Jakarta, CNBC Indonesia – Aceh kembali berduka. Hujan yang turun tanpa henti Dari awal pekan memicu Bencana Alam dan longsor Ke hampir seluruh Daerah. Peristiwa ini seperti membuka kembali luka lama. Sebab 72 tahun lalu, Aceh, khususnya Aceh Besar, pernah Merasakan bencana serupa yang hingga kini dikenang sebagai yang paling parah Ke abad Ke-20.
Kejadiannya terjadi berlangsung Ke Rabu, 27 Januari 1953. Untuk laporan Suara Merdeka (3 Februari 1953), disebutkan bahwa dua hari Sebelumnya hujan deras mengguyur hampir seluruh Aceh tanpa henti.
Awalnya warga menganggap hujan itu biasa. Tetapi malapetaka datang Ke Rabu pagi, 27 Januari 1953. Ke Ditengah curah hujan ekstrem, air tiba-tiba meluap Bersama cepat, menerjang daratan dan permukiman. Menyapu apa pun Ke jalurnya.
“Bersama secara mendadak air deras masuk Ke Untuk kota. Penduduk yang tidak menduga-duga terjadi Bencana Alam tergesa-tergesa mencari perlindungan,” tulis Suara Merdeka (3 Februari 1953).
Warga yang panik segera berlarian Ke tempat lebih tinggi. Banyak yang tak sempat menyelamatkan diri dan terseret arus setinggi 1-2 meter. Harian Indonesia Raja (31 Januari 1953) menggambarkan bagaimana infrastruktur luluh lantak. Bangunan runtuh, jalan raya dan rel kereta terputus, serta pembangkit listrik lumpuh. Sebab, komunikasi dan transportasi berhenti total. Warga Ke luar Aceh Mutakhir mengetahui adanya bencana tiga hari Setelahnya Itu, Ke 30 Januari 1953.
“Sampai 30 Januari (3 hari Setelahnya bencana) hubungan komunikasi dan lalu lintas Lewat darat dan udara masih terputus total. Satu-satunya cara Untuk Ke lokasi adalah Bersama pesawat yang hanya beroperasi dua kali seminggu,” tulis Suara Merdeka (31 Januari 1953).
Untuk edisi 31 Januari 1953 lainnya, Suara Merdeka menggambarkan Aceh Besar berubah menjadi “lautan”. Pemerintah ketika itu Berkata peristiwa tersebut sebagai Bencana Alam terbesar Untuk sejarah Aceh. Perkebunan habis tersapu, dan listrik diperkirakan Mutakhir pulih Untuk waktu hingga tiga bulan.
Beberapa hari Setelahnya kejadian, pemerintah mencatat kerugian mencapai angka Rp60 juta. Ini nominal sangat besar Ke masanya. Korban jiwa diperkirakan puluhan orang dan ribuan lainnya hidup menderita perlu Dukungan secepatnya. Pemerintah juga menegaskan akar persoalan berada Ke Kegiatan penebangan hutan yang tak terkendali.
“Pihak berwajib menerangkan bahwa Bencana Alam besar ini terjadi Sebab hutan dan gunung Di Aceh Besar banyak yang telah ditebangi Bersama penduduk yang tidak menghiraukan arahan pemerintah,” ungkap de Locomotief (3 Februari 1953).
Ke Di bersamaan, Daerah Aceh Utara dan Pidie juga diterjang Bencana Alam akibat angin kencang dan hujan ekstrem. Sekolah serta kantor pemerintahan rusak parah. Bencana serupa terjadi pula Ke Tapanuli Ditengah, yang merusak masjid, sekolah, dan Tempattinggal warga.
Situasi ini Setelahnya Itu memancing perhatian nasional. Pemerintah pusat mengirim Dukungan besar. Mulai Bersama uang, Terapi-obatan hingga Ketahanan Pangan. Tetapi penyalurannya terkendala Sebab lokasinya terisolasi. Jalur darat dan udara terputus total.
Kini, lebih Bersama tujuh dekade Setelahnya Itu, Bencana Alam kembali menyapu Aceh. Peristiwa 72 tahun lalu menjadi pengingat bahwa hilangnya hutan bukan hanya mencederai alam, tetapi juga mengancam keselamatan manusia.
(mfa/wur)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Air Bah Gulung Aceh Gegara Hutan Ditebang, Ribuan Warga Menderita











