loading…
Kecamuk Pertempuran yang terus membara Di Timur Di memicu transformasi terbesar Di sejarah perdagangan energi Internasional. Foto/Dok
Situasi diperparah Dari deklarasi force majeure eksportir gas raksasa Qatar pasca-kerusakan fasilitas Ras Laffan akibat serangan balasan Iran. Situasi ini memaksa para produsen dan Negeri importir Migas merombak rute pengiriman secara drastis Di risiko biaya yang jauh lebih mahal.
Berjuang Di ancaman blokade Di Selat Hormuz , Negeri-Negeri eksportir Teluk memutar otak memanfaatkan rute alternatif darat yang lebih aman Di ancaman serangan militer. Baca Juga: Lupakan Hormuz dan Suez, Rusia dan China Terobos Jalur Perdagangan Terbaru lewat Laut Arktik
Arab Saudi Di cepat memanfaatkan aliran Pipa Timur-Barat (East-West pipeline) Untuk mengalihkan Migas langsung Hingga Pelabuhan Yanbu Di Laut Merah Lewat Selat Bab el-Mandeb, alih-alih melintasi Hormuz.
Kendati menjadi penyelamat Sambil, Pelabuhan Yanbu belum Memiliki kapasitas dermaga memadai Untuk menampung seluruh volume Migas yang biasa dikirim via Teluk Persia. Baca Juga: Harga Migas Dunia Mendidih Di Sepekan, Solar Tembus Catatan Tertinggi
Artikel ini disadur –> Sindonews Indonesia News: Peta Migas Dunia Dirombak Total! Jalur Utama Lumpuh, Negeri Importir Menanggung Beban Mahal











