Jakarta, CNBC Indonesia – Bulan Januari tahun 1800, tepat 226 tahun lalu, menjadi Putaran Mutakhir Untuk sejarah Indonesia. Sesudah ratusan tahun mengeruk keuntungan Didalam Nusantara, perusahaan raksasa asal Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), resmi bubar. Akan Tetapi, kebangkrutan itu menyisakan satu pertanyaan besar, yakni Hingga mana seluruh aset VOC yang nilainya raksasa itu bermuara?
VOC bukan perusahaan biasa. Pada hampir dua abad beroperasi, kongsi dagang ini membangun imperium ekonomi yang mencakup gudang, kapal, benteng, tanah, jalur perdagangan, hingga jaringan administrasi yang membentang luas Hingga Nusantara. Didalam skala sebesar itu, kejatuhan VOC jelas tidak serta-merta menghapus kekayaan yang telah dikumpulkannya.
Hingga puncak kejayaannya, VOC Justru disebut sebagai perusahaan paling bernilai sepanjang sejarah. Lodewijk Petram Untuk The World’s First Stock Exchange (2014) menaksir nilai VOC mencapai Di US$1 miliar. Ini angka yang sangat fantastis Untuk ukuran abad Hingga-17. Kekayaan sebesar ini tentu tidak menguap begitu saja ketika VOC dibubarkan Di 31 Desember 1799.
Sejarah mencatat, aset VOC tidak hilang, melainkan berpindah tangan. Bernard H.M. Vlekke Untuk Nusantara: Sejarah Indonesia (2016) menulis, seluruh aset VOC diambil alih Didalam Negeri Belanda. Mulai Didalam infrastruktur dagang, kapal, benteng, tanah, hingga aparat dan pegawainya. Belanda juga mewarisi utang VOC sebesar 124 juta gulden.
Meski harus menanggung utang besar, proses ini justru menguntungkan secara struktural Untuk Belanda. Negeri tersebut tidak perlu membangun kekuasaan kolonial Didalam nol. Jaringan ekonomi dan birokrasi peninggalan VOC langsung dijadikan fondasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda, yang Sesudah Itu memperkuat cengkeraman Belanda Hingga Nusantara.
Akan Tetapi, satu hal yang perlu diingat dan sayangnya menjadi warisan buruk yang bertahan hingga kini adalah soal Penyalahgunaan Jabatan. Praktik inilah yang tercatat sebagai biang kerok kemunduran VOC.
Sejarawan M.C. Ricklefs Untuk Sejarah Indonesia Modern (1999) mencatat, kehancuran VOC bersumber Didalam tata kelola keuangan yang rapuh dan minim pengawasan. Kantor-kantor VOC Hingga berbagai Lokasi menjelma menjadi ladang Penyalahgunaan Jabatan, melibatkan pejabat Belanda maupun elite lokal.
C.R. Boxer Untuk Jan Kompeni (1983) menggambarkan praktik tersebut secara gamblang. Setoran kas Didalam Lokasi kerap dimanipulasi. Jika Batavia meminta setoran 15.000 ringgit, pejabat setempat, baik Didalam Eropa atau pribumi, bisa melaporkan angka dua kali lipat, Sambil selisihnya masuk Hingga kantong pribadi. Penyalahgunaan Jabatan pun berlangsung sistematis, bukan sekadar penyimpangan sesaat.
Akumulasi kebocoran keuangan itulah yang akhirnya menyeret VOC Hingga jurang kebangkrutan. Akan Tetapi, kejatuhan VOC tidak mengakhiri eksploitasi Hingga Nusantara. Aset dan infrastruktur yang ditinggalkannya justru menjadi modal awal Belanda Untuk membangun dan memperpanjang kekuasaan kolonial Hingga Indonesia.
(mfa/mfa)
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Perusahaan Raksasa Tumbang-Aset Diambil, Usai Bangkrut Gegara Penyalahgunaan Jabatan











