Dunia Heboh, AS Ternyata Tiru Langkah Indonesia Bikin Perserikatan Bangsa-Bangsa Mutakhir




Jakarta, CNBC Indonesia – Kepala Negara Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi Melakukan Dewan Kedamaian Di Gaza dan mengundang sejumlah Bangsa Bagi bergabung sebagai anggota. 

Keberadaan Dewan Kedamaian ini dinilai banyak pihak sebagai upaya Trump membangun “Perserikatan Bangsa-Bangsa Mutakhir”, seiring sikapnya yang kian menjauh Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Sebelumnya, Trump tercatat Menarik Perhatian AS keluar Di puluhan lembaga Di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa Sebab Disorot tidak lagi sejalan Di kepentingan Washington.

Tetapi, langkah Trump tersebut sejatinya mirip tindakan Indonesia enam dekade lalu. Ketika itu, Indonesia juga tercatat membentuk organisasi tandingan Perserikatan Bangsa-Bangsa bernama Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) Di 7 Januari 1965 seiring kekecewaan Soekarno Di organisasi tersebut.

Keputusan ini bermula Dari 1960 Pada Soekarno memandang Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai lembaga yang tidak lagi netral. Ida Anak Agung Gde Agung Di Twenty Years Indonesia Foreign Policy 1945-1965 (1973) Menginformasikan, Soekarno menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menjelma menjadi perpanjangan kepentingan Bangsa-Bangsa kolonial Barat Di Keputusan yang sarat neokolonialisme.

Kekecewaan tersebut lantas Mendorong Indonesia Memutuskan jarak Di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Seperti yang kini dilakukan Trump, Soekarno membawa Indonesia Menarik Perhatian diri Di sejumlah lembaga Di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, seperti WHO dan IMF. Konsekuensinya tidak kecil. Indonesia harus kehilangan Pemberian internasional bernilai jutaan Kurs Matauang Amerika AS.

Di fase inilah, benih gagasan tentang “Perserikatan Bangsa-Bangsa tandingan” ala Soekarno mulai tumbuh.

Soekarno menggulirkan ide pembentukan Conference of the New Emerging Forces (CONEFO). Organisasi ini dirancang sebagai wadah Bangsa-Bangsa Mutakhir Di Asia dan Afrika yang disebut New Emerging Forces (NEFO). NEFO diposisikan sebagai antitesis Di Old Established Forces (OLDEFO), yakni kekuatan lama Barat yang Disorot mendominasi tatanan dunia.

Realisasi CONEFO Mutakhir terwujud Di 7 Januari 1965. Hari itu, Soekarno melihat bukti final Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak netral dan hanya melayani kepentingan Bangsa-Bangsa Barat, sekaligus mendukung neokolonialisme Di Asia Tenggara, yakni menjadikan Malaysia sebagai anggota Dewan Perlindungan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Sebagai wawasan, Dari 1961 hubungan Indonesia-Malaysia memanas. Sejarawan M.C. Ricklefs Di Sejarah Indonesia Modern (1999) mencatat, Soekarno memandang pembentukan Federasi Malaysia sebagai proyek kolonialisme Mutakhir Inggris Bagi mempertahankan pengaruhnya Di Asia Tenggara dan Berpeluang mengancam kedaulatan Indonesia. Soekarno Setelahnya Itu Penolakan, tetapi berakhir diabaikan.

Puncaknya pun terjadi ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadikan Malaysia sebagai anggota DK Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menurut Andrew W. Cordier dan Max Harrelson Di Public Papers of the Secretaries-General of the United Nations (2010), Di hari deklarasi CONEFO, Kepala Negara Hingga-1 RI itu juga memutuskan Indonesia keluar Di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Hingga Di, Soekarno Akansegera menjadikan CONEFO sebagai penyeimbang Perserikatan Bangsa-Bangsa sekaligus alternatif atas dominasi AS (Blok Barat) dan Uni Soviet (Blok Timur). Tercatat, Bangsa anggota awalnya adalah China, Korea Utara, dan Vietnam Utara. Seketika, keputusan RI ini membuat dunia heboh. Sebab, Mutakhir kali ini ada Bangsa anggota yang memutuskan hengkang Di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Malahan, turut mendirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa tandingan. 

Sayang, usia CONEFO singkat. Seiring peralihan kekuasaan Di Di negeri, arah politik luar negeri Indonesia berubah. Di bawah kepemimpinan Kepala Negara Soeharto, CONEFO meredup. Indonesia juga ingin kembali bergabung Di Perserikatan Bangsa-Bangsa. 

Alhasil, Di 28 September 1966, Indonesia resmi diterima kembali sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Politik Luar Negeri dipulihkan, Pemberian Foreign kembali Masuk, dan Indonesia kembali terintegrasi Di sistem Dunia. Di sini sejarah mencatat, Indonesia Dari Sebab Itu sebagai satu-satunya Bangsa yang pernah keluar secara sukarela Di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan membuat organisasi tandingan. 

(mfa/luc)

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Dunia Heboh, AS Ternyata Tiru Langkah Indonesia Bikin Perserikatan Bangsa-Bangsa Mutakhir