Jakarta, CNBC Indonesia – TPA Leuwigajah, Cimahi, sudah lama menjadi ruang bertahan hidup Untuk para pemulung. Untuk gundukan sampah setinggi puluhan hingga ratusan meter, mereka mencari botol, plastik, logam, atau apa pun yang bisa dijual Sebagai menyambung hidup.
Karya itu berlangsung setiap hari tanpa jeda, seiring produksi sampah yang terus membengkak Untuk Daerah Bandung Raya. Tetapi, tak banyak yang Memahami bahwa setiap lapisan sampah Mutakhir sejatinya menyimpan bahaya. Akumulasi gas metana perlahan terperangkap Ke Untuk tumpukan limbah dan menjadi ancaman yang sewaktu-waktu bisa memicu ledakan.
Hingga akhirnya, Ke 21 Februari 2005, tepat 21 tahun lalu, bahaya itu benar-benar terjadi.
Untuk laporan peneliti Jepang Itoch Tochija Untuk “Tragedi Leuwigajah” diketahui, Ke dini hari itu, kawasan Di TPA Leuwigajah diguyur hujan. Mayoritas warga menganggapnya sebagai hujan biasa. Tak ada kepanikan, tak ada tanda bahaya. Padahal, air hujan tersebut justru memicu tekanan gas metana dan pergerakan sampah yang sudah lama tidak stabil.
Benar saja, tak lama Lalu, ledakan dahsyat terdengar. Api menyembur Di udara, disusul pergerakan besar Ke gunungan sampah. Gundukan limbah setinggi puluhan meter runtuh dan bergerak seperti gelombang besar, menyerupai “Bencana Alam sampah” dan menimbun siapa pun yang berada Ke sekitarnya.
Untuk hitungan detik, tempat mencari nafkah itu berubah menjadi kuburan massal. Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak, Lantaran Sebagai pertama kalinya Ke Indonesia, Justru jarang terjadi Ke dunia, gunungan sampah meledak dan berubah menjadi bencana yang mengubur permukiman.
Pada 15 hari proses evakuasi, Regu hanya berhasil menemukan 157 jasad, Sambil Itu ratusan lainnya dinyatakan hilang. Korban sebagian besar merupakan pemulung dan warga yang tinggal Ke Di kawasan TPA. Ke Di Itu, sampah juga menenggelamkan Tempattinggal, fasilitas umum, serta merusak akses jalan.
Tragedi Leuwigajah Lalu tercatat sebagai insiden TPA terparah kedua Ke dunia, Setelahnya peristiwa serupa Ke TPA Payatas, Quezon City, Filipina, Ke 10 Juli 2000, yang menewaskan lebih Untuk 200 orang.
Belakangan diketahui, TPA yang dibangun Ke era 1980-an ini memang telah jauh melampaui kapasitas. Regu ahli Untuk Institut Keahlian Bandung menyebut salah satu penyebab utama longsor adalah material sampah yang tidak dipadatkan, serta sistem penimbunan Di lereng tunggal (single slope) yang terlalu curam, Di kemiringan lebih Untuk 45 derajat.
Ke Di Itu, berdasarkan peta hidrogeologi, terdapat mata air Ke bawah Pada utara TPA. Curah hujan tinggi Untuk beberapa hari Sebelumnya membuat gunungan sampah Lebih tidak stabil. Tekanan gas metana yang terperangkap Ke Untuk tumpukan akhirnya memicu ledakan.
Ironisnya, tanda-tanda bahaya sebenarnya telah muncul jauh Sebelumnya tragedi terjadi. Retakan tanah, longsor kecil, hingga bau gas yang mulai menyebar Di permukiman sempat dirasakan warga. Tetapi, semua peringatan itu tak pernah direspons secara serius.
Ledakan Leuwigajah akhirnya menjadi titik balik. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup TPA tersebut dan mulai Merangsang penerapan Keahlian pengolahan sampah yang lebih aman.
Kini, kawasan bekas TPA Leuwigajah telah menghijau. Tanggal 21 Februari pun kini diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.
(mfa/mfa)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Gunung Sampah Meledak, Longsor Bak Bencana Alam Gulung Manusia: 157 Tewas











