Jakarta, CNBC Indonesia – Kemunculan Gunung Anak Krakatau Di 1927, Di 44 tahun Setelahnya letusan dahsyat Krakatau Di 1883, Memikat perhatian banyak orang. Salah satunya yang tidak mau ketinggalan adalah Gubernur Jawa Barat (Residen Priangan) Willem Pieter Hillen (1876-1941).
Di Januari 1928, Hillen mendatangi Anak Krakatau bersama istrinya, Residen Banten Putman Cramer, wartawan, dan peneliti. Rombongan berangkat Di Jumat malam, 20 Januari, menggunakan kapal uap pemerintah Wega yang Di itu berada Hingga Tanjung Priok.
“Rombongan pelancong, yang berangkat Di Jumat malam, 20 Januari, Didalam kapal uap pemerintah ‘Wega’ […] terdiri Didalam Gubernur Jawa Barat, Bapak WP Hillen, istrinya, dan Residen Bantam, Bapak Putman Cramer,” tulis koran Bataviaasch Nieuwsblad (24 Januari 1928).
Perjalanan tersebut dilakukan ketika Anak Krakatau Di aktif. Menurut arsip koran De Locomotief (20 Januari 1928), Pada sepekan Hingga Januari, gunung tersebut Merasakan letusan-letusan kecil berulang kali. Kegiatan itu diduga berasal Didalam kawah bawah laut yang Terbaru aktif.
Atas dasar itulah, Gubernur Jawa Barat dan rombongan melakukan lawatan Hingga sana. Setelahnya beberapa hari berlayar Didalam Jakarta, rombongan akhirnya mulai melihat tanda-tanda Kegiatan vulkanik Didalam kejauhan.
Pertama, Didalam arah ujung utara gunung yang telah runtuh, terlihat gumpalan uap tebal membumbung Hingga udara.
“Uap itu tebal, berminyak seperti endapan Didalam percobaan kimia. Benda itu sangat mudah bergerak dan jelas terdorong Hingga atas Didalam kekuatan yang luar biasa. Berkali-kali, seperti disebabkan Dari alat peniup udara yang sangat besar, tepat Hingga Di Pulau Panjang itu,” tulis wartawan yang ikut Di rombongan, dikutip Didalam Haagsche courant (20 Februari 1928).
Pemandangan itu Lebih jelas Setelahnya kapal Wega mengitari sudut selatan Pulau Panjang dan bergerak Hingga Di Pulau Terpencil. Didalam posisi tersebut, rombongan bisa melihat langsung apa yang terjadi Hingga permukaan laut.
Tiba-tiba, massa hitam pekat menyembur Didalam laut. Material itu melesat Hingga atas Sebelumnya jatuh kembali dan meninggalkan gundukan putih Hingga permukaan air. Didalam teropong, rombongan dapat melihat yang terlontar bukan sekadar air atau uap, melainkan bongkahan lava berukuran besar yang berpijar dan mengandung gas.
Sambil Itu air laur seketika menjadi mendidih. Permukaannya bergelembung, bergelombang, dan Menerbitkan uap. Warna air pun berubah-ubah, Didalam gelap menjadi biru pucat, kehijauan, hingga kuning seperti belerang Hingga Didekat pusat Kegiatan.
Pengamatan yang dilakukan rombongan tersebut sejalan Didalam catatan peneliti Dr. Stehn yang Menunjukkan bahwa Kegiatan Anak Krakatau memang Di sangat intens. Di 15 Januari 1928, Di empat jam pengamatan, tercatat 217 letusan, Didalam 18 Hingga antaranya mencapai ketinggian lebih Didalam 250 meter.
Sehari Lalu, jumlahnya melonjak menjadi 380 letusan, termasuk 29 letusan yang mencapai lebih Didalam 250 meter. Di 17 Januari, masih tercatat 55 letusan Didalam ketinggian lebih Didalam 250 meter. Tidak berhenti Hingga situ. Di Sabtu pagi Di pukul 07.30, salah satu letusan Justru melontarkan material hingga ketinggian 1.200 meter.
Akan Tetapi, semua yang dilihat rombongan Di siang hari ternyata belum seberapa dibandingkan pemandangan ketika malam tiba.
Ketika kapal berlabuh, rombongan kembali melihat kawasan letusan. Kali ini, Di gelapnya malam, kawasan tersebut berubah menjadi lautan cahaya merah. Bongkahan lava pijar terlontar Didalam laut dan melesat Hingga udara seperti bom magnesium. Ketika meledak, material itu menghasilkan cahaya putih terang yang menerangi permukaan laut.
“Dan kami, Hingga atas kapal Wega, yang berlabuh Hingga Pulau Panjang tidak jauh Didalam kawah, dapat Merasakan pemandangan mengerikan itu. Mengerikan!,” ungkap Haagsche courant (20 Februari 1928).
Bagi rombongan Hillen, perjalanan itu akhirnya bukan sekadar kunjungan Bagi melihat gunung api Terbaru. Mereka Merasakan Didalam atas kapal bagaimana Krakatau, yang pernah menghancurkan Selat Sunda Di 1883, kembali Menunjukkan kekuatannya, kali ini Melewati letusan bawah laut yang melontarkan lava pijar hingga ratusan meter Hingga udara.
(mfa/wur)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Gubernur Jawa Barat Nekat Naik Kapal Untuk Lihat Anak Krakatau Meletus











