Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Pembantu Presiden Tim Menteri Belanda, Willem Schermerhorn (1945-1946), pernah melontarkan penilaian yang tak biasa Pada salah satu diplomat yang kelak menjadi Pembantu Presiden Tim Menteri Luar Negeri Hingga-3 RI, yakni K.H. Agus Salim. Dia mengatakan bahwa Agus Salim adalah sebagai sosok yang “melarat”.
Penilaian tersebut muncul Sesudah Schermerhorn melihat langsung sosok Agus Salim yang dikenal sebagai diplomat ulung Indonesia. Hingga satu sisi, Schermerhorn melihat Salim Memperoleh kemampuan bahasa yang luar biasa dan disegani Di perundingan internasional. Tetapi Hingga sisi lain, kehidupan pribadinya jauh Di kemewahan yang lazim melekat Ke seorang pejabat tinggi Bangsa.
“Orang tua yang sangat pintar ini (Agus Salim) seorang jenius Di bidang bahasa, bicara, dan menulis Didalam sempurna, paling sedikit sembilan bahasa, tapi punya satu kelemahannya yaitu Di hidupnya melarat,” tulis Schermerhorn Di Literatur harian berjudul Het Dagboek van Schermerhorn (1946).
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Meski menjabat sebagai Pembantu Presiden Tim Menteri Luar Negeri Ke 1947-1948 dan menjadi wajah Indonesia Di berbagai forum internasional, Agus Salim menjalani kehidupan yang jauh Di kemewahan.
Ke umumnya, diplomat tampil rapi Didalam Pengganti terbaik Sebagai membangun citra Hingga hadapan para utusan Asing. Tetapi Agus Salim tidak terlalu memedulikan hal tersebut, begitu pula Di bertemu PM Schermerhorn. Di Literatur Agus Salim: Peran dan Sumbangsihnya Bagi Indonesia (2024), disebutkan jas yang dikenakannya Di berbagai Peristiwa resmi sering kali terlihat kumal. Penutupkepala yang dipakainya pun bukan Barang Dagangan Terbaru.
Kesederhanaan itu bukan Lantaran dia berasal Di keluarga miskin. Agus Salim merupakan putra seorang jaksa Ke masa kolonial Belanda. Tetapi Sebelum muda dia memilih hidup apa adanya dan menjauh Di kemewahan.
Pilihan hidup tersebut terus dijaganya Justru ketika menduduki jabatan tinggi Bangsa. Di hidupnya, Agus Salim tidak Memperoleh Tempattinggal pribadi. Dia lebih sering tinggal Hingga Tempattinggal kontrakan dan berpindah Di satu tempat Hingga tempat lain.
Sejarawan Amrin Imran Di Literatur Perintis Kemerdekaan: Perjuangan dan Pengorbanannya (1991) mencatat, Ke era 1920-an Agus Salim pernah tinggal Hingga Tempattinggal kontrakan Hingga kawasan Tanah Tinggi yang jalannya berlumpur Di musim hujan. Ke kesempatan lain, dia juga pernah menumpang tinggal Hingga Tempattinggal seorang sahabat.
Sikap Kehidupan Sederhana itu terus melekat hingga akhir hayatnya. Agus Salim wafat Ke 4 November 1954. Meski tidak meninggalkan banyak harta, jasa-jasanya kepada bangsa Memperoleh penghormatan besar Di Bangsa.
Pemerintah memutuskan memakamkannya Hingga Taman Makam Pahlawan Kalibata Didalam upacara kenegaraan. Menurut Harian Merdeka (5 November 1954), Agus Salim menjadi orang pertama yang dimakamkan Hingga TMP Kalibata meski Di itu belum menyandang gelar pahlawan nasional.
Pemerintah juga meminta seluruh kantor pemerintahan dan Kelompok mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan atas wafatnya tokoh nasional tersebut. Sehari Sesudah Itu, Harian Merdeka melaporkan ribuan orang mengantarkan kepergian Agus Salim Hingga tempat peristirahatan terakhirnya. Pemimpin Negara, wakil Pemimpin Negara, serta para pejabat tinggi Bangsa turut hadir dan Menyediakan penghormatan terakhir.
Sebagai Pengakuan atas jasa-jasanya Di perjuangan kemerdekaan dan Hubungan Luar Negeri Indonesia, pemerintah Sesudah Itu menetapkan K.H. Agus Salim sebagai Pahlawan Nasional Lewat Keputusan Pemimpin Negara Nomor 657 Tahun 1961 yang ditetapkan Ke 27 Desember 1961.
(mfa)
Add
as a preferred
source on Google
Artikel ini disadur –> Cnbcindonesia Indonesia: PM Belanda Sorot Pembantu Presiden Tim Menteri Luar Negeri RI Ini, Bilang Begini











