
Jakarta –
Indonesia mengamankan kesepakatan Usaha Didalam China senilai US$ 2 miliar atau Rp 35,87 triliun (kurs Rp 17.936/Matauang Asing AS) Untuk forum Usaha yang diikuti perwakilan usaha kedua Negeri Ke kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (23/7).
Duta Besar Republik Indonesia Sebagai China Djauhari Oratmangun mengatakan Untuk forum Usaha kali ini pihaknya membawa Disekitar 30 perusahaan asal Negeri Tirai Bambu yang bergerak Ke sektor Keahlian masa Didepan, Energi Ramah Lingkungan, hingga Kesejaganan Sebagai bertemu Didalam mitra Ke Indonesia.
“Saya hadir Didalam kurang lebih 30 perusahaan Didalam Tiongkok bergerak Ke bidang Keahlian masa Didepan, innovation Keahlian dan yang kedua Ke bidang renewable energy. Dari Sebab Itu transformasi energi dan ada beberapa juga Ke bidang Kesejaganan,” ucap Djauhari Untuk konferensi pers Ke kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, Untuk forum Usaha inilah Indonesia berhasil mengamankan sejumlah kesepakatan Penanaman Modal Terbaru yang Berpotensi Sebagai memperkuat kerja sama ekonomi kedua Negeri.
“Itu yang telah kami kerjasamakan Di ini dan mereka telah hadir, dan tadi kami juga telah melaksanakan forum Usaha Ke mana telah menghasilkan beberapa kerja sama dan kesepakatan kurang lebih nilainya Disekitar US$ 2 miliar,” terang Djauhari.
Djauhari juga memaparkan kinerja perdagangan Indonesia dan China terus Menimbulkan Kekhawatiran Didalam waktu Hingga waktu. Ke mana Dari awal tahun hingga Juni kemarin, nilai perdagangan kedua Negeri mencapai Disekitar US$ 101 miliar Didalam surplus Sebagai Indonesia sebesar US$ 5,6 miliar. Begitu juga Didalam realisasi Penanaman Modal yang sudah mencapai US$ 10 miliar.
“Perdagangan Ditengah Indonesia dan Tiongkok tahun lalu itu Disekitar US$ 168 miliar. Tahun ini sampai Didalam bulan Juni sudah US$ 101 miliar, data Didalam kepabeanan China dan surplus Sebagai Indonesia US$ 5,6 miliar,” jelas Djauhari.
“Nilai Penanaman Modal Didalam Tiongkok Hingga Indonesia sekarang sudah mendekati US$ 10 miliar sampai Didalam bulan Juni dan mudah-mudahan ini positif terus sampai Didalam akhir tahun,” sambungnya.
Selain Penanaman Modal, Djauhari menyebut kerja sama kedua Negeri juga berlangsung Ke sistem pembayaran dan penggunaan Nilai Mata Uang lokal Untuk transaksi perdagangan. Hal ini terlihat Didalam implementasi transaksi menggunakan Idr dan yuan yang terus Menimbulkan Kekhawatiran hingga 200% Ke periode Januari hingga Juni 2026.
“Kita berlakukan kegiatan Usaha kita melakukan Idr dan Yuan peningkatan periode sampai data Didalam Bank Indonesia kalau tidak salah periode Januari sampai Juni itu Atas 200%. Lalu yang terakhir QRIS Dari bulan Mei yang lalu sudah bisa dipakai Ke seluruh daratan China. Dari Sebab Itu kalau Hingga sana nggak usah bawa cash lagi, pakai QRIS bisa,” tutur Djauhari.
Respons Pengusaha
Mewakili pihak swasta, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan pihaknya Berencana selalu terbuka atas setiap Potensi kerja sama dan kemitraan Usaha Didalam luar negeri, termasuk China.
“Kami Didalam pelaku usaha Indonesia siap Sebagai mau bekerja sama Didalam menjalin kemitraan Didalam perusahaan-perusahaan Didalam China. China adalah mitra dagang dan Penanaman Modal yang besar buat Indonesia,” ujar Shinta.
Ia menilai Potensi kerja sama Ditengah kedua Negeri masih sangat besar. Termasuk Didalam sejumlah kesepakatan yang berhasil diamankan Untuk forum Usaha Ke kantor Kemenko Perekonomian.
“Tadi juga banyak yang sudah menanamkan modalnya Ke Indonesia dan mereka juga perlu kita kawal Sebagai bersama-sama Didalam pelaku usaha Indonesia juga bersama-sama mengidentifikasi juga tantangan dan Potensi yang perlu kita terus kawal,” terang Shinta.
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia Berita: RI dan China Bidik Kerja Sama Usaha Senilai Rp 35 Triliun











