Kisah Aroma Menyengat Diplomat RI Bikin Pangeran Inggris Terdiam




Jakarta, CNBC Indonesia – Ada kisah Memikat Di sejarah hubungan diplomatik Indonesia-Inggris. Peristiwa itu terjadi Ke 3 Juni 1953 Hingga Westminster Abbey, London, ketika aroma menyengat Di diplomat Indonesia membuat pangeran Inggris terdiam Hingga Ditengah upacara penobatan Ratu Elizabeth II.

Hari itu, Haji Agus Salim hadir Hingga Inggris atas penugasan Kepala Negara Soekarno. Dia mewakili Indonesia bersama Sri Spike Alam dan Duta Besar RI Sebagai Inggris guna menjalin hubungan baik Bersama Inggris dan para utusan Bangsa lain yang Berpartisipasi Di penobatan.

Di salah satu sesi Kegiatan, panitia memberi kesempatan kepada para tamu Sebagai bercengkrama santai. Merokok pun diperbolehkan. Tak lama Lalu, ruangan dipenuhi asap rokok para undangan. Tetapi suasana berubah ketika giliran Agus Salim menyalakan rokoknya.

Dia mengisap rokok kretek. Alias rokok bercampur cengkeh Bersama aroma khas yang jauh berbeda Di rokok tembakau biasa. Bau menyengat itu segera Memikat perhatian banyak orang, termasuk Pangeran Philip, Duke of Edinburgh sekaligus suami Ratu Elizabeth II. Dia yang awalnya mendadak terdiam langsung menghampiri Agus Salim dan bertanya spontan.

“What is that, what is that?,” kata Pangeran Philip, seperti dituturkan ulang Dari Soekarno Di pidatonya berjudul “Berikan Jiwa Ragamu Sepenuh-penuhnya” (12 September 1963).

Agus Salim Lalu menjawab Bersama Damai bahwa itu adalah rokok cengkeh. Ini memang berbeda Bersama rokok-rokok yang ditemukan Hingga Inggris. Mendengar penjelasan tersebut, sang pangeran menimpali aromanya terasa berbeda dan cenderung punya bau aneh. Tetapi, Haji Agus Salim sama sekali tidak tersinggung.

Dia lantas menjawab Bersama lugas dan bermakna sejarah. 

“Yang Mulia, bau yang tidak sedap itu berasal Di rokok kretek saya, yang terbuat Di tembakau dan cengkeh. Boleh saja Yang Mulia tidak menyukainya, Tetapi bau inilah yang Memikat minat pelaut-pelaut Eropa datang Hingga negeri kami tiga abad yang lalu,” ujar Salim dikutip Di Haji Agus Salim (1884-1954): tentang Pertempuran, jihad, dan pluralisme (2004).

Kalimat itu sontak membuat suasana hening. Para hadirin dikisahkan terdiam, Sambil Itu Pangeran Philip tidak melanjutkan komentarnya dan justru meminta para tamu kembali membaur santai.

Ketegasan dan keberanian itulah yang Sebelum lama menjadi pegangan Agus Salim Di menjalankan Hubungan Luar Negeri. Ke masa awal kemerdekaan, ketika dia menjabat sebagai Pembantu Presiden Pembantu Presiden Luar Negeri, Salim tampil sebagai salah satu representasi utama Indonesia Hingga hadapan dunia internasional.

Gaya Hubungan Luar Negeri dan kepribadiannya yang kuat membuatnya Memikat perhatian banyak pihak Asing. Bukan hanya kolega sesama diplomat, tetapi juga para pemimpin Bangsa lain. Salah satunya adalah Willem Schermerhorn, diplomat sekaligus Perdana Pembantu Presiden Pembantu Presiden Belanda, yang merasa kagum sekaligus heran melihat sosok Agus Salim.

Kekaguman itu dituangkan Schermerhorn Di catatan hariannya, Het Dagboek van Schermerhorn (1946). Di tulisannya, dia menggambarkan Agus Salim sebagai sosok luar biasa.

“Orang tua yang sangat pintar ini, seorang jenius Di bidang bahasa, bicara, dan menulis Bersama sempurna, menguasai paling sedikit sembilan bahasa. Dia hanya Memperoleh satu kelemahan, yaitu Pada hidupnya melarat.”

Selain menjadi diplomat, Salim juga aktif mengajar Hingga berbagai universitas Di dan luar negeri. Kegiatan ini dilakukan sampai wafat Ke 4 November 1954. 

(mfa/luc)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Kisah Aroma Menyengat Diplomat RI Bikin Pangeran Inggris Terdiam