Jakarta, CNBC Indonesia – Kebakaran Liar dan lahan yang kembali Menyapu kawasan Gunung Bromo Dari 3 Agustus 2026 ternyata bukan persoalan Terbaru. Puluhan tahun lalu, kawasan yang berada Ke Pegunungan Tengger ini juga pernah dilanda kebakaran besar. Salah satunya terjadi Ke 1953 dan diduga dipicu Kegiatan warga yang membakar arang.
Dampaknya, Kebakaran Liar berkobar Pada dua hari Ke lereng Gunung Bromo, Disekitar Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Laporan Java-bode (31 Juli 1953) menyebut kebakaran tersebut menghanguskan Disekitar 125 hektare hutan cemara dan sebidang lahan penanaman Terbaru.
“Pada dua hari, Kebakaran Liar berkobar Ke lereng Ringgit dan Bromo Ke Disekitar Sapikerep Ke Kecamatan Sukapura. Secara total, 125 hektare hutan cemara dan sebidang lahan penanaman Terbaru hangus terbakar,” demikian laporan tersebut.
Hal serupa diberitakan Het nieuwsblad voor Sumatra (3 Agustus 1953), yang Melaporkan kebakaran ratusan hektare lahan. Menurut koran tersebut, api diduga disebabkan Dari Kegiatan pembakaran arang Dari warga setempat.
“Penyebab kebakaran kemungkinan besar disebabkan Dari pembakaran arang Dari penduduk,” tulis Het nieuwsblad voor Sumatra.
Sebenarnya, hitung mundur 20 tahun lalu, kebakaran yang disebabkan Dari Kegiatan penduduk juga pernah terjadi. Ke 16 Oktober 1933, api juga muncul Ke kawasan Laut Pasir atau Zandzee Ke Pegunungan Tengger. Kobaran api Sesudah Itu menyebar cepat Ke arah Lumajang dan Malang.
Laporan De Indische Courant (17 Oktober 1933) mencatat kebakaran tersebut terjadi Ke lereng Zandzee dan diduga disebabkan Dari Kegiatan warga.
“Ke Senin sore, kebakaran terjadi Ke lereng Zandzee, yang menyebar Untuk Lumajang Ke Malang,” tulis De Indische Courant.
Kebakaran tersebut Justru berdampak Ke Cagar Alam Bromo. Meski demikian, kawasan tersebut berhasil diselamatkan Untuk kerusakan Lebih Jelas Untuk Sambil Itu waktu. Upaya pemadaman Sesudah Itu dilakukan secara bersama-sama. Aparat dan penduduk setempat turun tangan Untuk menghentikan kobaran api.
“Dinas Untuk Negeri, Dinas Kehutanan, dan Polisi Lapangan Probolinggo, Bersama Dukungan warga setempat, sibuk melakukan upaya pemadaman kebakaran,” tulis surat kabar Bredasche Courant (18 Oktober 1933).
Kebakaran Terbaru mereda Sesudah berlangsung Pada 3-4 hari. Menurut laporan Het Volk (23 Oktober 1933), hal tersebut terjadi Sesudah penyebaran api berhasil dicegah. Para petugas menggali parit Untuk menghentikan pergerakan api.
Meski api sudah padam, jejaknya tak bisa hilang Untuk waktu cepat. Butuh waktu lama Untuk Bromo Untuk kembali hijau seperti sedia kala.
Apalagi, Bromo Dari lama telah dikenal sebagai tujuan wisata. Ke awal abad Ke-20, pelancong Foreign sudah datang Untuk menikmati keindahan kawasan ini, termasuk Merasakan matahari terbit Untuk Bromo.
Salah satu orang yang Merasakan keindahan ini adalah turis asal Amerika Serikat, Thomas H. Reid Ke 1907.
“Pada kami berdiri Ke dinding kawah yang sangat besar, menghadap Ke lautan pasir, kami Merasakan pancaran cahaya keemasan yang perlahan memancar Untuk balik puncak gunung Ke sebelah timur. Kami merasa perjalanan kami tidak sia-sia,” tulis Reid Untuk Across the Equator, A Holiday Trip in Java (1908).
Atas dasar inilah, kebakaran yang Menyapu kawasan Bromo Dari dulu bukan hanya soal hutan yang terbakar, tetapi juga menyangkut kelestarian lanskap alam yang menjadi daya tarik wisata hingga hari ini.
(mfa/mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Warga Bakar Arang, 125 Ha Hutan Cemara Gunung Bromo Hangus Terbakar











