Market  

Maybank Indonesia (BNII) Cetak Laba Sebelumnya Pph Rp397 M




Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) berhasil menjaga kinerja Ke Di meningkatnya tekanan Politik Global Dunia Di membukukan laba Sebelumnya Pph (PBT) sebesar Rp397 miliar Pada triwulan pertama tahun 2026. Samping Itu, BNII juga berhasil membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik Entitas Induk (Profit After Tax and Minority Interest /PATAMI) sebesar Rp299 miliar.

“Untuk Situasi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan Potensi Perkembangan Ke segmen ritel dan non-ritel, korporasi (GB) termasuk Perbankan Syariah Ke Di ketidakpastian yang berlangsung Ke sepanjang kuartal. Hingga Di, kami Berencana terus Berusaha Untuk Menyita Potensi Perkembangan Lewat ekosistem Whole of Maybank serta, Ke Pada yang sama, memperkuat Usaha inti sejalan Di strategi ROAR30 Maybank Group,” ujar Pemimpin Negara Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, Jumat (29/5/2026).

Sebagai diketahui, Pada triwulan pertama tahun 2026, BNII membukukan Pendapatan Bunga Bersih (NII) mencapai Rp1,81 triliun, Meresahkan 2,1%. Hasil ini didukung Dari penurunan beban bunga serta komposisi pendanaan yang membaik. Sambil rasio Net Interest Margin (NIM) tetap stabil Ke level 4,3% Y-o-Y.

Tekanan Politik Global Dunia yang terjadi Ke kuartal pertama 2026 menimbulkan volatilitas pasar keuangan. Situasi ini telah berdampak Ke Kegiatan trading surat berharga dan valuta Asing Dunia Markets (GM), Agar pendapatan fee GM turun menjadi Rp20 miliar.

Sambil, pendapatan fee selain GM juga Menyaksikan penurunan Kendati pendapatan fee Premier Wealth naik 20,0% Y-o-Y dan fee Yang Terkait Di layanan ritel yang juga membaik. Karenanya, Pendapatan Non-Bunga (NOII) turun 29,6% Y-o-Y menjadi Rp402 miliar. Gross Operating Income tercatat sebesar Rp2,22 triliun dibandingkan Rp2,35 triliun Ke periode yang sama tahun Sebelumnya.

Ke sisi lain, beban operasional naik 4,5% Y-o-Y sehubungan Di Kegiatan Usaha Bank. Laba operasional Sebelumnya pencadangan (PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar, sedangkan beban pencadangan turun 47,9% Y-o-Y menjadi Rp123 miliar, mencerminkan Standar aset membaik serta penerapan manajemen risiko yang pruden.

Per triwulan I-2026, fundamental Usaha inti Maybank Indonesia dilaporkan tetap kuat. Hal ini didukung Dari Perkembangan kredit Ke beberapa segmen diiringi profil pendanaan yang membaik. Akan Tetapi, Di Pendapatan Non-Bunga yang menurun, laba Sebelumnya Pph (PBT) dan PATAMI turun masing-masing sebesar 21,5% dan 20,5% Y-o-Y.

Ke sisi lain, Standar aset bank tersebut membaik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,3% (gross) dan 1,4% (net) Ke Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,5% (net) Ke Maret 2025.

Kredit dan Simpanan

Kredit CFS ritel dan non-ritel BNII tercatat tumbuh 5,4% menjadi Rp88,33 triliun. Kredit non-ritel tumbuh 7,1% Y-o-Y terutama Di kredit segmen komersial (Business Banking) yang naik 15,6% dan kredit segmen Small and Medium Enterprise (SME+) yang tumbuh 12,3%. Kredit ritel CFS tumbuh 4,1% Y-o-Y didukung pembiayaan Kendaraan Pribadi anak usaha yang Meresahkan 7,4% serta kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) yang tumbuh 6,7%.

Portofolio kredit korporasi Dunia Banking (GB) mencatat penurunan sebesar 12,4% Y-o-Y. Akan Tetapi, segmen Large Local Corporate (LLC) GB dan transaksi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) telah Menunjukkan peningkatan yang Berencana dibukukan Ke kuartal Berikutnya.

Ke Maret 2026, total kredit yang disalurkan relatif stabil sebesar Rp121,99 triliun. Total aset tercatat sebesar Rp192,17 triliun, naik 1,2% Y-o-Y.

Simpanan nasabah Meresahkan sebesar 6,1% Y-o-Y menjadi Rp118,35 triliun didorong Perkembangan Giro sebesar 37,5%, Sambil Tabungan turun sebesar 1,9%. Deposito berjangka turun 12,3%, sejalan Di upaya Bank Sebagai memperkuat komposisi pendanaan dan mengoptimalkan biaya dana. Rasio CASA Meresahkan menjadi 61,2% Ke Maret 2026 Di 53,0% Ke Maret 2025.

Sedangkan berbicara permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BNII tercatat sebesar 26,3% dan rasio Common Equity Tier 1 (CET1) sebesar 25,2%.Likuiditas tetap sehat Di Loan-to-Deposit Ratio (LDR) Bank-only sebesar 85,5%, Liquidity Coverage Ratio (LCR) Bank-only sebesar 146,2%, dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) Bank-only sebesar 112,4%.

Perbankan Syariah

Sebagai lini Usaha syariah, total pembiayaan syariah tercatat tumbuh 10,4% Y-o-Y menjadi Rp32,23 triliun didukung pembiayaan Community Financial Services (CFS) dan Dunia Banking (GB) syariah. Pembiayaan syariah CFS Meresahkan 10,4% menjadi Rp23,16 triliun dan pembiayaan GB syariah tumbuh 10,3% menjadi Rp9,07 triliun.

Perkembangan pembiayaan CFS non-ritel syariah ditopang Dari segmen SME+ dan Ritel SME (RSME) yang tumbuh masing-masing sebesar 39,1% dan 6,0%. Pembiayaan ritel CFS syariah Meresahkan 12,5% menjadi Rp10,78 triliun yang didorong utamanya Dari pembiayaan properti yang tumbuh 14,7%. Ke Pada Yang Sama, pembiayaan korporasi segmen GB-LLC tumbuh 30,2% Y-o-Y.

Total pembiayaan syariah Maybank Indonesia berkontribusi sebesar 30,2% Di total portofolio pembiayaan Bank (Bank-only), Sambil total aset Syariah menyumbang 24,5% Di total aset Bank (Bank-only).

Lewat Perbankan Syariah, Maybank Indonesia Memperkenalkan solusi Shariah Restricted Investment Account (SRIA) pertama Ke Indonesia. SRIA dirancang Sebagai mengakomodasi kebutuhan investor tertentu dan ikut berpartisipasi Untuk membiayai suatu badan usaha. Untuk pelaksanaannya, Bank bertindak sebagai arranger, dan hingga kini, outstanding transaksi SRIA telah mencapai Rp500 miliar.

Total simpanan Perbankan Syariah tumbuh 7,5% menjadi Rp35,50 triliun didukung Dari Perkembangan Giro dan Tabungan (CASA) sebesar 28,8% Y-o-Y. Giro tumbuh 60,1% menjadi Rp14,22 triliun dan Tabungan tumbuh 1,5% menjadi Rp10,29 triliun. Deposito berjangka turun 21,5% Y-o-Y sejalan Di upaya Bank Untuk mengoptimalkan komposisi pendanaan. Rasio CASA Meresahkan menjadi 69,1% Ke Maret 2026 dibandingkan 57,6% Ke Maret 2025.

Standar aset membaik Di Non-Performing Financing (NPF) sebesar 2,2% (gross) dan 1,5% (net) Ke Maret 2026 dibandingkan 2,4% (gross) dan 1,7% (net) Ke Maret 2025. Financing-to-Deposit Ratio (FDR) tercatat sebesar 85,4%.

Laba operasional Sebelumnya pencadangan (PPOP) Perbankan Syariah naik 20,9% Y-o-Y didukung pendapatan Sesudah distribusi Bagi hasil yang tumbuh 5,9% diiringi biaya dana yang menurun. Pendapatan operasional lainnya juga Meresahkan 18,1% Y-o-Y didorong pendapatan fee Di pembiayaan yang disalurkan dan transaksi reksa dana. Beban pencadangan turun 69,8% Y-o-Y.

Ke kuartal pertama 2026, Perbankan Syariah membukukan laba Sebelumnya Pph (PBT) sebesar Rp226 miliar, Meresahkan 52,1% Y-o-Y.

Pemimpin Negara Komisaris Maybank Indonesia, Dato’ Sri Khairussaleh Ramli, mengatakan kinerja Bank Ke kuartal pertama 2026 telah dibayangi volatilitas pasar. Sambil Di sisi arah Usaha, ia meyakini langkah memperkuat fundamental UKM Berencana Merangsang Perkembangan yang berkelanjutan.

“Ini merupakan arah strategis yang telah kami canangkan Ke Maybank Group,” terangnya.

(dpu/dpu)



Add



as a preferred

source on Google



[Gambas:Video CNBC]

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Maybank Indonesia (BNII) Cetak Laba Sebelumnya Pph Rp397 M

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/