Harga Bahanbakar Minyak Meroket, Pejabat RI Ini Tinggalkan Kendaraan Pribadi Dinas




Jakarta, CNBC Indonesia – Fluktuasi Harga bahan bakar Energi (BBM) ternyata pernah membuat seorang pejabat Ke Indonesia rela meninggalkan fasilitas mewah Bangsa.

Untuk menghemat Dana Ke Di Ketidak Stabilan Ekonomi, Ketua DPRD Bandung Mohammad Aten Hawadi tahun 1958 memilih berhenti memakai Kendaraan Pribadi dinas dan beralih menggunakan sepeda Untuk bekerja sehari-hari.

Kisah ini terjadi Ke akhir 1950-an Pada Kebugaran ekonomi Indonesia Lagi tertekan hebat. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Antara lain beras yang harganya tembus Rp10 per liter. Lalu, Energi tanah turut melonjak Di kisaran Rp1-1,5 per liter. Sambil Harga Bahanbakar Minyak meroket tinggi Di Rp1 Di Rp1,75 dan Rp2 per liter. 

Fluktuasi Harga tersebut membuat beban keuangan pemerintah Lebihterus berat. Berdasarkan pemberitaan Pikiran Rakyat (23 Juli 1958), Dana Bangsa Pada itu Merasakan defisit hingga Rp6 miliar. Situasi diperparah Dari pergolakan Ke berbagai Lokasi yang mengganggu stabilitas ekonomi dan politik nasional.

Kebugaran itu juga dirasakan pemerintah Lokasi, termasuk Kota Bandung. Justru, memasuki Oktober 1958, disebutkan kalau Ke kota tersebut BBM sudah mulai langka Sebab ada pengiriman pasokan Di Jakarta. Dampaknya, harga bahan baku lain meroket.

Ke Di keterbatasan Dana dan tingginya biaya operasional, Aten Hawadi memilih Membahas langkah yang tak biasa Untuk seorang pejabat.

Padahal, sebagai Ketua DPRD Bandung, dia berhak menggunakan Kendaraan Pribadi dinas sedan mewah Plymouth asal Amerika Serikat lengkap Di sopir dan biaya bensin yang seluruhnya ditanggung Bangsa. Tetapi, Ke Di mahalnya BBM dan tekanan Dana, fasilitas tersebut Dikatakan terlalu membebani keuangan pemerintah.

Atas dasar itu, Aten memutuskan mengembalikan Kendaraan Pribadi dinasnya dan mengganti kendaraan operasional Di sepeda merek Raleigh.

“Ketua DPRD Kota Bandung, Moh. A. Hawadi, telah menggantikan sedan Plymouth-nya Di sebuah sepeda merek ‘Raleigh’ Untuk kendaraan Di kantornya,” tulis Pikiran Rakyat (6 Oktober 1958)

Keputusan itu membuat Aten berbeda Di banyak pejabat lain Ke zamannya. Pada sebagian elite masih menikmati fasilitas Bangsa, dia justru memilih Kehidupan Kompleks Untuk menyesuaikan diri Di Kebugaran ekonomi rakyat dan pemerintah Lokasi yang Lagi sulit.

Langkah tersebut juga berdampak langsung Ke penghematan Dana. Di Keputusan sederhana itu, pemerintah disebut bisa menghemat hingga Rp18 ribu per tahun. Ini jumlah yang cukup besar Ke masa tersebut.

Sikap Aten Hawadi Lalu dikenang sebagai salah satu contoh efisiensi pejabat publik Ke Di Ketidak Stabilan Ekonomi dan lonjakan Harga Bahanbakar Minyak.

(mfa/mfa)



Add



as a preferred

source on Google



Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Harga Bahanbakar Minyak Meroket, Pejabat RI Ini Tinggalkan Kendaraan Pribadi Dinas

คุณสามารถเข้าสู่ระบบการเรียนรู้และฝึกฝนเทคนิคการเล่นได้ที่ https://pgth.uk.com/ทดลองเล่นสล็อต/