Rote Ndao –
Angin cukup kencang berembus Di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (19/8). Suhu Di 28 derajat Celsius terasa Di Ditengah Kegiatan Komunitas Di kabupaten yang berada Di Pada paling selatan NTT dan berbatasan Didalam perairan Indonesia-Australia.
Di Area kepulauan seperti Rote Ndao, Situasi geografis menjadi salah satu tantangan Untuk menjangkau Komunitas Didalam informasi dan layanan, termasuk Pembelajaran mengenai pengelolaan keuangan.
Hal itu menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Untuk Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi NTT 2026 yang digelar Di SMA Negeri 1 Rote Selatan. Pembelajaran diberikan kepada pelajar Bagi mengenalkan cara mengelola uang Sebelum dini, sekaligus Melakukan layanan keuangan formal Melewati rekening Simpanan Pelajar (SimPel).
Plt. Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata mengatakan Situasi geografis dan transportasi menjadi tantangan tersendiri Untuk menjangkau Komunitas Di sejumlah Area.
“Tentunya tantangan sosialisasi, literasi, dan Pembelajaran sampai Di Area pelosok ini pastinya ada. Terutama kita tidak bisa setiap Di Melakukan Kunjungan Di Area 3T mengingat tadi adanya keterbatasan transportasi,” kata Yan Jimmy Untuk rangkaian Puncak Hari Indonesia Menabung 2026 Di SMAN 1 Rote Selatan, Rote Ndao, NTT, Rabu (19/8/2026).
Adapun 3T merupakan singkatan Untuk Area tertinggal, terdepan, dan terluar. Menurut Yan Jimmy, Rote Ndao dapat dijangkau Melewati jalur udara maupun laut, tetapi Situasi cuaca juga dapat memengaruhi perjalanan.
“Bagi Area Rote, memang kita bisa menjangkau Melewati penerbangan maupun Melewati laut. Tetapi demikian, Lantaran iklim yang kadang berubah Di mana angin kencang Agar sering pembatalan Pada penyeberangan maupun penerbangan,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat kehadiran Pembelajaran secara langsung menjadi penting. Tetapi Bagi OJK, literasi keuangan tidak hanya berhenti Di pengenalan produk dan layanan keuangan.
Untuk Uang Jajan, Pelajar Belajar Mengelola Keuangan
Duta Literasi Keuangan OJK, Romualdus San Udika Jurnalos atau Sandi, membawa materi pengelolaan keuangan Di hal yang Didekat Didalam keseharian pelajar, yakni uang jajan.
Ia mengibaratkan pengelolaan uang seperti sampan yang digunakan Komunitas Rote Bagi melaut. Sampan yang Merasakan kebocoran tetap berisiko karam apabila terus dipaksakan berlayar tanpa diperbaiki.
“Dari Sebab Itu, sama Didalam kapal tadi, kapal bocor halus atau sampan bocor halus. Kalau kita paksa jalan, kita Berencana karam Di lautan. Itu alasannya kenapa, itu sama Didalam kita punya uang jajan. Kalau kita tidak rencanakan Didalam baik, maka dia Berencana bocor halus,” kata Sandi.
Menurutnya, kebiasaan mengelola uang perlu dibangun Sebelum sekolah. Pelajar dapat mulai menyisihkan sebagian uang yang diterima Sebelumnya digunakan Bagi kebutuhan lain.
“Dari Sebab Itu prinsipnya begini Adik-adik, ketika saya dapat uang bulanan, kalau harian kan Rp 5.000 Mungkin Saja terlalu kecil, tapi kita bisa mulai Didalam Rp 1.000 atau Rp 2.000. Kalau dapat uang Rp 50.000, langsung sisihkan. Sisihkan Rp 20.000 Bagi simpanan,” ujarnya.
Nominal yang disisihkan, lanjut Sandi, tidak harus besar. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan agar pelajar terbiasa menentukan prioritas penggunaan uang.
Kebiasaan itu Lalu diarahkan Melewati rekening Simpanan Pelajar (SimPel). Rekening yang diperuntukkan Bagi pelajar tersebut dapat menjadi sarana Bagi siswa Bagi mulai mengenal layanan perbankan sekaligus belajar menyimpan uang secara lebih teratur.
“Jangan cuma tabungan hari ini, besok uang sudah habis sudah tarik semua. Kalau tidak, Bapaknya ambil buat beli rokok kah, Mamanya ambil buat beli apa kah. Kalau bisa kita saling mendukung Inisiatif yang bagus itu menabung Untuk yang kecil angkanya,” tuturnya.
Bagi Sandi, rekening tersebut bukan sekadar tempat menyimpan uang. Keberadaannya dapat menjadi Pada Untuk proses Pertarungan Persahabatan Bagi pelajar Sebelumnya mereka memasuki fase kehidupan yang menuntut kemandirian Keuangan.
Literasi Dari Sebab Itu Bekal Sebelumnya Masuk Dunia Kuliah dan Kerja
Pembelajaran yang diberikan OJK juga mencakup pemahaman mengenai risiko penggunaan layanan keuangan. Pelajar diingatkan agar tidak mudah tergoda berbagai penawaran yang dapat merugikan, termasuk judi online, pinjaman online ilegal, maupun Penanaman Modal ilegal.
Sandi juga menjelaskan peran OJK yang Memiliki fungsi mengatur, mengawasi, dan melindungi Komunitas sebagai konsumen sektor jasa keuangan.
“Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 itu dibentuk fungsinya itu ada tiga: mengatur, mengawasi, dan melindungi. Melindungi itu yang penting juga,” kata Sandi.
Ia menilai pemahaman tersebut penting diberikan Sebelumnya pelajar memasuki perguruan tinggi maupun dunia kerja. Sebab, Di fase tersebut mereka Berencana mulai berhadapan Didalam kebutuhan dan keputusan Keuangan yang lebih beragam.
“Dan adik-adik SMA ini adalah target nasabah masa Didepan yang harus dikasih masukan dan pegangan kepada mereka ketika memasuki dunia kuliah dan kerja, bagaimana mengelola keuangan Didalam baik,” ujarnya.
Karenanya, literasi keuangan yang diberikan Sebelum sekolah diarahkan agar pelajar tidak hanya mengetahui keberadaan layanan keuangan, tetapi juga memahami cara menggunakannya secara tepat.
SimPel Dari Sebab Itu Pada Untuk Gerakan Satu Rekening Satu Pelajar
Pembelajaran Di Rote Ndao tersebut menjadi Pada Untuk Inisiatif Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) yang didorong Untuk momentum Hari Indonesia Menabung 2026. Inisiatif tersebut diarahkan Bagi memperluas akses pelajar Pada layanan keuangan formal sekaligus membangun kebiasaan menabung Sebelum usia sekolah.
Di NTT, implementasinya Ditengah lain dilakukan Melewati pembukaan rekening SimPel secara serentak Di berbagai Area. Gerakan tersebut melibatkan OJK, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten/kota, Bank NTT, satuan Pembelajaran, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa pembukaan rekening tidak boleh berhenti sebagai pencapaian administratif.
“Saya menegaskan bahwa Catatan ini bukan tujuan akhir. Catatan ini adalah penanda bahwa kita mampu bergerak bersama Untuk skala besar. Catatan selesai, tapi yang jauh lebih penting adalah membuat rekening yang telah dibuka tetap aktif, anak-anak kita terus menabung, dan Inisiatif ini kita bangun Melewati pendampingan yang berkelanjutan.”
Pesan tersebut memperkuat tujuan utama Inisiatif, yakni menjadikan rekening yang dimiliki pelajar sebagai sarana Bagi membangun kebiasaan Keuangan, bukan sekadar rekening yang dibuka Untuk sebuah seremoni.
Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk juga mengajak pelajar membiasakan diri menyisihkan sebagian uang jajan yang diberikan orang tua.
“Dari Sebab Itu seperti yang disampaikan tadi juga Dari berbagai narasumber bahwa Didalam momentum ini, Melewati kesempatan ini kami mengajak anak-anak Di Rote Ndao Bagi secara bijak menyisihkan Mungkin Saja yang diberikan uang jajan Dari orang tuanya, bisa disisihkan setiap hari atau setiap minggu, setiap bulan, menyisihkan sedikit Untuk uang jajan mereka Bagi mulai belajar menabung,” kata Paulus.
Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi Pertarungan Persahabatan Bagi anak Bagi belajar bertanggung jawab Pada uang yang dimiliki.
220.194 Rekening SimPel Dibuka Serentak
|
Foto: Rahmat Khairurizqi/detikcom
|
Gerakan tersebut Lalu menghasilkan capaian besar. Sebanyak 220.194 rekening SimPel berhasil dibuka secara serentak Di 22 kabupaten/kota se-NTT dan tercatat sebagai Catatan MURI pembukaan rekening SimPel secara serentak terbanyak.
Capaian itu sekaligus memperlihatkan skala kolaborasi Untuk memperluas akses layanan keuangan Bagi pelajar Di Area NTT. Tetapi, Bagi OJK dan pemerintah Area, jumlah rekening bukan menjadi akhir Untuk gerakan tersebut.
Justru Sesudah rekening dibuka, tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat pelajar terbiasa menggunakannya Bagi menabung secara rutin.
Hal tersebut sejalan Didalam pesan Gubernur NTT yang menekankan agar rekening yang sudah dimiliki pelajar tetap aktif dan digunakan Bagi membangun kebiasaan menabung.
Di sisi lain, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) turut Memberi Pembelajaran mengenai Perlindungan simpanan kepada peserta. Sub Manager Kantor Perwakilan LPS II Surabaya, Shabrina Kirgizia Hanum, mengingatkan bahwa Fleksi Bilitas layanan keuangan perlu diikuti pemahaman yang memadai.
“Dari Sebab Itu ada gap ya teman-teman Ditengah literasi dan juga inklusi. Dan ini sebenarnya tidak boleh Lantaran inklusi dan literasi ini harus berjalan beriringan,” kata Shabrina.
Materi LPS tersebut menjadi pelengkap agar pelajar tidak hanya mengenal rekening dan kebiasaan menabung, tetapi juga memahami pentingnya menggunakan layanan keuangan secara aman.
Karenanya, rangkaian Hari Indonesia Menabung Di Rote Ndao membawa pesan yang lebih luas Untuk sekadar pembukaan rekening. Bagi OJK, pengenalan SimPel menjadi salah satu pintu masuk Bagi membangun kebiasaan Keuangan pelajar Sebelum dini, mulai Untuk menyisihkan uang jajan, menentukan prioritas, hingga memahami risiko Sebelumnya menggunakan layanan keuangan.
Untuk kebiasaan sederhana tersebut, pelajar diharapkan Memiliki bekal Bagi mengelola keuangan secara lebih mandiri ketika kelak melanjutkan Pembelajaran, memasuki dunia kerja, dan Berusaha Mengatasi kebutuhan Keuangan yang Lebih beragam.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita: OJK Perluas Literasi Keuangan hingga Kabupaten Paling Selatan Indonesia











