Jakarta, CNBC Indonesia — Kuwait memutuskan memangkas produksi Energi dan output kilang Setelahnya kapal tanker tidak lagi dapat melintasi Teluk Persia akibat meningkatnya ancaman Bersama Iran.
Pemerintah Kuwait menyebut langkah tersebut sebagai tindakan Upaya Mencegah Ke Ditengah memanasnya konflik Ke kawasan. Tetapi, Bangsa itu tidak mengungkapkan berapa besar pemangkasan produksi yang dilakukan.
Mereka hanya menggambarkan pengurangan produksi itu sebagai langkah Upaya Mencegah yang Berencana ditinjau kembali seiring perkembangan situasi.
Perusahaan Energi nasional, Kuwait Petroleum Corporation, memastikan pihaknya siap memulihkan tingkat produksi jika Situasi Keselamatan kembali memungkinkan.
Kuwait sendiri merupakan produsen Energi terbesar kelima Ke Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyakbumi Bersama produksi Di 2,6 juta barel per hari Ke Januari lalu.
Ketegangan Politik Global Ke kawasan Teluk membuat kapal tanker berhenti melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi pintu keluar utama Perdagangan Keluar Negeri Energi Bersama Bangsa-Bangsa Teluk. Di 20% konsumsi Energi dunia melewati jalur sempit tersebut.
Dampaknya, pasokan Energi kini menumpuk Ke Timur Ditengah Lantaran kapal tanker tidak beroperasi. Bangsa-Bangsa produsen Energi Ke kawasan terpaksa menurunkan produksi ketika kapasitas penyimpanan mulai penuh.
Irak Justru telah memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari Setelahnya kehabisan ruang penyimpanan, menurut pejabat pemerintah yang dikutip Reuters.
Kepala Kajian Barang Dagangan Dunia Ke JPMorgan Natasha Kaneva mengatakan pasar kini tidak hanya Berusaha Mengatasi risiko Politik Global, tetapi juga gangguan operasional nyata Ke rantai pasokan energi Dunia.
“Kini pasar tidak lagi hanya memperhitungkan risiko Politik Global, tetapi juga mulai Berusaha Mengatasi gangguan operasional yang nyata,” kata Kaneva, dikutip Bersama Reuters, Minggu (8/3/2026).
Jika konflik AS-Iran berlangsung lebih Bersama tiga minggu, Bangsa-Bangsa Teluk diperkirakan Berencana kehabisan kapasitas penyimpanan dan terpaksa menghentikan produksi Energi. Situasi tersebut Berpeluang Mendorong harga Energi dunia melampaui US$100 per barel.
JPMorgan Mengantisipasi pemangkasan produksi Energi Dunia bisa melampaui 4 juta barel per hari jika Selat Hormuz tetap tertutup hingga pekan Didepan.
Lonjakan harga pun mulai terlihat Ke pasar energi. Ke perdagangan Jumat, harga Energi mencatat kenaikan mingguan terbesar Di sejarah perdagangan berjangka. Brent ditutup Ke level US$92,69 per barel, Sambil Itu West Texas Intermediate mencapai US$90,90 per barel.
Selain Energi, konflik juga mengganggu pasokan Sumber Energi dunia. Qatar menghentikan produksi Sumber Energi cair (LNG) Setelahnya serangan Iran, padahal Bangsa tersebut menyumbang Di 20% Perdagangan Keluar Negeri LNG Dunia.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Kapal Tidak Bisa Lewat Teluk Persia, Kuwait Pangkas Produksi Energi











