Jakarta, CNBC Indonesia – Lonjakan kunjungan wisatawan Hingga berbagai Lokasi, termasuk Bali, belakangan tidak berbanding lurus Bersama tingkat hunian hotel. Hal ini ternyata disebabkan Bersama menjamurnya akomodasi ilegal yang kian diminati, terutama Bersama wisatawan Bersama Dana terbatas.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menilai Trend Populer ini mencerminkan lemahnya pengawasan pemerintah sebagai regulator. Padahal, aturan perizinan usaha akomodasi sudah sangat jelas.
“Nah sekarang apa yang terjadi Bersama yang namanya akomodasi liar itu? Kenapa itu bisa muncul? Berarti kan ada pengabaian atau kelalaian Bersama pemerintah itu sendiri yang bertugas melakukan monitoring atau evaluasi Di munculnya unit usaha Hingga wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Kebugaran ini lantas memunculkan pertanyaan Menarik Perhatian.
Jika hari ini turis menjadikan hotel, vila, atau guesthouse sebagai pilihan tempat menginap, lalu Hingga mana para pelancong beristirahat Sebelumnya semua jenis akomodasi itu dikenal luas Hingga Indonesia?
Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi Di Literatur Perjalanan Hingga Luarnegeri Hingga Hindia Belanda (2019), sarana akomodasi Hingga Indonesia muncul seiring meningkatnya daya tarik Indonesia (dulu Hindia Belanda) Untuk wisatawan. Akomodasi modern yang lebih layak, seperti hotel atau mansion, Terbaru berkembang Ke awal 1800-an. Sebelumnya Itu, ketika jumlah wisatawan masih sangat terbatas, mereka belum mengenal Konsep penginapan seperti sekarang.
Para pelancong umumnya singgah Hingga Tempattinggal kenalan, menginap Hingga Tempattinggal makan yang menyediakan kamar, atau bermalam Hingga satu tempat yang cukup umum kala itu, yakni pasanggrahan.
“Sebelumnya hotel dikenal, ada sarana akomodasi yang disebut pasanggrahan,” ungkap Sunjayadi.
Pasanggrahan Ke mulanya bukan dibangun Untuk wisatawan. Tempat ini berfungsi sebagai lokasi peristirahatan Sambil Itu para raja dan bangsawan pribumi ketika bepergian Hingga luar istana. Bangunan ini menjadi Pada Bersama sistem perjalanan elite lokal Sebelumnya Perjalanan Hingga Luarnegeri berkembang.
Seiring meningkatnya daya tarik Perjalanan Hingga Luarnegeri, fungsi pasanggrahan pun Merasakan perubahan. Pemerintah kolonial Setelahnya Itu memanfaatkannya sebagai tempat singgah Untuk pengunjung Bersama luar Lokasi. Untuk menginap, pengunjung hanya perlu mengantongi izin Bersama pengelola, yakni pemerintah kolonial dan dinas Yang Berhubungan Bersama. Selain tempat bermalam, tamu juga Merasakan jamuan sederhana berupa teh, Minuman, dan kue.
Catatan yang dihimpun Sunjayadi Menunjukkan menginap Hingga pasanggrahan dikenakan tarif Di 2,5 gulden per malam, sudah termasuk biaya pelayanan. Keberadaannya tersebar Hingga lokasi yang punya daya tarik tinggi, seperti pantai atau gunung, dan tidak terbatas Hingga Jawa, tetapi juga ditemukan Hingga Sumatra, Bali, hingga Maluku.
Salah satu pelancong yang mencatat Pengalaman Hidup menginap Hingga pasanggrahan adalah tentara Prancis bernama Bernard. Di memoarnya A Travers Sumatra de Batavia a Atjeh (1904), dia menceritakan pengalamannya ketika berkeliling Sumatra Barat. Bernard bermalam Hingga pasanggrahan yang terletak Hingga kaki pegunungan, merasa nyaman, serta Memperoleh pelayanan yang baik, termasuk suguhan Minuman Bersama penjaganya.
Memasuki abad Hingga-19, ketika minat orang Foreign Di Indonesia terus Menimbulkan Kekhawatiran, Usaha akomodasi yang lebih modern pun mulai tumbuh. Dari 1800-an, mansion atau penginapan (herberg) mulai bermunculan Hingga kawasan pelabuhan, pegunungan, dan pantai sebagai tempat singgah Sambil Itu para pelancong.
Hotel-hotel Bersama pengelolaan yang lebih profesional Terbaru berkembang pesat Ke awal 1900-an.
“Ke periode 1900-an Hingga atas, hotel yang dikelola sudah profesional dan merupakan hotel yang termasuk Di jaringan internasional,” ungkap Sunjayadi.
Meski kini hotel mendominasi industri Perjalanan Hingga Luarnegeri, jejak pasanggrahan sebagai cikal bakal akomodasi masih dapat ditemukan. Sebagian bangunannya masih berdiri, Sambil Itu lainnya hidup Di ingatan lewat nama Area (toponim), seperti kawasan Pesanggrahan Hingga Jakarta Selatan.
(mfa/mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Hingga Era Belanda Sebelumnya Ada Hotel, Turis Hingga Indonesia Nginap Hingga mana?











