Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hussein Kanani, mengklaim Arab Saudi telah Memperoleh senjata nuklir, dan keberadaannya disebut sepenuhnya diketahui Bersama Amerika Serikat (AS) serta Israel.
Pernyataan itu disampaikan Kanani Untuk wawancara Bersama RT Hingga Ditengah meningkatnya ketegangan Politik Global Di Washington dan Iran Yang Berhubungan Bersama Topik nuklir. Meski belum terverifikasi, sejarah Menunjukkan bahwa tuduhan kepemilikan senjata strategis Hingga Bangsa Arab pernah memicu Pertempuran besar, seperti invasi AS Hingga Irak Di 2003 yang berangkat Bersama Topik senjata pemusnah massal.
Sebagai pengingat, AS kala itu menyerang Irak Bersama dalih bahwa Bangsa tersebut Memperoleh senjata pemusnah massal, termasuk Langkah senjata nuklir. Akan Tetapi, klaim itu belakangan terbukti tidak benar Lantaran didasarkan Di laporan Informasi yang keliru. Padahal, serangan tersebut sudah membunuh ratusan ribu rakyat sipil dan mengubah wajah Irak.
Kejadiannya bermula Di 20 Maret 2003. Mengutip Literatur The Search For Iraq’s Weapons of Mass Destruction (2005), AS, bersama Inggris, Australia, dan Polandia, melancarkan operasi militer besar-besaran Bersama mengerahkan Disekitar 173 ribu tentara. Bersama angka itu, lebih Bersama 130 ribu Hingga antaranya berasal Bersama AS. Administrasi Pemimpin Negara AS George W Bush (2001-2009) meyakini Irak Hingga bawah kepemimpinan Saddam Hussein Memperoleh senjata nuklir serta persenjataan kimia dan biologis yang harus dilucuti.
Hingga Samping Itu, AS juga menjadikan penggulingan rezim Saddam sebagai tujuan Pertempuran. Alasannya rezim tersebut dituding Memperoleh hubungan Bersama Al-Qaeda, kelompok yang Disorot bertanggung jawab atas serangan Kekerasan Politik terbesar yakni serangan 11 September 2001.
Keputusan besar tersebut dilakukan Bush usai Memperoleh laporan kalau negeri 1001 malam itu Membuat senjata nuklir. Buktinya diperoleh Bersama informasi keberadaan fasilitas nuklir dan tabung penyimpan bahan nuklir. Bukti-bukti lain juga menjelaskan kepemilikan senjata biologis dan kimia. Mengutip Washington Post, AS dan sekutunya percaya kalau senjata tersebut bisa aktif Untuk 45 menit dan bisa menghancurkan dunia.
Narasi inilah yang Setelahnya Itu digunakan Untuk meyakinkan komunitas internasional dan membangun legitimasi politik atas Pertempuran. Akhirnya, AS dan sekutu benar-benar melakukan serangan, mengacak-acak Irak hingga mengakibatkan ribuan warga sipil meninggal. Menurut Kajian yang dikutip BBC International, terdapat 461 ribu warga tewas Dari awal serangan hingga tahun 2011.
Akan Tetapi, Setelahnya Daerah itu dikuasai, tidak ditemukan senjata pemusnah massal sebagaimana yang dituduhkan.
Skuat inspeksi Membeberkan Irak sudah Dari lama tidak punya kemampuan memproduksi senjata pemusnah massal, baik nuklir, kimia dan biologi. Belakangan, diketahui seluruh keyakinan tersebut bersumber Bersama Informasi yang salah.
Laporan resmi Badan Informasi Inggris berjudul “Review of Intelligence on Weapons of Mass Destruction” (2004) Membeberkan tuduhan tersebut didasarkan Di sumber Informasi yang tidak kredibel. Bush disebut telah Memperoleh peringatan Bersama sejumlah sumber Informasi lain, tetapi tetap berpegang Di satu sumber yang keliru dan menjadikannya legitimasi.
Akan Tetapi, nasi sudah berubah menjadi bubur. Fakta Mutakhir ini tidak bisa mengembalikan keadaan Hingga Irak yang hancur lebur Lantaran ulah Paman Sam dan sekutu. Meski begitu, Bush tak meminta maaf dan menyebut informasi Informasi tersebut adalah terbaik, meski keliru.
“Saya mendasarkan keputusan saya Di Informasi terbaik yang tersedia,” kata Bush, dikutip Bersama Al Jazeera.
(mfa/mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Diduga Punya Nuklir, AS Kirim 130 Ribu Tentara Serang Bangsa Arab Ini











