15 Pejabat Tingginegara Terdekat Kepala Negara RI Ditangkap Polisi, Ini Kasusnya




Jakarta, CNBC Indonesia – Sejarah Indonesia pernah mencatat kejadian tak biasa. Sebanyak 15 Pejabat Tingginegara terdekat Kepala Negara RI pernah ditangkap aparat hanya Untuk hitungan minggu Sesudah dilantik. Peristiwa itu terjadi Ke era Kepala Negara Soekarno Ke 1966.

Kala itu, Soekarno Terbaru saja melakukan reshuffle besar-besaran Pembantu Presiden Kerja Dwikora Ke 12 Februari 1966. Perombakan dilakukan Ke Di situasi politik dan ekonomi yang kacau pasca-Gerakan 30 September.

Menurut kesaksian Soe Hok Gie Untuk Zaman Peralihan (2005), Dari akhir 1965 harga bahan Ketahanan Pangan melonjak tak terkendali hingga ratusan persen. Harga bensin juga naik drastis Untuk Rp400 menjadi Rp1.000. Situasi tersebut memicu Aksi Massa besar-besaran mahasiswa Ke Jakarta yang menuntut perubahan menyeluruh.

Meski demikian, Soekarno membantah reshuffle dilakukan Lantaran tekanan Aksi Massa.

“Disesuaikan Didalam tingkatan revolusi Ke waktu ini. Itulah yang menjadi sebab saya Melakukan reshuffle daripada Pembantu Presiden Kerja Dwikora ini. Bukan Dari Lantaran Keinginan, bukan Dari Lantaran Aksi Massa-Aksi Massa yang gila-gilaan!” kata Soekarno Untuk Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Kepala Negara Sukarno 30 September 1965-Pelengkap Nawaksara (2014).

Akan Tetapi, Pembantu Presiden Kerja Terbaru itu ternyata tak berumur panjang. Hanya Di satu bulan Sesudah pelantikan, tepatnya Ke 18 Maret 1966, sebanyak 15 Pejabat Tingginegara ditangkap Dari Polisi Militer Angkatan Darat.

Mereka yang ditangkap Di lain Subandrio, Chaerul Saleh, Achadi, Setiadi Reksoprodjo, Sumardjo, Oei Tjoe Tat, Letkol Sjafei, Mayor Jenderal Achmadi, Jusuf Muda Untuk, Pejabat Tingginegara Pertambangan Armunanto, Sutomo Martopradopo, Astrawinata, J. Tumanaka, dan Sumarno Sostroatmodjo.

Sebagian besar Pejabat Tingginegara yang ditangkap dikenal sebagai orang terdekat Soekarno. Berusaha Mengatasi situasi ini, orang nomor satu Ke Indonesia itu tak bisa berbuat apapun Lantaran tak punya lagi kuasa. 

Menurut sejarawan Ricklefs Untuk Sejarah Indonesia Modern (1999) penangkapan ini berkaitan erat Didalam perubahan politik nasional Sesudah keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar. Ke 11 Maret 1966, Soekarno Memberi kewenangan kepada Soeharto Sebagai memulihkan Perlindungan dan ketertiban Negeri.

Lewat mandat tersebut, Soeharto Lalu Membahas sejumlah langkah penting, salah satunya Menyita para Pejabat Tingginegara yang Disorot beraliran kiri dan dituduh terlibat Gerakan 30 September. 

Akan Tetapi, menurut Harold Crouch Untuk Militer dan Politik Ke Indonesia (1999), Soeharto Lalu membagi para Pejabat Tingginegara yang ditahan itu menjadi tiga kategori, yakni 1) mereka yang punya hubungan kuat Didalam PKI, 2) mereka yang tidak jujur Untuk membantu Kepala Negara, 3) mereka yang hidup mewah Ke atas penderitaan rakyat.

Ke akhirnya, penangkapan mereka menjadi salah satu titik penting yang mempercepat melemahnya kekuasaan Soekarno. Tak lama Sesudah itu, kekuasaan politik sang Kepala Negara pertama Indonesia perlahan runtuh.

(mfa/wur)



Add



as a preferred

source on Google



Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: 15 Pejabat Tingginegara Terdekat Kepala Negara RI Ditangkap Polisi, Ini Kasusnya

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/