TNI Pernah Sukses Gagalkan Operasi Rahasia CIA Di Indonesia




Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan dunia usai melakukan intervensi langsung Di urusan politik Negeri lain. Terbaru, Washington melancarkan operasi militer Di Venezuela yang berujung Di penahanan Pemimpin Negara Nicolas Maduro Di Sabtu (3/1) waktu setempat.

Tetapi, intervensi semacam ini sejatinya bukan hal Mutakhir Di sejarah Aturan luar negeri AS. Sepanjang abad Ke-20 hingga kini, Washington kerap turun tangan, baik secara terbuka maupun terselubung, Sebagai menggulingkan atau melemahkan pemerintahan Negeri lain yang dinilai bertentangan Di kepentingannya.

Indonesia pun pernah merasakan langsung intervensi AS Di 1958. Bedanya, upaya tersebut berakhir gagal. Sejarah mencatat, keterlibatan badan Intel AS, CIA, Di pergolakan politik Indonesia terbongkar Sesudah Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menembak jatuh pesawat mata-mata CIA Di Ditengah pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).

Permesta merupakan gerakan Penolakan Di Sulawesi yang dipicu kekecewaan Di pemerintah pusat yang dinilai terlalu sentralistis dan mengabaikan Lokasi. Gerakan ini dideklarasikan Dari Letnan Kolonel Ventje Sumual Di 2 Mei 1957. Di periode hampir bersamaan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) juga dideklarasikan Di Sumatra Barat. Kedua gerakan tersebut kerap disebut saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.

Meski berangkat Di Keinginan Lokasi, pemerintah pusat memandang Permesta dan PRRI sebagai pemberontakan. Jakarta pun merespons Di mengirimkan operasi militer skala besar Sebagai menumpas pergolakan tersebut.

Untuk CIA, pergolakan Di Lokasi menjadi Kemungkinan strategis Sebagai melemahkan pemerintahan Pemimpin Negara Soekarno. Di arsip rahasia CIA tanggal 7 Februari 1964 berjudul “The Power Position of Indonesia’s President Soekarno”, AS kala itu memandang Soekarno Lebih condong Ke komunisme yang mana bertentangan langsung Di ideologi dan kepentingan AS.

Atas dasar ini, Departemen Luar Negeri AS Dari 18 Maret 1957 mulai melakukan pemantauan khusus Di perkembangan politik Di luar Pulau Jawa. Washington tidak sekadar Merasakan, tetapi juga mulai merancang Dukungan terselubung. 

Sebab, CIA menganggap Kendati pergolakan Di Lokasi berakar Di kekecewaan lama Di dominasi Jawa, arah perlawanan tidak berhenti Di situ. Gerakan itu juga secara langsung menyasar Pemimpin Negara Soekarno dan sikap politiknya.

“Meski pemberontakan ini mencerminkan kekecewaan lama Lokasi-Lokasi luar Di dominasi Jawa, sasaran utamanya juga tertuju Di Pemimpin Negara Soekarno, khususnya sikapnya yang Menerapkan gagasan-gagasan komunis serta dukungannya terhadapnya,” tulis CIA Di arsip rahasia berjudul Indonesian Operation: Original Concept of Operation tertanggal 15 Mei 1958.

Lebih jauh, CIA secara terbuka memandang gejolak Di Sulawesi dan Sumatra sebagai instrumen Sebagai memperkuat kekuatan anti-komunis Di Indonesia.  Di dokumen itu, CIA menegaskan perlunya memaksimalkan potensi tekanan politik Di pulau-pulau luar guna mempengaruhi peta kekuasaan nasional, khususnya Di Jawa.

“Memanfaatkan pengaruh atau daya tekan apa pun yang tersedia dan dapat dibangun Dari kekuatan anti-Komunis Di pulau-pulau luar Sebagai melanjutkan upaya kita Di menyatukan dan Merangsang Sebagai bertindak bersama-sama unsur-unsur non-Komunis dan anti-Komunis Di Jawa melawan kaum Komunis,” tulis CIA Di salah satu Nilai perintahnya Di dokumen yang sama.

Keterlibatan AS Di operasi ini akhirnya terbongkar lewat Perkara Pidana Hukum Allen Pope. Di 18 Mei 1958, TNI berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur yang Sebelumnya Memutuskan bom Di Ambon, menghancurkan pasar dan sejumlah bangunan strategis. Serangan itu menewaskan enam warga sipil dan 17 prajurit TNI.

Pilot pesawat tersebut selamat. Pada digeledah, terungkap dia adalah warga Negeri AS bernama Allen Lawrence Pope. Dia bukan pilot sipil biasa, melainkan agen CIA yang Ditengah menjalankan misi rahasia.

Audrey Kahin dan George Kahin Di Literatur Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA Di Indonesia (1997, hlm 232) mencatat, Di saku Pope ditemukan Literatur catatan misi serta kartu identitas militer Amerika Serikat.

Kabar penangkapan Pope memicu kemarahan Pemimpin Negara Soekarno. Di autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Soekarno secara tegas Mengungkapkan keyakinan Pope adalah agen CIA.

“Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. […] Di setiap Negeri yang Mutakhir berkembang orang Berencana melihat agen-agen Amerika banyak berkeliaran,” ujar Soekarno.

Hasil penyelidikan Membeberkan Pope merupakan veteran militer yang menerbangkan pesawat tempur Di pangkalan AS Di Didekat Filipina. Dia bukan satu-satunya pilot bayaran CIA yang dikerahkan Sebagai membantu pemberontakan Permesta, tetapi menjadi satu-satunya yang tertangkap hidup-hidup Dari militer Indonesia.

Sesudah identitas Pope terbongkar, pemerintah AS buru-buru membantah keterlibatan mereka. Tetapi, fakta Di lapangan tak lagi terbantahkan. Pope diadili dan dijatuhi hukuman mati. Meski demikian, Sebelumnya eksekusi dilaksanakan, dia akhirnya Merasakan pengampunan. Baca selengkapnya Di sini.

(mfa/mfa)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: TNI Pernah Sukses Gagalkan Operasi Rahasia CIA Di Indonesia