Market  

Bursa Asia Menguat, Mengekor Wall Street




Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia-Pasifik mayoritas menguat Ke perdagangan Kamis (20/8/2026), mengikuti Perawatan indeks utama Wall Street Setelahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor panjang turun Bersama level tertingginya Untuk beberapa tahun terakhir.

Melansir CNBC.com, sentimen pasar turut dipengaruhi Ide pemerintah AS Bagi Meningkatkan pembelian kembali surat utang jangka panjang guna meredakan tekanan Bersama Unjuk Rasa jual Ke pasar obligasi.

Ke Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,66%, Sambil Itu indeks Topix naik 0,57% Ke perdagangan Kamis. Penguatan juga terjadi Ke Korea Selatan Bersama indeks Kospi melonjak 3,11%, sedangkan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 2,26%.

Pasar saham Australia juga bergerak Ke zona hijau Bersama indeks acuan S&P/ASX 200 menguat 0,59%. Pergerakan positif bursa Asia terjadi Setelahnya indeks S&P 500 Sebelumnya berhasil menghentikan Gaya pelemahan Pada tiga sesi beruntun.

Perawatan S&P 500 terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang mulai turun Bersama level tertingginya Untuk beberapa tahun terakhir. Pemerintah AS Memperkenalkan langkah Bagi meredakan tekanan pasar Setelahnya Unjuk Rasa jual obligasi yang terjadi belakangan ini Mendorong kenaikan tajam Ke yield.

Departemen Keuangan AS mengatakan Akansegera Meningkatkan pembelian kembali atau buyback surat utang bertenor 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun menjadi lebih Bersama dua kali lipat Untuk beberapa bulan mendatang.

Aturan tersebut diumumkan Setelahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun Ke awal pekan ini melonjak Hingga level tertinggi Untuk hampir dua dekade.

Meski demikian, mantan Kepala Makro Wells Fargo Michael Schumacher menilai jeda tekanan Ke pasar obligasi tersebut kemungkinan tidak Akansegera berlangsung lama. Ia masih berpandangan negatif dan Meramalkan suku bunga jangka panjang Ke AS Akansegera kembali Meresahkan.

Menurut Schumacher, salah satu faktor utama yang Berpeluang Mendorong kenaikan suku bunga jangka panjang adalah besarnya defisit Biaya pemerintah AS yang belum Menunjukkan tanda-tanda Akansegera membaik.

Ke Di Itu, peningkatan belanja Defender juga diperkirakan Akansegera menambah tekanan, terutama Setelahnya konflik Ke Iran memperkuat kebutuhan pengeluaran pemerintah.

“Ke Perkara Hukum Hukum AS khususnya, ada defisit Biaya yang sangat besar dan tidak banyak tanda bahwa hal itu Akansegera membaik,” kata Schumacher Untuk wawancara Bersama CNBC.

Dia menambahkan bahwa tekanan tersebut sebenarnya sudah ada Sebelumnya konflik Ke Iran dan kini justru Lebihterus Meresahkan.

Menjelang perdagangan Kamis Ke Wall Street, investor Lanjutnya Akansegera mencermati rilis data klaim pengangguran mingguan AS. Ekonom yang disurvei Dow Jones Meramalkan klaim pengangguran awal Bagi pekan yang berakhir Ke 15 Agustus mencapai 210.000.

Selain data ketenagakerjaan, pasar juga Akansegera menantikan laporan kinerja keuangan Walmart Bagi kuartal II fiskal yang dijadwalkan dirilis Sebelumnya pembukaan perdagangan. Hasil kinerja perusahaan ritel tersebut Akansegera menjadi salah satu perhatian investor Untuk mengukur Kemakmuran belanja konsumen Ke AS.

(mkh/mkh)

[Gambas:Video CNBC]

Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Bursa Asia Menguat, Mengekor Wall Street

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/