Jakarta, CNBC Indonesia – Sebagian besar keluarga kaya Asia memprioritaskan pelestarian kekayaan mereka. Tetapi, para crazy rich itu, ternyata tidak Memperoleh Wacana suksesi.
Hal ini diketahui Di survei Mutakhir Lombard Odier. Lombard Odier adalah bank swasta dan perusahaan manajemen kekayaan asal Swiss yang berbasis Di Geneva, yang fokus melayani nasabah kaya, Penanaman Modal Untuk Negeri, pengelolaan aset, dan private banking.
Survei ini dilakukan Pada lebih Di 390 individu kaya raya Di seluruh Asia-Pasifik. Mereka Memperoleh aset Penanaman Modal Untuk Negeri bersih setidaknya US$1 juta.
Ditemukan bahwa, 64,2% responden mengatakan, melestarikan kekayaan keluarga lintas generasi adalah prioritas utama mereka ketika Merencanakan Peralihan kekayaan. Akan Tetapi hanya 26,9% yang mengatakan keluarga mereka Memperoleh Wacana suksesi lengkap.
“Di 39,4% mengatakan mereka tidak Memperoleh Perancangan suksesi sama sekali,” kata survey tersebut dikutip CNBC International, Jumat (29/5/2026).
Temuan ini Membeberkan apa yang digambarkan Dari bank tersebut sebagai “kesenjangan niat-implementasi” Di Di keluarga-keluarga kaya Di Asia. Banyak Di antaranya masih kurang siap Walaupun kesadaran Akansegera risiko suksesi Lebihterus Meresahkan.
Masalah ini menjadi Lebihterus mendesak Lantaran Asia dan seluruh dunia Merasakan Peralihan kekayaan antar generasi yang besar. Terutama Di kalangan pengusaha generasi pertama yang bersiap Sebagai mewariskan Usaha dan kekayaan kepada anak-anak mereka.
Sambil Itu, Kepala Penanaman Modal Untuk Negeri Asia Lombard Odier, John Woods pun memberi peringatan. Ia mengatakan banyak keluarga berisiko menyia-nyiakan kekayaan tanpa kerangka kerja tata kelola dan Perancangan yang lebih kuat.
“Kekhawatiran seputar kontradiksi ini mengkhawatirkan saya,” kata Woods Untuk sebuah diskusi Perabot bundar yang menyertai peluncuran laporan tersebut, dikutip CNBC International, Jumat (29/5/2026).
“Jika mayoritas klien yang kami survei belum benar-benar memikirkan Perancangan kekayaan, mereka tidak Akansegera mempertahankan kekayaan mereka Untuk waktu lama,” tambahnya.
Asia-Pasifik, Jepang, Filipina, Malaysia, dan Hong Kong menonjol Untuk laporan ini. Kesiapan suksesi sangat lemah Supaya membuat triliunan harta mereka bisa hilang.
Survei tersebut juga menemukan bahwa banyak anggota keluarga yang lebih tua belum secara berarti melibatkan generasi muda Untuk diskusi tata kelola dan kekayaan. Lebih Di seperempat Di Generasi Baby Boomer yang disurvei mengatakan keluarga mereka belum Merundingkan tujuan bersama yang jelas Sebagai kekayaan.
Kekhawatiran sama juga diutarakan Kepala Perancangan kekayaan Lombard Odier Sebagai Asia, Louisa Loo. Ia mengatakan banyak keluarga kaya Di Asia terus menunda diskusi suksesi Lantaran sensitivitas Kearifan Lokal Global dan kurangnya urgensi.
Komunikasi tetap menjadi hambatan utama, terutama Di Asia. Di mana diskusi seputar warisan dan Peralihan kekayaan sering Dikatakan tabu.
“Hampir 29% responden mengidentifikasi kurangnya komunikasi terbuka sebagai tantangan tata kelola utama,” ujarnya.
“Ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi, yang sering terjadi, banyak keluarga Akansegera sama sekali tidak siap,” katanya.
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: Trend Populer Mutakhir Crazy Rich Asia, Harta Triliunan Terancam Ludes











