Jakarta, CNBC Indonesia – Satu dunia pernah Didalam Sebab Itu korban akibat keputusan Ri Amerika Serikat (AS) mendukung Pertempuran Ke Timur Di yang didasarkan Ke informasi Informasi keliru. Kejadian itu terjadi Ke Oktober 1973, Pada Pertempuran Yom Kippur pecah yang memicu lahirnya embargo dan Fluktuasi Harga Energi Dunia.
Cerita bermula lima bulan Sebelumnya Pertempuran. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS sempat memperingatkan bahwa Energi Berpotensi Untuk dimanfaatkan sebagai alat tekanan politik jika terjadi konflik Ke Timur Di. Tetapi, sebulan Lalu, komunitas Informasi AS membantahnya.
“Informasi AS menyimpulkan bahwa sangat tidak Bisa Jadi Negeri Arab menggunakan embargo Energi sebagai sumber pengaruh potensial Pada Negeri-Negeri industri Barat,” ungkap informasi Informasi AS, dikutip Shigeru Akita Di Oil Crises of the 1970s and the Transformation of International Order (2023).
Tetapi, meski Informasi menilai kemungkinan embargo sangat kecil, mereka tetap memperingatkan permusuhan Arab-Israel yang meruncing dapat memicu langkah tersebut. Nyatanya, embargo benar-benar terjadi Pada Pertempuran meletus, melampaui Prakiraan awal.
Ke Oktober 1973, Pertempuran Di Mesir dan Suriah melawan Israel pecah. Mengutip situs Departemen Luar Negeri AS, Ri Richard Nixon (1969-1974) Menyediakan Dukungan militer penuh kepada Israel, termasuk pengiriman persenjataan dan Dukungan strategis Sebab menganggap embargo kecil kemungkinan bakal terjadi.
Tetapi, Mesir dan Suriah tidak mau kalah dan melakukan manuver Mengumpulkan Dukungan Negeri-Negeri Arab produsen Energi Melewati OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries). Bersama-sama, mereka memangkas produksi Energi dan memberlakukan embargo Pada AS dan sekutunya Didalam tujuan lebih luas.
Bukan hanya Untuk mencapai Pertempuran, tetapi embargo sampai Israel hengkang dan hak hidup rakyat Palestina terpenuhi. Inilah titik Ke mana prediksi Informasi meleset dan dunia merasakan dampaknya.
Menurut David S. Painter Di Oil And Geopolitics: The Oil Crises Of The 1970s AndThe Cold War (2014), harga Energi langsung melonjak Di Di US$3 per barel menjadi US$11,65 per barel Ke akhir 1973. Ke AS, yang sangat bergantung Ke Energi Timur Di, terjadi antrean panjang bahan bakar. Ke Eropa juga terjadi hal sama.
Menurut sejarawan Laura Panza Ke The Conversation, embargo Energi 1973 berdampak secara Dunia. Memburuknya situasi ekonomi AS memaksa Negeri itu melakukan berbagai restrukturisasi, termasuk Aturan suku bunga Didalam The Fed, yang Lalu memengaruhi ekonomi dunia secara lebih luas.
“Pengatur Moneter juga Berusaha Mengatasi pilihan sulit: menaikkan suku bunga dapat Mengurangi Fluktuasi Harga Didalam memperlambat pinjaman dan pengeluaran. Tetapi suku bunga yang lebih tinggi juga berisiko Merangsang perekonomian lebih Di Hingga Di resesi,” katanya.
Ke titik inilah, pemerintah terpaksa membuka jalur Politik Luar Negeri darurat. Sayang, meski Pertempuran Yom Kippur hanya berlangsung Di dua minggu, embargo bertahan hingga setahun Hingga Di. Ke Maret 1974, embargo resmi dicabut Setelahnya tercapai kesepakatan politik, termasuk pertukaran tawanan Di Suriah dan Israel.
Meski begitu, keputusan ini menjadi bukti kalau keputusan AS berdasarkan Informasi yang keliru bisa berdampak jauh melampaui satu Negeri. Sebab Energi bukan sekadar Barang Dagangan ekonomi, tetapi juga alat Politik Global yang bisa mengguncang dunia.
(mfa/luc)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Informasi Keliru Dipakai Ri AS Buat Pertempuran, Sedunia Didalam Sebab Itu Korban











