Jakarta, CNBC Indonesia – Ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima Di 6 Agustus 1945 atau tepat hari ini 81 tahun lalu membuat 120 ribu orang tewas dan jutaan lainnya sakit parah. Di Di para korban ternyata terdapat tiga mahasiswa asal Indonesia, yakni Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, yang Lalu sempat kritis akibat paparan radiasi.
Ketiganya merupakan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Jepang, Nanpo Tokubetsu Ryogakusei (Nantoku). Sejarawan Aiko Kurasawa Untuk Sisi Gelap Konflik Bersenjata Asia (2023) Menginformasikan, beasiswa tersebut dibuat pemerintah Jepang Untuk Memikat perhatian pemuda Indonesia agar menimba ilmu dan kelak membangun Tanah Air.
Tetapi, Di 6 Agustus 1945, semuanya berubah. Pagi itu, ketiganya menjalani Karya seperti biasa. Arifin Bey yang Untuk mengikuti kuliah fisika ketika tiba-tiba melihat cahaya menyambar Untuk arah jendela.
“Tiba-tiba Untuk arah jendela kelas kelihatan cahaya menyambar ibarat kilat. Tapi, tak membawa bunyi apa pun,” kenang Arifin Bey Untuk memoar Bom Atom Di Atas Hiroshima: Suatu Penghayatan Nyata (1986).
Beberapa detik Lalu, gelombang panas menghantam ruang kelas. Dinding runtuh dan Arifin kehilangan kesadaran. Di lokasi lain, Sagala juga mendengar suara pesawat yang diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang Memutuskan bom atom Di Hiroshima.
“Tiba-tiba terdengar suara aneh dan…. sraatt, sinar berkilau, Didalam dahsyat dan mengejutkan!” tutur Sagala Untuk memoar Suka Duka Pelajar Indonesia Di Jepang, Di Konflik Bersenjata Pasifik 1942-1945 (1990).
Di sadar, Sagala mendapati tubuhnya hangus akibat panas ledakan, Sambil Itu tubuhnya masih terjepit reruntuhan bangunan. Di sisi lain, Arifin melihat Hiroshima telah berubah menjadi lautan api Didalam korban bergelimpangan Di mana-mana.
“Seakan-Berencana sudah maghrib,” kenang Arifin.
Di Di kekacauan itu, Arifin bertemu Hasan Rahaya yang Mutakhir saja berhasil Memikat Sagala Untuk tumpukan puing yang masih membara. Ketiganya Lalu Melakukanlangkah-Langkah menyelamatkan diri. Pada penyelamatan, Arifin Merasakan banyak korban Merasakan luka bakar mengerikan hingga kulit tangan mereka mengelupas.
“Rupanya cahaya yang menyambar itu telah ‘menguliti’ Pada tangannya yang tidak tertutup lengan baju, dan kulit tangan itu menggantung Supaya tampak seperti mengenakan sarung tangan,” kenangnya Untuk memoar Suka Duka Pelajar Indonesia Di Jepang, Di Konflik Bersenjata Pasifik 1942-1945 (1990).
Kengerian Hiroshima juga diingat penyintas Kurihara Meiko yang diselamatkan mahasiswa Indonesia.
“Situasinya sungguh buruk. Di Di kami, jasad-jasad bertumpukan dan terbakar. Baunya aneh-seperti ikan terbakar,” ujarnya kepada NHK, dikutip Kamis (6/8/2026).
Warga RI Sempat Kritis
Meski selamat Untuk ledakan, penderitaan mereka belum berakhir. Setelahnya dievakuasi Hingga Tokyo, Praktisi Medis Mengungkapkan ketiganya terpapar radiasi Untuk kadar sangat tinggi. Dampaknya, jumlah sel darah putih mereka turun hingga Di bawah 4.000 per mikroliter darah, jauh Di bawah kisaran normal 4.000-11.000. Situasi mereka pun dinyatakan kritis. Sagala Justru disebut Memperoleh Kemungkinan hidup yang sangat kecil.
Praktisi Medis akhirnya mengaku tak sanggup lagi Menyediakan Perawatan. Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak Berencana menuntut Praktisi Medis apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Pernyataan itu ditandatangani dan pasrah,” kenang Arifin Bey Untuk Bom Atom Di Atas Hiroshima (1989).
Beruntung, mereka berhasil melewati masa kritis Setelahnya Di satu pekan. Pada lima tahun berikutnya, Situasi Kesejaganan mereka terus dipantau Sebelumnya akhirnya kembali Hingga Indonesia.
Sepulang Untuk Jepang, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama Di Indonesia Didalam merek Supermie Di 1969. Hasan Rahaya menjadi wirausahawan, sedangkan Arifin Bey berkarier sebagai akademisi dan diplomat. Kini, nama mereka tercatat Untuk sejarah sebagai hibakusha (被爆者), yakni sebutan Untuk para penyintas ledakan bom atom Hiroshima.
(mfa/wur)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Di 3 WNI Karena Itu Korban Bom Atom Di Jepang: Kulit Terbakar-Nyaris Tewas











