuh Orang Lain tunggal. Jika Mao tewas, Lin disebut berencana Memutuskan alih kepemimpinan China dan memindahkan pusat kekuasaan Hingga Guangzhou Sebagai menyelesaikan konsolidasi politik.
Pemerintah China mengklaim telah menggagalkan Ide tersebut dan Terbaru Menginformasikan Hingga publik kejadian ini Di 1980-an. Ketika tuduhan ini mencuat, Lin sendiri membantah tuduhan kudeta. Akan Tetapi Di Di tekanan politik yang kian menutup ruang gerak, dia memilih melarikan diri.
Di 13 September 1971, Lin Biao, istrinya Ye Qun, dan putranya kabur menggunakan pesawat Di Uni Soviet. Sayang, pesawat itu tak pernah tiba Di tujuan.
Beberapa menit Sesudah lepas landas, pesawat jatuh Di Area Mongolia dan menewaskan seluruh penumpang. Otoritas Yang Berhubungan Di menyebut jatuhnya pesawat disebabkan Dari kehabisan bahan bakar.
Meski begitu, banyak orang percaya kejadian tidak terjadi secara kebetulan. Apalagi, tak diketahui Di Detail teknis jatuhnya pesawat, Supaya memunculkan berbagai spekulasi hingga kini.
Akan Tetapi, berkat kejadian ini, pemerintah China memegang satu prinsip yang meminimalisir kejadian kudeta. Yakni menjaga militer tidak boleh lebih kuat Di partai.
(mfa/sef)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Di Di Topik Kudeta, Pesawat Jenderal China Jatuh Misterius











