Kendaraan roda empat Karena Itu andalan Kelompok Sebagai berpergian, terlebih Di musim Lebaran seperti sekarang. Jika berpergian Bersama Kendaraan Pribadi, tentu saja harus mengandalkan bensin sebagai Bahan Bakar Migas (BBM). Tanpa BBM, Kendaraan Pribadi hanya mesin yang tak bisa digerakkan.
Siapa sangka, ternyata ada Kendaraan Pribadi Di Indonesia yang bisa berjalan tanpa BBM. Apalagi, Kendaraan Pribadi tersebut 2.000 cc. Hanya saja, Sebagai bisa melihat Kendaraan Pribadi ini kita harus memundurkan waktu Hingga tahun 1893 atau 132 tahun lalu.
Kendaraan Pribadi tersebut adalah kendaraan roda empat pertama Di Indonesia, yakni Benz Viktoria yang menggendong mesin 2.000 cc. Pemiliknya adalah Sultan Di Kesultanan Surakarta, Pakubuwana X. Di 1894, Pakubuwana X melakukan pembelian Kendaraan Pribadi Di Eropa seharga 10.000 gulden.
Pada tiba Di Indonesia, Kendaraan Pribadi pertama Di Indonesia itu langsung buat heboh. Sebab, Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Ratu Belanda saja belum punya Kendaraan Pribadi. Keduanya sama seperti Kelompok umum yang masih memakai kereta kuda sebagai moda transportasi.
Kehebohan itu makin menjadi-Karena Itu Lantaran orang heran ada kendaraan yang melaju kencang melebihi kereta kuda. Terlebih, kendaraan tersebut berjalan tanpa ditarik kuda. Atas dasar ini, Kendaraan Pribadi pertama itu dijuluki kereta setan.
Ketika Benz Viktoria tiba Di Indonesia, apakah bergerak menggunakan bensin seperti sekarang? Jika iya, bagaimana cara mendapatkannya?
Jawabannya, tidak. Benz Viktoria tidak menggunakan bensin, tapi memakai bahan bakar bernama naphtha.
Naphtha merupakan hasil sulingan murni Migas bumi berwarna kuning yang tanpa dicampur zat kimia. Dulu, naphtha digunakan Sebagai pelumas industri. Encyclopaedia Brittanica menyebut naphtha kini merupakan sejenis pengencer dan pelarut yang Karena Itu bahan baku pembentukan bensin.
Keberadaan naphtha sudah lebih dulu ada Di Indonesia seiring kemunculan industri Migas bumi. Jejak Naphtha sudah tercatat Dari banyak koran-koran Di masa kolonial, Sebelumnya kemunculan Benz Viktoria milik Raja Jawa itu Di 1893.
Harian Java Bode (23 Juli 1892), misalnya, menyebut Naphtha sudah dikirim Hingga luar negeri seiring hadirnya pertambangan Migas bumi. Lalu, Di 21 Juni 1899, harian Soerajaijasch Handelsblad sudah menjelaskan bagaimana proses pemisahan hasil Migas bumi menjadi Migas tanah dan Naphtha yang Berencana dipakai Sebagai hal berbeda.
Tentu saja, keberadaan Naphtha tak mudah diperoleh. Alias harganya mahal. Meski begitu, Pakubuwono X tetap membelinya Untuk membuat Benz Viktoria mengaspal Di jalanan Indonesia. Setelahnya tanki diisi naphta, biasanya kendaraan harus dinyalakan terlebih dahulu Pada 20 menit. Jika sudah, Terbaru bisa dikendarai.
Demikian cara Kendaraan Pribadi pertama Di Indonesia berjalan menggunakan Naphtha.
Eksistensi Naphtha perlahan tergantikan Dari bensin yang dicampur zat kimia berupa tetraethyllead (timbal), isooktan dan heptana Di 1920-an. Ketiga campuran zat kimia tersebut menghasilkan beragam jenis bensin berdasarkan oktan atau Research Octane Number (RON).
Kini, Di Indonesia ada RON 90, RON 92, RON 98, dan seterusnya.
Ketika bensin mulai eksis, Perkembangan kendaraan bermesin Di Indonesia Lebihterus pesat. J. Stroomberg Di Hindia Belanda 1930 (2017) memaparkan, Di 1928 saja sudah terdapat 40.154 Kendaraan Pribadi, 10.505 Kendaraan Bermotor Roda Dua, 3.756 truk, dan 2.545 Kendaraan Angkutan Umum. Justru Dari tahun 1927 terdapat pabrik perakitan Kendaraan Pribadi Di Tanjung Priuk, Batavia.
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Tanpa BBM, Kendaraan Pribadi Pertama RI 2.000 cc Sukses Ngebut Di Jalanan