Jakarta, CNBC Indonesia – Menjadi tentara Amerika Serikat (AS) kerap dibayangkan sebagai jalan hidup bergengsi. Kerja Didalam perlengkapan canggih dan status sosial yang mentereng. Akan Tetapi, Bagi Sudirman Boender, seorang Warga Bangsa Indonesia (WNI), Pengalaman Hidup itu justru menjadi disikapi berbeda.
Boender bukan hanya menjadi tentara AS. Dia Justru lolos Di pasukan khusus yang kelak dikenal sebagai cikal bakal NAVY SEAL. Tapi Di balik status elite itu, tersimpan kisah tentang Laga Persahabatan kejam yang membuatnya “tobat” dan berkali-kali nyaris mati.
Kisah Boender bermula jauh Sebelumnya seragam militer melekat Di tubuhnya. Dia lahir Di Yogyakarta, 12 Februari 1920. Hidupnya berubah drastis Pada masih belasan tahun, ketika dia diusir Didalam Tempattinggal. Tanpa tujuan jelas, Boender kabur Di Jakarta. Di kota itu, nasib membawanya bertemu Bowen, seorang warga Bangsa AS yang Lalu membiayai pendidikannya hingga Di California Di awal 1940-an.
Awalnya, Boender hanya ingin belajar kedokteran dan memperbaiki hidup. Akan Tetapi, Pertempuran Dunia II mengubah segalanya. Di September 1942, Jepang menyerang Pearl Harbor. AS pun Mengungkapkan Pertempuran dan membuka front besar Di kawasan Pasifik.
Situasi darurat membuat pemerintah AS memberlakukan wajib militer besar-besaran. Bukan hanya Sebagai warga negaranya, tetapi juga semua pria dewasa yang Dikatakan sehat-tanpa memandang kewarganegaraan.
“Kejatuhan Asia Tenggara menggawatkan kami. Wajib dinas militer menjadi perintah serius. Semua pria dewasa yang sehat jasmani dan rohani harus masuk militer, tanpa memandang kewarganegaraan atau asal-usulnya. Produk Internasional siapa yang menolak, Akansegera dipenjarakan tanpa diadili Sebagai jangka waktu yang tak diketahui,” tulis Boender Untuk memoarnya Terhempas Prahara Di Pasifik: Kenangan Seorang Prajurit Bekas Anggota The Rainbow Division (1982).
|
Foto: Tentara Israel berkumpul Di sisi perbatasan Israel Didalam Lebanon, Di Di eskalasi Di Hizbullah dan Israel, dan Di Di konflik AS-Israel Didalam Iran, Di Israel utara, 16 Maret 2026. (REUTERS/Shir Torem)
Tentara Israel berkumpul Di sisi perbatasan Israel Didalam Lebanon, Di Di eskalasi Di Hizbullah dan Israel, dan Di Di konflik AS-Israel Didalam Iran, Di Israel utara, 16 Maret 2026. (REUTERS/Shir Torem) |
Boender mengaku ketakutan. Akan Tetapi, tak ada ruang Sebagai menolak. Dia dipanggil, dikumpulkan, lalu dibawa Di lokasi pelatihan terpencil Sebagai menjadi militer yang sepenuhnya berada Di bawah teror disiplin.
Tempat itu, Untuk ingatan Boender, tak lain adalah “tempat jahanam”.
Hari-harinya diisi Laga Persahabatan tanpa ampun. Bangun Sebelumnya fajar, berlari, menembak, mempelajari Pendekatan tempur, hingga Merasakan hukuman fisik tanpa henti. Tamparan, cacian, dijemur Di bawah matahari, menjadi rutinitas Di dua hingga tiga bulan.
“Tampar, caci dan nista menjadi bunga-bunga bahasa Untuk pergaulan Di tempat jahanam (red, neraka) ini,” kenangnya.
Sesudah tahap awal, hanya 200 orang terbaik yang lolos seleksi lanjutan. Boender termasuk Di dalamnya. Akan Tetapi, penderitaan justru Meresahkan. Jadwal makin padat, Manajer makin brutal, dan hukuman tak lagi sekadar fisik ringan.
“Jenis hukuman bukan lagi tempeleng dan tentang, tapi sudah Meresahkan Di melemparkan orang Di laut,” ungkapnya.
Didalam sana, hanya 20 orang yang dipilih Sebagai bergabung Didalam Underwater Demolition Team (UDT), pasukan khusus operasi bawah air. yang Dari Sebab Itu tugas paling berbahaya Untuk Pertempuran laut. Boender kembali lolos, meski sebenarnya tak menginginkannya.
“Latihannya? Tobaaaat! Tempat berlatihnya Di samudera pasifik yang amat Untuk. Kalau Laga Persahabatan gabungan sudah hampir tak tertahankan, maka Laga Persahabatan UDT ini sepuluh kali lebih berat Didalam itu,” tulis Boender.
“Bahwa Di Di kami tak ada yang tewas atau Luka Sebab lupa atau salah melakukan instruksi, atau gugup Pada terakhir, berkat Tuhan jualah yang menyertai kami.”
Laga Persahabatan bawah air itu mempertaruhkan nyawa. Salah gerak, salah napas, atau panik sedikit saja, kematian menunggu. Boender bertahan. Dia lulus, Justru dipercaya menjadi komandan peleton dan dikirim Di medan Pertempuran Asia-Pasifik melawan Jepang.
Boender selamat Didalam Pertempuran. Dia akhirnya kembali Di Indonesia. Sejumlah sumber menyebut, pengalamannya turut berkontribusi Untuk pembentukan Komando Pasukan Sandi Yudha-cikal bakal Kopassus.
Akan Tetapi, Bagi Boender, semua itu meninggalkan satu pelajaran pahit. Menjadi tentara Asing bukan kisah heroik semata. Di baliknya ada paksaan, ketakutan, dan Laga Persahabatan yang membuatnya benar-benar “tobat”.
(mfa/wur)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Cerita WNI Gabung Tentara AS dan Ikut Pertempuran, Akui Nyawa Hampir Hilang











