Jakarta, CNBC Indonesia – Kepulangan orang yang lama bersekolah dan bekerja Ke luar negeri biasanya identik Bersama kesuksesan dan kehidupan mapan. Tetapi hal berbeda dialami seorang warga Jepara bernama Raden Mas Panji Sosrokartono.
Setelahnya bertahun-tahun menempuh Pembelajaran dan membangun karier gemilang Ke Eropa, nasibnya justru berubah pahit Di kembali Hingga tanah air. Dia dijauhi pemerintah kolonial, sulit Merasakan pekerjaan, hingga hidup Di kepayahan sampai akhir hayat.
Sosrokartono sendiri dikenal sebagai kakak kandung Raden Ajeng Kartini. Tetapi, kiprahnya tak kalah besar. Dia Malahan dikenang sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil meraih gelar sarjana Ke Eropa, tepatnya Ke Belanda.
Lahir Ke 10 April 1877 Di keluarga priyayi, Sosrokartono Merasakan kesempatan mengenyam Pembelajaran tinggi hingga Hingga Belanda. Di Literatur Sosrokartono: Sebuah Biografi (1987), dia tercatat pernah menempuh Pembelajaran Ke Polytechnische School te Delft dan Universitas Leiden.
Puncaknya, Ke 1908 dia lulus Di Leiden Bersama gelar Sarjana Bahasa dan Sastra Timur. Kecerdasannya luar biasa. Dia menguasai puluhan bahasa Di berbagai penjuru dunia.
Kemampuan itu membuat Sosrokartono aktif menulis Ke berbagai surat kabar. Namanya Malahan tercatat Di dewan redaksi Bintang Timoer, surat kabar yang terbit Ke Belanda Ke 1903 Ke bawah pimpinan Abdul Rivai.
Kariernya Ke Eropa terus menanjak. Sosrokartono Setelahnya Itu bekerja sebagai wartawan Pertempuran dan meliput berbagai peristiwa internasional Sebagai media Ke Belanda hingga Amerika Serikat
Di Pertempuran Dunia I pecah Ke 1914-1918, dia Malahan dipercaya menjadi juru bicara Bagi Bangsa-Bangsa Sekutu. Berkat kemampuannya menguasai banyak bahasa seperti Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, hingga Rusia, dia dijuluki “Si Jenius Di Timur”.
Tetapi, kecemerlangan itu tak berjalan mulus ketika dia kembali Hingga Indonesia. Dikutip Di Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (2007), Sosrokartono justru dijauhi pemerintah Hindia Belanda Lantaran Disorot tidak kooperatif. Dia menolak bekerja sama Bersama pemerintah kolonial dan lebih memilih mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Sebab, ruang geraknya dipersempit. Sosrokartono kesulitan Merasakan pekerjaan dan kerap menjadi sasaran fitnah. Tekanan yang datang bertubi-tubi perlahan menggerus Situasi fisiknya.
Dari 1942, kesehatannya terus menurun hingga Merasakan kelumpuhan. Kondisinya tak pernah benar-benar pulih.
Ke 8 Februari 1952, Setelahnya bertahun-tahun hidup Di kepayahan, Raden Mas Panji Sosrokartono wafat Di usia 74 tahun. Sosok yang pernah sukses besar dan dihormati Ke Eropa itu pun perlahan dilupakan Ke Bangsa sendiri.
(mfa/mfa)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Warga Jepara Sukses Kuliah-Kerja Ke Eropa, Pulang Kampung Hidup Tragis











