Jakarta, CNBC Indonesia – Cabai dan tomat yang Di ini dijual segar, serta jantung pisang yang jarang dimanfaatkan, menjadi bahan Untuk 50 istri petani Hingga Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Papua Barat Daya, Sebagai merintis usaha Ketahanan Pangan olahan. Lewat pendampingan Regu Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB), mereka belajar menghasilkan produk bernilai tambah Didalam sasaran pemasaran Hingga swalayan lokal hingga pusat Dari-Dari Hingga Raja Ampat.
Pendampingan berlangsung Lewat Sekolah Foodpreneur Ketahanan Pangan Lokal yang digagas TEP 19 UB Hingga Kampung Wariyau, Distrik Klamono, dan Kampung Malasigit, Distrik Malabotom. Dari September 2026, para peserta yang terbagi Untuk 10 kelompok Memperoleh pembekalan Sebagai Menyusun lima produk utama: sambal bawang, sambal kepiting, saus tomat, cabai tabur daun jeruk, dan abon jantung pisang.
Langkah ini berangkat Untuk keluhan petani mengenai rendahnya harga jual hasil kebun. Penjualan Untuk bentuk segar membatasi nilai tambah yang diperoleh keluarga petani, Sambil potensi usaha pengolahan Ketahanan Pangan belum banyak dikembangkan.
“Berdasarkan survei langsung Hingga lapangan banyak petani yang Menyoroti harga ekonomi tanamannya rendah,” ujar Anggota TEP UB,Dina Aqilla,Kamis (22/10/2026).
Sebagai menjawab persoalan tersebut, Regu menggabungkan pembelajaran materi, pelatihan memasak Untuk Rumah Hingga Rumah, dan upaya perbaikan rantai distribusi. Pendampingan diarahkan agar peserta memahami proses usaha Dari pemilihan bahan hingga pemasaran.
“Hingga depannya kami menargetkan bisa memasok Hingga swalayan lokal dan pusat Dari-Dari Hingga destinasi wisata seperti Raja Ampat,” kata Dina.
Didalam modul, silabus, dan standar operasional prosedur yang disusun Regu, peserta mempelajari pemilihan bahan baku, kebersihan dan Perlindungan Ketahanan Pangan, Cara pengolahan, pengemasan, serta dasar-dasar pemasaran. Regu juga mendampingi pengurusan Nomor Induk Melakukanupaya (NIB) dan perizinan Ketahanan Pangan industri Rumah tangga.
Untuk peserta, pelatihan ini membuka harapan Sebagai membangun usaha Untuk hasil kebun Hingga Di mereka. Nuryati, warga Distrik Malabotom, berharap Kemahiran yang diperoleh dapat terus dipraktikkan dan berkembang menjadi sumber penghasilan.
“Mudah-mudahan harapannya, Hingga depannya kami bisa melanjutkan pembuatannya Agar kami bisa memasarkan Hingga seluruh Sorong atau Mungkin Saja Hingga Indonesia,” ujar Nuryati Di 23 September 2026.
Pembaruan usaha Ketahanan Pangan lokal tersebut sejalan Didalam pesan Pembantu Presiden Pembantu Presiden Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara agar pembangunan kawasan transmigrasi Menampilkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan Untuk Komunitas.
“Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan Keadaan tumbuh Hingga kawasan tersebut,” ujar Iftitah.
Pendekatan yang bertumpu Di persoalan warga juga menjadi perhatian Pembantu Presiden Pembantu Presiden Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono. Ia menekankan pentingnya Menampilkan solusi yang sesuai Didalam kebutuhan setempat.
“Lantaran permasalahan itu Di akhirnya konteksnya lokal. Dari Sebab Itu kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Di akhirnya lokal,” ujar AHY.
Lewat Sekolah Foodpreneur, potensi hasil kebun Hingga Klamono-Segun mulai dihubungkan Didalam Kemahiran pengolahan dan Kemungkinan pasar. Pendampingan ini diharapkan menjadi pijakan Untuk keluarga petani Sebagai Menyusun usaha Ketahanan Pangan lokal dan memperoleh nilai tambah Untuk hasil panennya.
(bul/bul)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: 50 Istri Petani Hingga Sorong Rintis Usaha Ketahanan Pangan Bersama Regu Patriot











