Mengangkat Martabat Petani dan Citra Teh Indonesia Di Pasar Dunia


Jakarta

“Mengapa Anda tega sama kami?,”.

Pertanyaan itu diucapkan lirih Tetapi tajam Dari seorang petani Di perkebunan teh yang terus menggema Di kepala Redha Taufik Ardias (34). Kala itu, 2017, ia datang sebagai perwakilan sebuah perusahaan produsen teh besar. Awalnya ia mengira kunjungannya Akansegera disambut ramah.

Di kepalanya, Di itu, kebun teh serupa adegan Sinema Ekspedisi Sherina, hamparan hijau yang damai, para pemetik bekerja sambil tersenyum, dan anak-anak berlarian riang gembira. Nyatanya, pemandangannya justru bertolak Dibelakang. Wajah-wajah murung, sikap curiga, hingga ‘panen’ keluhan.


“Tahu nggak berapa yang kami dapat Didalam apa yang kalian ambil?,” tanya petani teh Untuk Bahasa Sunda yang Redha ceritakan Di berbincang Didalam detikcom.

Redha Sesudah Itu mendengar realitas pahit. Setiap kilogram teh kering yang dijual petani Di pabrik besar, hanya dihargai Disekitar US$ 0,95 atau Rp 12.500 (kurs Rp 13.000 Di 2017). Ini setara Rp 25 Bagi satu modal bahan baku kantong teh (tea bag) ukuran 1,8 – 2 gram yang dipasarkan.

“Mutakhir saya sadar, keputusan saya Di itu mencari teh semurah Mungkin Saja berimbas langsung Ke hidup mereka. Saya pikir, ide apa yang harus kita lakukan? Sebab solusinya cuma satu, harus ditingkatkan nilainya,” ungkapnya.

Pertemuan itu menjadi pemantik Bagi dirinya Bagi Memutuskan sebuah keputusan Mutakhir Bagi mengangkat martabat Keadaan para petani teh. Terlebih, Di itu, stigma teh juga masih sebatas minuman pelengkap yang disajikan secara cuma-cuma Di Rumah makan.

“Saya perhatikan Di Hotel Bintang 5, jarang sekali kita nemu Teh Indonesia. Brand itu datang Didalam Singapura, Amerika, Inggris. Bukan Bangsa yang punya kebun teh. Kita yang punya kebun teh sendiri, kok nggak punya brand seperti itu,” terangnya.

Mendirikan Sila Artisan Tea

Akhirnya Ke 2018, ia bersama Iriana Ekasari mendirikan Sila Artisan Tea Didalam komitmen penuh Meningkatkan citra teh Indonesia sebagai produk unggulan. Hal ini dilakukan Bagi mengapresiasi para pemetik dan petani teh.

Sebelumnya mendirikan Sila Artisan Tea, Redha nyaris tak mengenal teh sebagai sebuah ilmu. Ia lulusan Psikologi UI yang Sesudah Itu bekerja sebagai asisten konsultan Usaha dan branding Bagi Iriana Ekasari yang kini menjadi ibu mertuanya.

Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Dia bercerita Untuk perjalanan Di Kendaraan Pribadi bersama Iriana yang latar belakangnya Ilmu Pengetahuan Agrikultur IPB, keduanya awalnya berniat Bagi membangun brand Minuman bernama Sila. Tetapi belakangan nama itu beralih Di teh sebab ada misi besar yang harus dilakukannya, yakni meng-Indonesiakan Teh Indonesia.

“Kita bikin product name-nya, blueprint, strategy, everything. Semuanya kita kerjain. Saya Kajian segala macam, sampai Ke keputusan, oh iya benar. Ini harus ada pembaharuan Di Teh Indonesia, dan jawabannya, solusinya itu ada Ke kita. Perkembangan, Pembelajaran dan branding,” terangnya.

Dia menuturkan nama Sila sendiri terinspirasi Didalam kata ‘Pancasila’. Hal ini mencerminkan nilai kebersamaan, persatuan, dan keharmonisan. Sila juga diambil Didalam kata ‘Silaturahmi’ yang melambangkan komitmen membangun hubungan baik sejalan Didalam misi Sila Artisan Tea menghubungkan petani Didalam prinsip Ketahanan.

“Karena Itu Sila keenam itu Minum Teh Indonesia,” kelakar Redha.

Redha dan Iriana Sesudah Itu rutin berkeliling Indonesia, mulai Didalam Jawa Barat, Jawa Di, Yogyakarta, Sumatera Barat, kebun-kebun teh dia kunjungi. Tujuannya satu, mencari petani kecil yang bersedia belajar, berubah, dan meracik atau mengolah teh berkualitas.

Dia mengedukasi petani bahwa teh Didalam Mutu terbaik itu P+3, yakni pucuk 1 sampai 4 daun teratas. “Kami Menyusun mutu Bagi disebut specialty tea adalah P+2 Karena Itu 3 daun teratas, harus petik tangan, nggak Mungkin Saja bisa petik ini Didalam Pisau,” terangnya.

Mengharumkan Teh Indonesia Di Pasar Dunia

BRI Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Sila berkomitmen menggunakan hanya teh Indonesia Mutu terbaik dan teratas ditambah racikan teh Didalam bahan alaminya. Maka Itu, Sila Artisan Tea Memiliki dua peran utama, yakni sebagai inovator Memperkenalkan teh artisan berkualitas tinggi, serta edukator mengenalkan kekayaan teh Indonesia kepada Kelompok luas.

Perjuangannya membuahkan hasil. Tercatat, Di ini Sila Artisan Tea sudah bermitra Didalam 25 kebun teh terbaik Di Indonesia yang masing-masing Memiliki 3 sampai 12 jenis teh seperti Di Yogyakarta, Batang, Ciwidey, Cianjur dan Sukabumi. Total Sila Artisan Memiliki 200 artikel teh yang telah dikurasi Tetapi belum semua dikenalkan.

“Sekarang yang udah release Disekitar 75. Single origin sama yang blend. 3 Di antaranya yang bestseller itu ada Jeda, Kasmaran, dan Senandung Senja,” katanya.

Redha mengaku pemasaran Sila Artisan Tea dilakukan secara B2B dan B2C. Sila bekerja sama Didalam Pasar Online, jaringan hotel, restoran, dan kafe Di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Bali, Labuan Bajo, NTB, hingga Papua.

Ke 2023, Sila Artisan Tea Sesudah Itu meresmikan Rumah Teh Indonesia Di Bogor sebagai galeri Perkembangan dan Pembelajaran. Sila pun Lebihterus diterima Di segmen pasar premium. Sila kini mampu menjangkau konsumen Di pasar internasional seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Austria, Rusia, Jepang, Amerika Serikat hingga Turkey.

Justru Di detikcom Melakukan Kunjungan Di Rumah Teh Indonesia Sabtu (29/11/2025), terlihat ada buyer asal Austria dan Rusia langganan Sila Artisan yang kembali berkunjung. Mereka membeli produk Teh Artisan sebagai hand carry Bagi dibawa Di negaranya.

“Banyak juga yang datang Didalam Arab Saudi ini Di galeri ini, Sebab kita punya mitra Di Puncak, Karena Itu mereka rekomendasikan datang Di sini. Atau kemarin ada perkumpulan mahasiswa Didalam dosen datang Di Inggris. Didalam Jepang, Korea, belanja Di sini, Karena Itu ini udah kaya tempat wisata destinasi,” terangnya.

BRI Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Diketahui, Sila Artisan Tea merupakan nasabah Usaha Mikro Kecil binaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sebelum 2021, Sila Artisan Tea Memperoleh manfaat Didalam Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta Kredit Modal Kerja (KMK) BRI. Kredit yang diterimanya disalurkan Bagi membangun Rumah Teh Indonesia tersebut.

Redha juga mengikuti berbagai Langkah pendampingan, seperti Growpreneur Pengusaha Muda BRILiaN dan BRI Usaha Mikro Kecil EXPO(RT). Justru, Sila meraih Kemenangan 1 The Best Expo Ke ajang tersebut dan mewakili Indonesia Di FHA Food and Beverages Singapore 2025.

Diketahui, penyaluran KUR yang diterima Sila Artisan itu sejalan Didalam komitmen BRI Untuk mewujudkan Asta Cita Pemimpin Negara Prabowo Subianto Bagi membantu pembiayaan Bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas.

Teh Indonesia Lebih Baik Didalam Thai Tea

BRI Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom

Tak hanya itu, Sila Artisan juga mengikuti berbagai pameran bersama Lembaga Keuanganpusat termasuk Himbara Di Las Vegas, Prancis, hingga Thailand. Misinya cuma satu mengangkat pamor citra teh para petani Indonesia Di pasar Dunia.

Redha menyebut Teh Indonesia tidak kalah saing Didalam teh Di banyak Bangsa. Justru dia menyebut Teh Indonesia itu lebih baik Didalam Thai Tea Di Thailand. Menurutnya, Thai Tea adalah Mutu teh terburuk.

“Dulu saya ini alumni Thai Tea juga awalnya. Sesudah belajar, Karena Itu tahu bahwa seampas-ampasnya teh, seancur-ancurnya teh itu Thai Tea. Kita penting banget buat Pembelajaran, bahwa teh Indonesia itu lebih baik,” tuturnya.

“Kita harus dorong kekayaan alam kita. Meracik teh itu Karena Itu Dibagian Didalam kita mempromosikan ciri khasnya teh kita. Bahwa teh yang kita minum itu Akansegera ditambahkan Didalam herbal rempah khasnya kita. Didalam syarat tehnya tetap dominan. Supaya tetap disebut teh,” jelasnya.

Maka Itu, dia berharap Lebihterus banyak para Manajer Di industri teh yang mampu mengangkat citra teh Indonesia, seperti layaknya industri Minuman, Agar banyak Kelompok bisa teredukasi dan para petani teh bisa Memperoleh apresiasi.

Apresiasi Para Petani Teh

Ke Di Yang Sama, salah satu Petani Teh Di Samigaluh, Yogyakarta, Surati mengapresiasi Sukses Sila Artisan Untuk mengangkat martabat para petani teh. Ia mengaku Memperoleh banyak perubahan Sesudah bermitra Didalam Sila Artisan.

Sekedar diketahui, Surati merupakan seorang ibu Rumah tangga yang Memiliki tiga orang anak. Ke 2016, suaminya meninggal. Ia Sesudah Itu menjadi tulang punggung keluarga.

Ke 2017, Didalam segala keterbatasannya, Surati memutuskan melanjutkan apa yang telah suaminya mulai, yakni bertani teh. Di tahun itulah ia bertemu Didalam Redha Didalam Sila Artisan sosok yang Sesudah Itu mengubah arah hidupnya.

“Saya dibina, diajari cara membuat teh yang baik, Didalam awal sekali,” kenang Surati Di dihubungi detikcom.

Di satu tahun penuh, ia belajar merawat, memetik, menjaga Mutu daun, hingga mengolah teh yang layak dijual. Sebelum 2018 hingga kini, Surati sudah memproduksi teh hijau, yang Sesudah Itu Di-rebranding Dari Sila Artisan Karena Itu Menoreh Kencana.

Surati dulu hanya bisa menjual 2-3 kg teh. Sekarang, Sesudah kebunnya diperbaiki sedikit Bagi sedikit, ia mampu menghasilkan 15 kg per panen. Sila Tea membelinya Didalam harga Rp 200.000 per kg, sebuah hal yang dulu tak pernah Surati bayangkan.

“Dulu Sebelumnya ada Sila, teh saya dikirim Di industri, Bagi teh basah harganya Rp 1.250 per kilogram (harga itu sudah termasuk Bantuan Pemerintah),” ungkapnya.

Surati kini turut Mendorong para petani lingkungannya Bagi mengolah teh seperti dirinya. Ia ingin mereka merasakan perubahan yang sama.

“Saya ingin bukan hanya saya yang merasakan ini, tapi semua petani bisa hidup Didalam teh. Itu sudah cukup Bagi saya,” tukasnya.

Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita: Mengangkat Martabat Petani dan Citra Teh Indonesia Di Pasar Dunia