Jakarta, CNBC Indonesia – Sejarah mencatat ada pejabat Indonesia yang sempat dikucilkan dan ditahan Di Untuk negeri. Akan Tetapi, Di luar negeri, sosok ini justru Menyambut penghormatan dan dipercaya menduduki posisi penting Di sejumlah organisasi internasional.
Sosok tersebut adalah Mohammad Natsir yang pernah menjadi Pembantu Pemimpin Negara dan Perdana Pembantu Pemimpin Negara Indonesia Di 1950. Akan Tetapi, posisi terhormat itu berubah ketika Natsir terlibat Untuk gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Untuk autobiografi berjudul Natsir: Politik Santun Di Antara Dua Rezim (2016) disebutkan, pemerintah Sesudah Itu Menyita Natsir Di 1960. Ia menjalani masa tahanan politik hingga akhirnya dibebaskan Di 1966.
Ketika era Soeharto, Natsir tetap dicap sebagai pembangkang dan hidup terlunta-lunta Di negeri sendiri. Akan Tetapi, ketika pemerintah Indonesia menjauhinya, Natsir justru Menyambut tempat terhormat Di dunia internasional.
Hal ini tidak terlepas Didalam kiprahnya sebagai intelektual dan pemikir Islam. Salah satu pandangan Natsir yang dikenal adalah ajaran bahwa Islam mengutamakan akal sehat Untuk menjalankan ajarannya. Atas dasar pandangan tersebut, ia Mendorong Islam Sebagai turut berperan Untuk membangun bangsa Melewati pemerintahan.
Menurut Izamudin Ma’mur Untuk Eksperimen berjudul Abul Aʻla Mawdudi’s and Mohammad Natsir’s Views on Statehood: A Comparative Study (1995), pemikiran dan kiprah Natsir membuat pengaruhnya tetap terasa Di dunia internasional.
Pengakuan itu Justru datang ketika perjalanan politik Natsir Di Indonesia Ditengah berada Untuk situasi sulit. Di 1957, ia dianugerahi gelar Grand Gordon of Nikhan Istihar sebagai bentuk Apresiasi atas dukungannya Pada perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.
Sesudah dibebaskan Didalam tahanan, kiprah Natsir Di dunia internasional Lebih terlihat. Ia tidak hanya dikenal sebagai politikus dan pemikir Islam Didalam Indonesia, tetapi juga dipercaya memegang posisi penting Untuk berbagai organisasi Muslim dunia.
Salah satunya adalah Kongres Muslim Dunia (World Muslim Congress) Di Karachi, Pakistan. Natsir dipercaya menjadi wakil Pemimpin Negara organisasi tersebut Sebelum 1967 hingga akhir hayatnya Di 1993.
Kepercayaan serupa juga datang Didalam Mekkah. Sebelum 1969 hingga 1993, Natsir menjadi anggota Majlis Ta’sisi Rabitah Alam Islami. Sesudah Itu, Di 1976 hingga 1993, ia juga menjadi anggota Majlis Alami lil Masjid.
Pengaruhnya Justru meluas hingga Di Bangsa-Bangsa Barat dan Asia. Di 1980-an, Natsir aktif Untuk organisasi internasional Di Kuwait, Inggris, dan Pakistan. Natsir juga memperoleh Apresiasi Didalam dunia internasional.
Dia dianugerahi Apresiasi tertinggi Didalam Raja Arab Saudi Faisal, yakni Jaizatul Malik Faisal al-Alamiya. Lalu, pernah juga Menyambut gelar doktor Honoris Causa Didalam berbagai kampus dunia.
Rangkaian posisi dan Apresiasi tersebut Menunjukkan bahwa Natsir bukan sekadar Memiliki pengaruh Untuk politik Indonesia. Di Ditengah posisinya yang tersisih Didalam panggung politik Untuk negeri, ia justru dipercaya dan dihormati Di lingkungan internasional, khususnya dunia Muslim.
Pengaruh tersebut bertahan hingga akhir hayat Natsir Di 1993. Di Indonesia, namanya Mutakhir perlahan direhabilitasi Sesudah pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Di 2008.
(mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Pejabat Ini Dikucilkan Di RI, tapi Malah Dihormati Bangsa Lain











