Jakarta, CNBC Indonesia — Harga Migas dunia kembali menguat Di Di meningkatnya kekhawatiran pasar Di gangguan pasokan Dunia akibat Konflik Bersenjata Di Timur Di.
Lembaga Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) Malahan memperingatkan volatilitas harga Migas Berpeluang Lebihterus liar menjelang puncak permintaan musim panas.
Ke perdagangan Kamis, harga Migas mentah acuan Dunia Brent Perjanjian Juli naik 0,34% Di level US$105,99 per barel. Ke Di Yang Sama, Migas mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat Perjanjian Juni menguat 0,43% menjadi US$101,45 per barel.
Fluktuasi Harga terjadi Setelahnya Organisasi Bangsa-Bangsa Pengekspor Migas (Organisasi Energi) memangkas proyeksi Perkembangan permintaan Migas Dunia tahun 2026. Untuk laporan bulanan terbarunya, Organisasi Energi menurunkan estimasi Perkembangan permintaan menjadi Disekitar 1,2 juta barel per hari (bpd), Untuk Sebelumnya 1,4 juta bpd.
Di sisi lain, produksi Migas Organisasi Energi juga terus Merasakan penurunan tajam. Produksi kelompok tersebut tercatat turun 1,7 juta bpd Ke April dan telah merosot lebih Untuk 30% atau Disekitar 9,7 juta bpd Dari Konflik Bersenjata Iran pecah Ke akhir Februari lalu.
Laporan terbaru Organisasi Energi juga diperkirakan menjadi yang terakhir memasukkan data Untuk Uni Emirat Arab Setelahnya Bangsa tersebut resmi keluar Untuk kartel per 1 Mei 2026.
IEA Untuk laporannya menyoroti dampak Konflik Bersenjata Iran Di pasokan energi Dunia. Menurut lembaga tersebut, lebih Untuk sepuluh pekan Dari Konflik Bersenjata Di Timur Di dimulai, gangguan pasokan Untuk Selat Hormuz terus menguras cadangan Migas Dunia Bersama Kelajuan yang belum pernah terjadi Sebelumnya.
“Bersama lebih Untuk 14 juta barel per hari pasokan yang terpangkas, total kehilangan produksi Untuk Bangsa-Bangsa Teluk kini telah melampaui satu miliar barel,” tulis IEA Untuk laporannya.
IEA juga memperingatkan bahwa gejolak harga diperkirakan Akansegera Lebihterus tinggi seiring mendekatnya periode permintaan energi musim panas.
Analis ING turut menilai arah harga Migas masih sangat bergantung Ke perkembangan Politik Global Di Timur Di. Untuk catatannya, ING menyebut durasi tingginya harga bahan bakar masih menjadi perdebatan besar Di pasar.
“Masa bertahannya harga bahan bakar Di level tinggi masih menjadi topik diskusi yang sangat intens dan sangat Yang Berhubungan Bersama Bersama perkembangan Politik Global Yang Berhubungan Bersama penutupan Selat Hormuz, serta potensi kerusakan infrastruktur Migas dan gas Di Timur Di akibat konflik lanjutan,” tulis analis ING, dikutip Untuk CNBC.com, Kamis (14/5/2026).
Pelaku pasar juga mencermati pertemuan Pemimpin Negara Amerika Serikat Donald Trump Bersama Pemimpin Negara China Xi Jinping yang dinilai dapat mempengaruhi arah pasar energi Dunia.
Mantan Pembantu Pemimpin Negara Perdagangan AS, Carlos Gutierrez, mengatakan China Memiliki kepentingan besar agar konflik segera berakhir Sebab Bangsa tersebut merupakan pembeli terbesar Migas yang melewati Selat Hormuz.
“Pemimpin Negara Xi ingin Konflik Bersenjata ini segera berakhir sama besarnya seperti Pemimpin Negara Trump menginginkannya,” ujar Gutierrez Untuk wawancara Bersama CNBC “Squawk Box Asia”.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Lembaga Energi Dunia Wanti-Wanti Harga Migas Bakal Makin Liar











