Jakarta, CNBC Indonesia – Bayangkan sebuah kali berubah warna menjadi merah bukan Sebab limbah atau Trend Populer alam, melainkan Sebab ribuan orang tewas dibantai dan mayat-mayat mereka memenuhi aliran sungai. Pemandangan mengerikan itulah yang terjadi Ke Batavia (kini Jakarta) Pada pembantaian massal warga Tionghoa Didalam VOC tepat hari ini 286 tahun lalu.
Tragedi tersebut bermula Untuk persoalan kependudukan. Ketika itu, jumlah penduduk Tionghoa Ke Batavia Meresahkan pesat Ke Ditengah Kemakmuran perekonomian dunia yang lesu. Menurut Benny Kerjasamaekonomiinternasional. Setiono Untuk Tionghoa Untuk Pusaran Politik (2008), Penduduk Dunia mereka diperkirakan mencapai 4.000 hingga belasan ribu orang.
Situasi tersebut Mendorong Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier, Membahas Keputusan Bagi Mengurangi jumlah penduduk Tionghoa Ke Batavia. Salah satu caranya adalah memindahkan mereka Ke Area lain, seperti Sri Lanka.
Hanya saja, Pada perpindahan itu terjadi, muncul kabar bahwa itu hanyalah kedok. Warga Tionghoa menduga mereka yang dikirim Ke tempat lain Akansegera dibuang Ke Ditengah laut. Atas dasar ini, tanpa kepastian mengenai kebenaran kabar tersebut, sebagian warga Tionghoa mulai mengorganisasi perlawanan.
Mereka mempersenjatai diri dan menyerang sejumlah sasaran penting milik VOC, termasuk pabrik-pabrik gula. VOC Setelahnya Itu memperkuat pasukan militernya Bagi Berjuang Didalam perlawanan tersebut. Ketegangan Lebih memuncak Setelahnya puluhan tentara VOC dilaporkan tewas.
Situasi itu menjadi salah satu pemicu tindakan militer yang jauh lebih brutal. Sejarawan M.C Ricklefs Untuk Sejarah Indonesia Modern (1999) Menginformasikan, Ke 9 Oktober 1740, Valckenier mengerahkan pasukan Untuk jumlah besar Bagi menyisir permukiman warga Tionghoa Ke Batavia, baik Ke Untuk maupun Ke luar tembok kota. Lalu tanggal 10 Oktober pembantaian pun pecah.
Orang-orang Tionghoa yang ditemukan menjadi sasaran Membunuh Orang Lain tanpa pandang usia maupun jenis kelamin. Menurut kesaksian Kerjasamaekonomiinternasional. Bernhard Schwarzen Untuk catatan berjudul Reise in Ost-Indien (1751), besarnya jumlah korban membuat jalanan, gang, dan kanal Ke Batavia dipenuhi mayat.
“Justru kaki kita tak Akansegera basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu,” demikian kesaksian Schwarzen.
Kali yang berada Ke sekitarnya pun turut berubah warna menjadi merah imbas banyak tumpukan mayat. Belakangan, kali yang berwarna merah itu disebut sebagai Kali Angke sampai sekarang.
Menurut Alwi Shahab Untuk Literatur Betawi: Queen of the East (2002), nama Angke konon berasal Untuk dua kata Untuk bahasa Hokkien, yakni ang yang berarti merah dan Ke yang berarti sungai. Nama itu Setelahnya Itu dimaknai sebagai sungai merah yang menandai dulunya banyak mayat.
Meski begitu, ada versi lain juga yang Menginformasikan kalau penamaan Kali Angke didasarkan Ke tokoh Tubagus Angke. Terlepas Untuk dua versi itu, satu hal pasti Untuk pembantaian yang berlangsung hingga 22 Oktober 1740 itu, belasan ribu warga Tionghoa diperkirakan tewas. Lalu Tempattinggal-Tempattinggal mereka turut dijarah dan dihancurkan.
Sejarah Setelahnya Itu mencatat kejadian ini sebagai Geger Pecinan yang menjadi salah satu episode paling kelam Untuk sejarah Batavia Ke bawah kekuasaan VOC. Untuk kejadian ini, VOC Setelahnya Itu mulai membatasi ruang gerak warga Tionghoa Didalam mengelompokkan mereka Untuk satu kawasan khusus.
(mfa/mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Mayat Korban Pembantaian Berserakan-Numpuk, Kali Sampai Berwarna Merah











