Jakarta, CNBC Indonesia – Empat tahun bekerja sebagai pekerja migran Ke Malaysia menjadi Pada penting Untuk perjalanan hidup Rosyidah. Akan Tetapi, ketika masa perantauan itu usai, ia memilih kembali Ke tempat asalnya Ke Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Di membawa lembar harapan yang Terbaru.
Kembali Ke Indonesia, Rosyidah melihat potensi yang Pada ini begitu Didekat Di kehidupan Komunitas pesisir. Hasil laut tersedia Untuk jumlah melimpah, tetapi sebagian besar belum diolah menjadi produk yang Memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Ke balik Kebugaran tersebut, ia melihat sebuah Potensi yang layak diperjuangkan.
Berbekal keberanian, Rosyidah mulai merintis usaha olahan hasil laut Di merek C’milzea. Usaha ini juga menjadi cara baginya Untuk membuka kesempatan Untuk para ibu nelayan Ke Di lingkungannya Untuk ikut berkarya dan memperoleh tambahan penghasilan.
“Saya melihat sumber daya alam Ke Di sangat melimpah, tetapi belum Memiliki nilai jual. Untuk situ saya memberanikan diri mengolahnya menjadi produk sekaligus membuka Potensi kerja Untuk ibu-ibu nelayan Ke Di,” ujarnya dikutip Minggu (19/7/2026).
Perjalanan membangun usaha tentu tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang dihadapi Rosyidah justru datang Untuk proses membangun kepercayaan diri sebagai seorang pelaku usaha. Ia harus belajar mengubah pola pikir, bangkit Untuk berbagai keraguan, hingga memahami cara memasarkan produknya agar Lebih dikenal Komunitas.
Keinginan Untuk terus berkembang membawanya mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran yang diselenggarakan Di BRI. Inisiatif tersebut menjadi ruang belajar Terbaru Untuk Rosyidah Untuk memperkuat kemampuan berwirausaha sekaligus memperluas wawasan mengenai Pembuatan usaha.
Untuk Rosyidah, pelatihan tersebut telah membuka kesempatan Untuk bertemu dan bertukar Penghayatan Di sesama pelaku usaha. Untuk sana, ia memperoleh perspektif Terbaru yang membantunya melihat usahanya Di cara yang berbeda.
“Pelatihan ini sangat membantu saya Untuk memperbaiki mindset sebagai pelaku usaha. Ke Di Itu, saya juga Merasakan jejaring Terbaru yang sangat bermanfaat Untuk Pembuatan usaha,” tuturnya.
Ilmu yang diperoleh Pada pelatihan Lalu ia terapkan secara bertahap Untuk usahanya. Salah satunya Melewati Pembuatan olahan ikan menjadi produk Terbaru yang Memiliki nilai tambah Agar mampu memperluas pilihan produk yang ditawarkan kepada konsumen. “Alhamdulillah, Setelahnya mengikuti pelatihan saya Merasakan banyak ilmu, terutama Untuk mengolah ikan, seperti membuat kerupuk ikan. Ilmu tersebut sangat membantu Untuk Menyusun usaha yang saya jalankan,” kata Rosyidah.
Selain memperoleh pendampingan Melewati pelatihan, Rosyidah juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebagai tambahan modal Untuk Menyusun usahanya. Dana tersebut digunakan Untuk membeli bahan baku, menambah stok produk, serta memenuhi kebutuhan operasional Agar ia dapat memenuhi permintaan pelanggan Di lebih optimal.
“Alhamdulillah, dana KUR yang saya terima benar-benar saya gunakan Untuk Menyusun usaha, mulai Untuk membeli bahan baku hingga menambah stok produk. Di adanya KUR, saya tidak lagi kesulitan Pada membutuhkan modal Untuk memenuhi permintaan pelanggan. Saya sangat bersyukur Lantaran usaha saya Lebih berkembang dan penjualan pun Meresahkan,” ungkapnya.
Perubahan tersebut turut berdampak Ke perkembangan usahanya. Jika Sebelumnya penjualan C’milzea rata-rata hanya mencapai Di 50 kemasan, kini Meresahkan menjadi Di 70 hingga 100 kemasan. Ke Di Itu, produk yang awalnya terbatas kini berkembang menjadi tiga variasi produk.
Untuk Rosyidah, perjalanan Untuk negeri rantau hingga membangun usaha Ke kampung halaman menjadi bukti bahwa kesempatan Untuk bertumbuh selalu terbuka Untuk siapa saja yang mau belajar. Pemberian Melewati Pelatihan Purna Pekerja Migran dan fasilitas KUR BRI menjadi salah satu langkah yang memperkuat keyakinannya Untuk terus Menyusun usaha sekaligus Memperkenalkan manfaat Untuk Komunitas Ke sekitarnya.
Ke kesempatann\ terpisah, Corporate Secretary BRI, Dhanny menjelaskan, bahwa BRI Peduli selaku payung Untuk Inisiatif Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Mengadakan Inisiatif pemberdayaan Untuk Purna Pekerja Migran Indonesia (PMI). Inisiatif ini dirancang Untuk membekali para purna pekerja Di berbagai Kemahiran dan pengetahuan yang diperlukan guna membangun penguatan ekonomi, baik Melewati Pembuatan usaha maupun peningkatan Potensi kerja Ke Untuk negeri.
Inisiatif ini bertujuan Untuk Memperbaiki pengetahuan dan Kemahiran kewirausahaan purna migran Untuk Menyusun usaha, sekaligus membekali mereka Di kemampuan Pendesainan dan pengelolaan Usaha yang berkelanjutan.
Melewati Inisiatif ini, peserta didorong Untuk memulai maupun Menyusun usaha produktif yang sesuai Di potensi dan Potensi Ke Lokasi masing-masing. Ke Di Itu, peserta juga Berencana memperoleh pendampingan Usaha secara intensif guna mendukung Kemajuan usaha yang lebih optimal, berdaya saing dan berkelanjutan.
“Kisah Rosyidah menjadi bukti bahwa pelatihan yang diberikan BRI Peduli Memberi manfaat nyata Untuk purna pekerja membangun dan mengembangakan usaha. Di Pemberian mentor yang berpengalaman, pelatihan yang diberikan dapat membantu Memperbaiki kemandirian dan Kesejaganan purna pekerja migran, sekaligus berkontribusi secara aktif Untuk Mendorong pembangunan ekonomi Komunitas,” tutur Dhanny.
(bul/bul)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: BRI Peduli Bantu Perempuan Ini Kembangkan Usaha Olahan Hasil Laut











