TNI Gagalkan Operasi Mata-Mata AS Di Indonesia, Pesawat CIA Ditembak




Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) kerap menjadi sorotan dunia Sebab keterlibatannya Untuk urusan politik Negeri lain. Sepanjang abad Di-20 hingga kini, Washington berulang kali turun tangan-baik secara terbuka maupun terselubung-Sebagai menggulingkan atau melemahkan pemerintahan yang dinilai bertentangan Bersama kepentingan nasionalnya. Intervensi tersebut menjadi Dibagian tak terpisahkan Bersama sejarah panjang Keputusan luar negeri AS.

Indonesia pun pernah merasakan langsung upaya intervensi Amerika Serikat. Di 1958, Washington terlibat Untuk pergolakan politik Untuk negeri Lewat Pemberian Pada pemberontakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta). Tetapi, berbeda Bersama sejumlah Perkara Hukum Hukum Di Negeri lain, upaya tersebut berakhir gagal.

Sejarah mencatat, keterlibatan badan Intel AS, Central Intelligence Agency (CIA), terbongkar Setelahnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) berhasil menembak jatuh pesawat mata-mata CIA Di Di konflik. Insiden tersebut menjadi salah satu bukti paling terang keterlibatan langsung AS Untuk dinamika politik Indonesia Di era Konflik Bersenjata Dingin.

Permesta merupakan gerakan Penolakan Di Sulawesi yang dipicu kekecewaan Pada pemerintah pusat yang dinilai terlalu sentralistis dan mengabaikan Area. Gerakan ini dideklarasikan Bersama Letnan Kolonel Ventje Sumual Di 2 Mei 1957. Di periode hampir bersamaan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) juga dideklarasikan Di Sumatra Barat. Kedua gerakan tersebut kerap disebut saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.

Meski berangkat Bersama Permintaan Area, pemerintah pusat memandang Permesta dan PRRI sebagai pemberontakan. Jakarta pun merespons Bersama mengirimkan operasi militer skala besar Sebagai menumpas pergolakan tersebut.

Untuk CIA, pergolakan Di Area menjadi Potensi strategis Sebagai melemahkan pemerintahan Pemimpin Negara Soekarno. Untuk arsip rahasia CIA tanggal 7 Februari 1964 berjudul “The Power Position of Indonesia’s President Soekarno”, AS kala itu memandang Soekarno Lebih condong Di komunisme yang mana bertentangan langsung Bersama ideologi dan kepentingan AS.

Atas dasar ini, Departemen Luar Negeri AS Dari 18 Maret 1957 mulai melakukan pemantauan khusus Pada perkembangan politik Di luar Pulau Jawa. Washington tidak sekadar Menyaksikan, tetapi juga mulai merancang Pemberian terselubung.

Sebab, CIA menganggap Walaupun pergolakan Di Area berakar Di kekecewaan lama Pada dominasi Jawa, arah perlawanan tidak berhenti Di situ. Gerakan itu juga secara langsung menyasar Pemimpin Negara Soekarno dan sikap politiknya.

“Meski pemberontakan ini mencerminkan kekecewaan lama Area-Area luar Pada dominasi Jawa, sasaran utamanya juga tertuju Di Pemimpin Negara Soekarno, khususnya sikapnya yang Memperkenalkan gagasan-gagasan komunis serta dukungannya terhadapnya,” tulis CIA Untuk arsip rahasia berjudul Indonesian Operation: Original Concept of Operation tertanggal 15 Mei 1958.

Lebih jauh, CIA secara terbuka memandang gejolak Di Sulawesi dan Sumatra sebagai instrumen Sebagai memperkuat kekuatan anti-komunis Di Indonesia. Untuk dokumen itu, CIA menegaskan perlunya memaksimalkan potensi tekanan politik Bersama pulau-pulau luar guna mempengaruhi peta kekuasaan nasional, khususnya Di Jawa.

“Memanfaatkan pengaruh atau daya tekan apa pun yang tersedia dan dapat dibangun Bersama kekuatan anti-Komunis Di pulau-pulau luar Sebagai melanjutkan upaya kita Untuk menyatukan dan Mendorong Sebagai bertindak bersama-sama unsur-unsur non-Komunis dan anti-Komunis Di Jawa melawan kaum Komunis,” tulis CIA Untuk salah satu Nilai perintahnya Di dokumen yang sama.

Keterlibatan AS Untuk operasi ini akhirnya terbongkar lewat Perkara Hukum Hukum Allen Pope. Di 18 Mei 1958, TNI berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur yang Sebelumnya Memberi bom Di Ambon, menghancurkan pasar dan sejumlah bangunan strategis. Serangan itu menewaskan enam warga sipil dan 17 prajurit TNI.

Pilot pesawat tersebut selamat. Pada digeledah, terungkap dia adalah warga Negeri AS bernama Allen Lawrence Pope. Dia bukan pilot sipil biasa, melainkan agen CIA yang Di menjalankan misi rahasia.

Audrey Kahin dan George Kahin Untuk Literatur Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA Di Indonesia (1997, hlm 232) mencatat, Di saku Pope ditemukan Literatur catatan misi serta kartu identitas militer Amerika Serikat.

Kabar penangkapan Pope memicu kemarahan Pemimpin Negara Soekarno. Untuk autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965), Soekarno secara tegas Berkata keyakinan Pope adalah agen CIA.

“Aku 99,9% yakin bahwa Pope seorang agen CIA. […] Di setiap Negeri yang Mutakhir berkembang orang Akansegera melihat agen-agen Amerika banyak berkeliaran,” ujar Soekarno.

Hasil penyelidikan Menginformasikan Pope merupakan veteran militer yang menerbangkan pesawat tempur Bersama pangkalan AS Di Didekat Filipina. Dia bukan satu-satunya pilot bayaran CIA yang dikerahkan Sebagai membantu pemberontakan Permesta, tetapi menjadi satu-satunya yang tertangkap hidup-hidup Bersama militer Indonesia.

Setelahnya identitas Pope terbongkar, pemerintah AS buru-buru membantah keterlibatan mereka. Tetapi, fakta Di lapangan tak lagi terbantahkan. Pope diadili dan dijatuhi hukuman mati. Meski demikian, Sebelumnya eksekusi dilaksanakan, dia akhirnya Memperoleh pengampunan. Baca selengkapnya Di sini.

(hsy/hsy)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: TNI Gagalkan Operasi Mata-Mata AS Di Indonesia, Pesawat CIA Ditembak

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/