Remehkan Pakar Berujung Maut Di Gelombang Laut Tinggi Raksasa Hantam PLTN Jepang




Naskah ini merupakan Dibagian Di CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah Sebagai menjelaskan Kepuasan masa kini lewat relevansinya Di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight diharapkan bisa membangun kesadaran Yang Terkait Di mitigasi bencana.

Jakarta, CNBC Indonesia – Tepat hari ini 15 tahun lalu, Jepang diguncang gempa raksasa berkekuatan M9 yang berlangsung Di enam menit. Gempa yang berpusat Di lepas pantai timur Jepang itu Sesudah Itu memicu Gelombang Laut Tinggi hingga setinggi 40 meter.

Gelombang besar tersebut menyapu Area pesisir dan menghancurkan banyak kota, termasuk kawasan Di Di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima.

Dampaknya, bencana tidak berhenti Di Gelombang Laut Tinggi.

Kerusakan parah Di pembangkit listrik tenaga nuklir itu memicu krisis Terbaru, yakni kebocoran radiasi. Radiasi menyebar hingga radius Di 20 kilometer Di lokasi reaktor. Dampaknya, puluhan ribu warga harus meninggalkan Rumah mereka. Tragedi ini menambah duka Sesudah Gelombang Laut Tinggi Sebelumnya Itu menewaskan Di 18.500 orang Di peristiwa yang dikenal sebagai Bencana Nuklir Fukushima 2011.

Diberitakan, akibat kebocoran radiasi nuklir ini memang tidak menimbulkan kematian langsung. Tapi, akibat penanganan medis yang buruk, dilaporkan setidaknya ada 50 Peristiwa Pidana Hukum kematian yang berkaitan Di dampak radiasi tersebut.

Bocornya reaktor nuklir Di Negeri yang dikenal sangat disiplin seperti Jepang Sesudah Itu memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana krisis sebesar itu bisa terjadi?

Salah satu penjelasan yang sering muncul adalah Kearifan Lokal Global kerja yang terlalu hierarki. Di banyak organisasi Di Jepang, bawahan cenderung menghindari konflik Di atasan dan Melakukanupaya menyenangkan pimpinan.

Di Indonesia, ini dikenal sebagai Trend Populer yang kerap disebut “asal bapak senang” atau ABS. Sikap ini membuat Penilaian atau peringatan sering kali tidak tersampaikan secara terbuka.

Kearifan Lokal Global tersebut sebagian Dikatakan berakar Di model konglomerasi Usaha lama Jepang yang disebut Zaibatsu. Mengutip situs Britannica, Di sistem ini, perusahaan besar biasanya dikendalikan Dari keluarga pendiri. Posisi manajemen penting sering diisi Dari orang yang Didekat Di keluarga pemilik, Supaya karyawan lain harus sangat berhati-hati Di menyampaikan Penilaian atau pendapat yang berbeda.

Situasi semacam ini juga disebut terjadi Di pengelolaan pembangkit nuklir Di Fukushima. Sejumlah laporan The New York Times, menyebut sebenarnya beberapa minggu Sebelumnya bencana terjadi, para ahli sudah menemukan indikasi kerentanan Di sistem pendingin reaktor.

Jika terjadi gempa besar, kerusakan tersebut Berpeluang membuat sistem pendingin gagal bekerja dan menyebabkan suhu inti reaktor Menimbulkan Kekhawatiran secara berbahaya. Akhirnya memang ini menjadi kejadian Di gempa 15 tahun lalu. 

Tetapi temuan tersebut tidak segera ditindaklanjuti secara serius. Pihak pengelola disebut tidak melakukan perbaikan besar maupun memanggil pakar tambahan. Informasi mengenai kerentanan itu juga tidak didorong menjadi keputusan strategis Di tingkat manajemen. Banyak pihak memilih diam Sebab khawatir Di konsekuensi profesional, termasuk kemungkinan Pembatasan atau kehilangan pekerjaan.

Sejumlah akademisi Jepang Sebelumnya Itu juga pernah merekomendasikan agar fasilitas nuklir Di Area rawan gempa diperkuat. Mereka menyarankan standar ketahanan yang lebih tinggi Di gempa besar dan Gelombang Laut Tinggi. Sayangnya, rekomendasi itu tidak berkembang menjadi Keputusan nyata dan lebih banyak berhenti sebagai kajian akademik.

“Jepang telah meremehkan risiko Gelombang Laut Tinggi sebagai serangkaian Kegagalan bodoh yang menyebabkan bencana,” ungkap Costas Synolakis, profesor Metode Sipil Di University of Southern California.

Di akhirnya, pelajaran yang didapat Di insiden PLTN Fukusuhima adalah mengabaikan kombinasi risiko alam yang sangat besar dan Kearifan Lokal Global organisasi yang terlalu tertutup dapat berujung Di petaka yang Akansegera menimbulkan kerugian lebih besar.




Foto: Pemandangan Di udara Menunjukkan tangki berisi air yang terkontaminasi dan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang meleleh. AP/
Pemandangan Di udara Menunjukkan tangki berisi air yang terkontaminasi dan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang meleleh. AP/

(mfa/mfa)



Add



as a preferred

source on Google



Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Remehkan Pakar Berujung Maut Di Gelombang Laut Tinggi Raksasa Hantam PLTN Jepang

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/