Wapres RI Resmi Putuskan Tak Ikut Pencoblosan Suara Nasional Lagi




Naskah ini merupakan Pada Di CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah Sebagai menjelaskan Situasi masa kini lewat relevansinya Di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Ri (Wapres) RI, Sultan Hamengkubuwono IX, pernah Membahas keputusan mengejutkan menjelang Pemilihan Umum (Pencoblosan Suara Nasional) 1978. Meski menjadi Kandidat tunggal terkuat Sebagai kembali mendampingi Ri Soeharto, Sultan justru menolak dicalonkan Sebagai periode 1978-1983. Alasannya, ia ingin hidup lebih bebas.

Keputusan tersebut disampaikan menjelang berakhirnya masa jabatan. Soeharto Malahan sempat menanyakan apakah penolakan itu disebabkan persoalan atau pertentangan Di Antara keduanya. Berdasarkan kesaksian Soeharto Untuk autobiografinya, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1988), Sultan menjawab singkat, “Tidak.”

Sultan Lalu menyampaikan bahwa dirinya ingin lebih bebas dan tidak lagi terikat Di ritme kehidupan sebagai pejabat tinggi Bangsa.

“Menurut penilaian beliau, lebih baik beliau berada Di luar lembaga tinggi Bangsa, Sebagai turut mempersatukan bangsa. Karena Itu, menurut beliau, ‘Akansegera lebih baik, Akansegera lebih fleksibel’,” ungkap Soeharto menirukan perkataan Sultan.

Keinginan Sebagai terbebas Di berbagai keterikatan sebagai pejabat tinggi Bangsa juga tercatat Untuk memoar Sang Demokrat Hamengku Buwono IX: Dokumen Setelahnya Sri Sultan (1988). Untuk sumber tersebut, Sultan disebut tidak senang Di protokol istana.

“Hanya dapat dilaksanakan jika saya melepaskan diri Di ‘hambatan resmi’ yang melekat Ke kedudukan Wakil Ri,” ungkap Sultan.

Keputusan itu bukan sekadar wacana. Sultan benar-benar teguh menolak kembali menduduki Sofa wakil Ri. Pejabat Tingginegara Luar Negeri sekaligus sahabat Didekat Sultan, Adam Malik, Malahan berulang kali Berusaha membujuknya agar tetap bersedia menjadi Kandidat wakil Ri. Tetapi, upaya tersebut tidak berhasil.

“Tetapi, tampaknya beliau tetap berpegang Ke prinsip, ‘Sabda Pandita Ratu’, yaitu sekali diikrarkan tidak Akansegera dicabut lagi,” ungkap Adam Malik.

Rekam Jejak Mentereng Di Pemerintahan Orde Mutakhir

Penolakan Sultan Sebagai kembali menjadi wakil Ri terbilang mengejutkan jika melihat rekam jejaknya Untuk pemerintahan Orde Mutakhir. Pada menjabat Ke periode 1973-1978, Sultan Dikatakan berhasil membantu memulihkan dan menstabilkan kepercayaan Di Untuk maupun luar negeri Pada pemerintahan Soeharto.

Sultan Hamengkubuwono IX, yang bernama asli Dorojatun, merupakan salah satu tokoh penting Ke awal pemerintahan Orde Mutakhir. Sebelumnya menjadi wakil Ri, ia dipercaya Soeharto menjabat sebagai Pejabat Tingginegara Koordinator Ekonomi, Keuangan dan Industri pertama Ke era tersebut.

Soeharto memilih Sultan sebagai wakil Ri Antara lain Sebagai menghilangkan kesan militerisme Untuk pemerintahannya. Hal itu sebagaimana diungkapkan Pejabat Tingginegara Keuangan sekaligus sahabat Didekat Sultan, Frans Seda.

“[…] Terlebih peranan Pak Sultan, Antara lain Sebagai menghilangkan kesan militerisme Untuk kepemimpinan Orba seperti yang ditiup-tiupkan Di Gestapu PKI dan antek-anteknya Di Untuk dan Di luar negeri,” ungkap Frans Seda, dikutip Di memoar Takhta Sebagai Rakyat: Celah-Celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX (2011).

Di rekam jejak tersebut, menjelang berakhirnya masa jabatan 1973-1978, nama Sultan kembali mencuat sebagai Kandidat tunggal terkuat Sebagai mendampingi Soeharto Ke periode berikutnya. Tetapi, alih-alih mempertahankan posisinya, Sultan justru memilih mundur Di pencalonan.

Diduga Ada Alasan Lain

Keinginan Sebagai hidup lebih bebas menjadi alasan yang disampaikan Sultan. Tetapi, keputusan tersebut juga memunculkan dugaan bahwa ada pertimbangan lain Di balik penolakannya.

Salah satu dugaan menyebutkan bahwa Sultan sudah tidak lagi sepenuhnya sejalan Di Soeharto.

Seturut John Monfries Untuk Raja Di Bangsa Republik: Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX Di Yogyakarta (2015) Menginformasikan, selama menjadi Wapres hanya Merasakan sedikit tanggung jawab dan tidak Memperoleh kekuasaan besar. Sebab, pusat kekuasaan tetap berada Di tangan Soeharto.

Di Di Itu, Sultan diduga menganggap Soeharto sudah jauh Di nilai Kedaulatan Rakyat Sebab Lebihterus otoriter.

Meski demikian, tanpa bukti sejarah yang secara jelas mengonfirmasi motif tersebut, alasan politik itu tidak dapat dipastikan sebagai penyebab sebenarnya. Ke akhirnya, Sultan Hamengkubuwono IX tidak kembali menduduki jabatan wakil Ri Setelahnya masa jabatannya berakhir Ke 1978. Ia meninggal dunia Ke 2 Oktober 1988.

(mfa/wur)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Wapres RI Resmi Putuskan Tak Ikut Pencoblosan Suara Nasional Lagi

nagabet76slot gacorslot online slot gacor terpercaya
server slot thailand
slot gacor mudah maxwin
nagabet76 login
situs slot gacorbr Slot Gacor Resmi Hari Ini